 |

Sep 4, 2005
LINDA MARTINA
ISTRI MASKULIN DALAM PANDANGAN SUAMI PECUNDANG
Seorang isri harus dapat menopang karir suaminya. Inilah hal yang sampai saat ini masih sering terdengar dan bahkan masih diadopsi sebagai suatu hal yang mutlak dalam suatu keluarga. Keluarga yang sempurna digambarkan dengan suami yang mencari nafkah bagi keluarga dan istri yang sibuk mengurus rumah dan menunggu suaminya pulang. Namun, film American Beauty yang diperankan oleh Kevin Spacey dan Annette Bening ini justru memperlihatkan keadaan yang sebaliknya. Hubungan antara suami istri mendapatkan tempat yang cukup besar dalam film ini dengan adanya tokoh Lester Burnham sebagai tokoh sentral yang merasakan ketidakbahagiaan dalam usianya yang menginjak kepala lima karena kekecewaannya terhadap pekerjaan dan keluarga, terutama istrinya, Carolyn. Masalah dengan istrinya inilah yang tampaknya memiliki dampak paling besar dalam diri Lester hingga kemudian memunculkan berbagai masalah baru, baik bagi dirinya sendiri, istri, anak, dan juga lingkungan tempatnya tinggal. Melihat hubungan suami istri yang tampak dalam film ini seperti melihat hubungan antara maskulinisme dan femininitas dalam suatu lembaga perkawinan.
Film ini tampaknya mempertanyakan bagaimana maskulinitas melihat femininitas. Bagaimana femininitas yang seharusnya dalam pandangan pria, dalam hal ini adalah bagaimana seharusnya Carolyn bersikap dan bertingkah laku. Hal ini dapat terlihat dari sudut pandang yang digunakan dalam film ini, yaitu sudut pandang Lester Burnham sendiri. Dari sudut pandang itulah kemudian penonton dapat menilai bagaimana Lester melihat sikap dan perilaku istrinya dan kemudian menentukan mana yang pantas untuk dilakukan oleh istrinya tersebut.
Dalam kehidupan rumah tangganya, Lester terlihat ‘kalah’ dominan jika dibandingkan dengan istrinya yang terlihat sibuk mengatur segala sesuatu yang harus dilakukan atau dimiliki oleh keluarga mereka. Hal ini terutama terlihat saat adegan makan malam, dimana Carolyn memutuskan untuk selalu mendengarkan musik kesukaannya yang sebetulnya dibenci oleh Lester dan anak mereka, Jane. Contoh lain mengenai dominasi Carolyn atas kepemilikan benda yang patut keluarga mereka miliki dapat kita lihat dalam adegan ketika Lester membeli mobil baru dan Carolyn tampak menentangnya.
Ketidakbahagiaan Lester juga disebabkan karena kekecewaan atas ketidakpuasannya secara seksual. Ia dan Carolyn bahkan sudah tidak berhubungan sebagai suami istri selama 20 tahun. Hal itulah yang menyebabkannya sering sekali melakukan masturbasi. Hal ini bahkan telah ditekankan dari awal film dengan menggunakan pengulangan terhadap masalah masturbasi yang dialaminya tersebut sampai dua kali oleh dua orang yang berbeda: dirinya sendiri dan anaknya, Jane.
Lester mengungkapkan kepada penonton bahwa masalah masturbasinya ini demikian parah hingga pada saat mandi pun ia melakukan masturbasi. Di saat yang lain, anaknya juga mengungkapkan kekecewaan atas perilaku ayahnya yang dianggapnya memalukan karena "ia terus masturbasi" dan karena fantasi ayahnya atas temannya yang bernama Angela Hayes. Penggambaran objektifikasi Angela oleh Lester ini merupakan salah satu dari banyaknya pandangan maskulin (male gaze) dalam film ini. Sedangkan ‘female look’ yang terdapat dalam film ini hanya terlihat saat Jane sedang bersama pacarnya, Ricky Fitts, dimana tubuh Ricky yang telanjang diperlihatkan dari belakang.
Disisi lain, dominasi Carolyn sendiri dalam film ini sebetulnya memiliki ironi tersendiri. Hal ini terjadi karena Carolyn digambarkan sebagai seseorang yang selalu merasa ketakutan. Ia selalu takut akan kegagalan dan bahkan di saat-saat menjelang akhir film ia terlihat sangat tertekan dan berkata berulang-ulang, "I refuse to be a victim." Dan ia percaya bahwa untuk dapat meraih sesuatu yang diinginkan maka seseorang harus berjuang. Seperti kata-kata yang diucapkannya kepada anaknya, "You cannot count anyone except yourself." Ia juga sering terlihat menangis sendirian tatkala merasa bahwa dirinya gagal, seperti pada saat ia gagal menjual rumah yang menjadi tanggung jawabnya untuk dijual. Carolyn selalu berusaha mengatasi ketakutan-ketakutannya tersebut dengan mengadopsi nilai-nilai maskulin dengan menjalankan tugas yang "semestinya" dijalankan oleh laki-laki, yaitu mencari nafkah bagi keluarganya dan menjadi dominan dalam keluarga.
Carolyn diperlihatkan merasa kesal atas ketidakmampuan suaminya untuk bekerja dan menghidupi keluarga mereka dengan layak. Perasaan Carolyn ini diperlihatkan dalam salah satu adegan makan malam yang menceritakan bahwa Lester memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain yang bergaji lebih kecil. Ia menumpahkan kekesalannya dengan berkata bahwa dengan berhenti bekerja berarti suaminya telah menyuruhnya untuk menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga itu. Ini adalah salah satu adegan yang terjadi setelah pada akhirnya Lester mulai mengambil sikap atas dominasi yang dilakukan oleh istrinya dalam rumah tangga mereka.
Penggambaran dari dominasi Carolyn ini menjadi tanda akan dominasi perempuan sebagai ancaman atas kekuasaan lelaki dalam suatu sistem patriarki dan penggambaran ketakutan dan kondisinya yang tertekan merupakan salah satu "hukuman" atas ancaman yang disebabkan atas dominasinya tersebut. Hal ini ditambah dengan adegan dimana Carolyn pada akhirnya membunuh suaminya, Lester, yang terlihat seperti suatu usaha darinya untuk keluar dari ketakutannya akan dominasi suaminya ketika suaminya mulai berani membantah keinginannya. Setelah membunuh suaminya Carolyn tampak menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya. Terlihat dari adegan ketika ia menangis dan meratap di lemari pakaian Lester. Adegan tersebut masih ditambah lagi dengan penggambaran Lester yang tampak tersenyum dalam kematiannya. Adegan ini seperti mencerminkan kekalahan Carolyn dalam hubungan mereka.
Hal lain yang menegaskan bahwa film ini mengadopsi nilai-nilai patriarki terlihat dari perselingkuhan Carolyn dengan seorang lelaki developer sukses. Di sini diperlihatkan bahwa Carolyn sangat iri dengan kesuksesan dari laki-laki tersebut yang tampak seperti menyimbolkan ‘penis envy’ dalam diri Carolyn terhadap laki-laki tersebut yang kemudian terlihat sebagai alasan atas perselingkuhannya dengan pria tersebut. Hal tersebut juga dapat disimpulkan saat melihat adegan disaat mereka melakukan hubungan seksual, dimana Carolyn berteriak menyebut pria tersebut sebagai ‘raja.’ Di sini, diperlihatkan bahwa walau bagaimanapun dominannya Carolyn dalam rumah tangganya, tetap saja ia telah ditaklukkan oleh rasa irinya tersebut.
Perubahan sikap mulai ditunjukkan oleh Lester ketika ia mulai mengenal Ricky Fitts, tetangga sekaligus pacar anaknya. Ia mulai mengenal obat-obatan dan menjadikannya sebagai bahan pelarian. Karena pengaruh obat-obatan ini pulalah maka kemudian ia menjadi seorang pria yang tampak berbeda dan mulai menjadi pengambil keputusan atas dirinya sendiri, setelah lama sebelumnya istrinya tampak mendominasi segala keputusan termasuk keputusan yang menyangkut dirinya. Ia mulai berhenti dari pekerjaan yang dibencinya dan mulai ikut mengatur masalah yang terjadi dalam keluarga mereka. Karena perubahan inilah, Carolyn mulai merasa terancam akan kebebasannya dalam menentukan keputusan dan merasa bahwa dirinya wajib untuk menolak dijadikan sebagai korban. Dalam hal ini ketakutannya untuk menjadi korban tampak disebabkan oleh ketakutannya untuk menjadi inferior dari suaminya. Ketidakrelaan dirinya untuk membiarkan suaminya menjadi lebih dominan ketimbang dirinya.
Penggambaran karakter Carolyn tersebut seperti menunjukkan bahwa perempuan yang berusaha mengeluarkan pendapatnya dan menjadi lebih dominan ketimbang laki-laki cenderung menimbulkan sebuah masalah karena perempuan dalam pandangan maskulin cenderung berpikiran tidak logis dan lebih memakai perasaannya dalam menentukan keputusan-keputusannya. Karena alasan ini pulalah maka ketika selesai melihat film ini, saya cenderung berkesimpulan bahwa hancurnya kehidupan keluarga Burnham ini adalah karena kesalahan Carolyn. Walaupun hal ini tidak diperlihatkan secara langsung, namun penyalahan karena ketidakberhasilan suatu rumah tangga biasanya jatuh ke tangan perempuan. Ditambah lagi, perselingkuhan dalam keluarga ini dilakukan oleh Carolyn dan bukan oleh Lester, walau bagaimanapun parahnya masturbasi yang ia lakukan. Kesimpulan subjektif ini kemudian berubah ketika kemudian saya melihat bahwa Carolyn juga menjadi korban dalam film ini. Ia sebetulnya korban dari sistem patriarki itu sendiri, dimana ketakutannya atas dominasi pria bercampur dengan rasa irinya atas kekuatan yang dimiliki oleh mereka. Hal ini kemudian telah menjadikan keputusan, sikap, dan perilakunya menjadi sebuah kontadiksi dari nilai-nilai yang harus dianutnya.
Kesimpulan inilah yang tampaknya ingin diberikan dalam film ini sebagai suatu kritik terhadap perempuan, terutama perempuan-perempuan yang berusaha mandiri, bagaimana seorang perempuan dan khususnya seorang istri harus bersikap. Terbukti dari pemakaian sudut pandang dalam film ini, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Sudut pandang Lester dalam melihat istrinya ini telah membuat penonton mengidentifikasikan dirinya terhadap Lester dan mulai memandang dan menilai Carolyn seperti cara pandang Lester bahwa seorang istri diharapkan dapat menjadi suatu pribadi yang mengadopsi nilai-nilai femininitas dengan menjalankan peran sebagai seorang istri yang melakukan tugas-tugas domestik. Bahwa keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang independen adalah suatu hal yang mereka buat-buat sendiri dari ketakutan-ketakutan yang mereka ciptakan sendiri. Hal inilah yang menjadikan keputusan mereka pada akhirnya menjadi penyesalan bagi diri mereka sendiri. Carolyn adalah contoh dari hal ini ketika ia digambarkan menyesal atas keputusannya untuk membunuh suaminya, Lester.
Posted at 04:28 pm by feminist05
Permalink
LINDA MARTINA
PEREMPUAN DI TITIK NOL: KEBAIKAN SEORANG PELACUR
"Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat." Penggalan kalimat dari novel Nawal el – Saadawi Perempuan di Titik Nol ini sedikit banyak telah memberikan petunjuk dari isi novel itu sendiri yang merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat Mesir pada saat itu. Masyarakat yang sangat mengagung-agungkan patriarki dan mengkungkung segala hak-hak dan kebebasan seorang wanita. Keadaan sosial inilah yang pada akhirnya membuka mata seorang wanita pekerja seks, Firdaus, akan kehidupannya. Timbul kesadaran bahwa dia lahir bukan sebagai seorang pelacur, tetapi dibentuk untuk menjadi seorang pelacur. Ia percaya "bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk." (hlm.133). Kesadaran Firdaus untuk keluar dari lingkaran setan kekuatan patriarki ini terbentur oleh sistem patriarki yang berakar kuat di masyarakat. Kehidupan seorang pelacur dalam novel ini telah memberikan contoh kongkret akan kejamnya akibat dari suatu sistem patriarki di masyarakat atas kehidupan perempuan pada umumnya.
Novel ini menghadirkan kisah seorang perempuan terpidana mati yang mengalami berbagai ketidakadilan mulai dari masa kecil bersama ayah dan ibunya, masa remaja bersama pamannya, masa pernikahan, kemudian menjadi pelacur, beralih menjadi karyawati, sebelum akhirnya kembali lagi menjadi seorang pelacur. Dari sinilah kemudian tokoh Firdaus dapat membuat kesimpulan akan nasib dan permasalahan yang dialami oleh para perempuan dalam masyarakat patriarki, karena ia telah menjalani berbagai peran yang mungkin dijalani oleh perempuan: sebagai anak, istri, karyawati, dan pelacur.
Menurut saya, salah satu masalah pelik dan kompleks yang dihadapi perempuan akibat dari patriarki dalam novel ini adalah alienasi perempuan atas tubuh dan seksualitasnya. Hal ini tergambar sangat jelas dalam novel Nawal saat dia menceritakan nasib yang dialami oleh Firdaus. Dengan melihat jalan hidupnya, tidak hanya nasib seorang pekerja seks yang kemudian bisa diungkap, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tetapi juga nasib perempuan-perempuan lain seperti para karyawati perusahaan dan para istri.
Alienasi tubuh dan seksualitas yang dihadapi seorang pekerja seks tentu saja mendapat perhatian utama dalam novel ini dengan diangkatnya tokoh Firdaus sebagai karakter utama. Pada saat Firdaus menjual tubuhnya kepada laki-laki, maka pada saat itu pula ia kehilangan kontrol atas tubuhnya karena pada saat itu ia harus tunduk pada keinginan laki-laki untuk berbuat sesuka hati mereka atas tubuhnya. Uang yang didapatkannya dari pekerjaannya untuk memuaskan nafsu laki-laki itupun kemudian harus digunakannya kembali untuk mempercantik dirinya, yang dilakukannya lebih untuk mendapatkan perhatian lelaki dibandingkan untuk memuaskan dirinya sendiri. Selain itu seorang pekerja seks juga tidak memiliki kontrol reproduksi karena tuntutan pekerjaannya. Ia tidak bisa memiliki keinginan untuk memiliki anak dan harus selalu menggugurkan kandungannya.
Jika dibandingkan dengan alienasi yang dialami oleh karyawati perusahaan, Firdaus melihatnya hampir sama dengan para pekerja seks. Karyawati perusahaan juga menjual tubuhnya dalam bentuk tenaga dan juga pikiran untuk menghasilkan suatu p
Posted at 04:24 pm by feminist05
Aug 31, 2005
Veronika Decides to Die: When a Sexual Release Means Being Alive
Midterm Paper
Paulo Coelho’s Veronika Decides to Die:
When a Sexual Release Means Being Alive
By: Teraya Paramehta
Paulo Coelho, a Brazilian writer, is best known for mystical fables told in simple yet symbolic language. He has received wide popular acclaim both in Brazil and internationally for his work about spiritual quests of self-discovery. A recurring concept in Coelho’s books is the personal legend, in which his characters follow their dreams and pursue paths of self-discovery. Though they meet hardships along the way, only by staying true to their dreams can they achieve spiritual fulfillment. Coelho uses simple, clear language to blend religious and philosophical concepts in his work. Concerned with his teenage rebelliousness and desire to be a writer, his parents sent him to a mental institution, where he received electroconvulsive therapy (ECT), a therapy that uses a current of electricity through the forehead. From his experiences during in the mental hospital, he wrote a piece called Veronika Decides to Die, a novel with rich symbolism about a girl who tried to commit suicide because of her mental problem during her youth and how she finds the meaning of life through her sexuality.
Sets in Ljubljana, the capital city of Slovenia, Veronika is a twenty-four-year-old that has everything that a young woman ever dream of: beauty, fulfilling job, loving family, and she seems having no problem at all in her love life. Yet she decided to commit suicide by swallowing a large amount of sleeping pills and hoping that she will never wake up. The first reason why she decides to die is her unwillingness of experiencing the same routines in her life, and once her youth is gone she thinks that her life will be nothing but sufferings. The second is her philosophical reason, that she is tired of witnessing what is going on in the world; war, poverty, etc, that makes her feel even more powerless.
She takes sleeping pills and believes that it would end her life, however she does wake up in a mental hospital called Villete where is told she only has days to live because of heart damage by the sleeping pills. In the Villete, she meets two new friends, Zedka and Mari that helps her finding another perspective in seeing her life. Moreover, she meets Eduard, a schizophrenic, and they fall in love. Finally in her last days to live, she realizes the true meaning of life, but maybe it was too late for her to undo the suicide act that shortened her life. As the unique way of Coelho’s story-telling, the end of the novel is sweet, surprising, and left the reader enlightened.
In Veronika Decides to Die, besides the touching story about spiritual self-searching, there are three things that are related to feminism theories that uniquely depict in the writing of a male author. First, the symbolism of the insane that lives inside a cage of the mental hospital. Second, Veronika’s relationship with her parents. Third, sexuality as Veronika’s way in finding the true meaning of her life. All these three points: symbolism, relationships within the family structure, and sexuality, will be discussed with psychoanalytic framework. The last point leads to Veronika’s (and also her friends’) mental and psychological enlightenments that give her the idea of what it means to be alive. Even though Coelho did not show these ideas explicitly, we can see that the enlightenment that Veronika (and other character like Mari and Zedka) gets from the mental hospital creates a more positive and enlightened human being.
Since the beginning of the novel, Coelho already shows the difference nature of femininity and masculinity as shown in this line; “Shooting, jumping off a high building, hanging, none of these options suited her feminine nature. Women, when they kill themselves, choose far more romantic methods_ like slashing their wrists or taking an overdose of sleeping pills” [p. 3]. Based on this quotation, we can see that Veronika is positioned as a feminine (“None of these suited her feminine nature”) The act of taking sleeping pills reflect femininity because it is less daring than shooting, jumping off a high building, hanging, etc. Shooting or jumping involves adrenalin rush, while in the text Coelho writes that slashing their wrists or taking an overdose pills as far more romantic way to kill oneself than shooting, jumping, or hanging, as if woman is less daring than man to attempt suicide by doing an adrenalin rush act. This ‘romantic act’ is associated with woman, and in Veronika Decides to Die; a death because of taking an overdose sleeping pills is described as a feminine act. Therefore we can conclude that there are difference characteristics of femininity and masculinity in the novel, and this difference natural characteristic leads to the patriarchy social assumption that masculinity is more superior than femininity [Rosemary P Tong: Feminist Thought, p.190]
Ljubljana is described as a beautiful city where people keep doing the same routines in life. On the contrary, Villete mental hospital described as a prison, where the insane lives in isolation from the outside world and have to face the inhuman electricity shot treatment called electroconvulsive therapy (ECT) and all the doctors and nurses are the ruler in the society,
Villete came to symbolize all the worst aspects of capitalism: to be admitted to the hospital, all you needed was money […] Villete was the place from which no one had ever escaped, where genuine lunatics_ sent there by the courts or by other hospitals_ mingled with those merely accused of insanity or those pretending to be insane [p. 12 – 13]
The similarity of a prison and Villete is that the patient that has to be medicated in Villete was ‘accused’ of insanity. The word ‘accused’ is used as if the insane are criminals. The surroundings, the tall strong walls, the routines of the Villete is the similar like a jail, with all the masculine characteristic in the language (capitalism, walls, prison, etc) and the mean electroconvulsive therapy. Yet, the patients that are ‘accused’ of insanity were described as passive, narcistic, masochist, and vain, which according to Sigmund Freud as feminine characteristics. These feminine characteristics can be found in both in female and male characters. Veronika’s act of committing suicide is the act of masochism, and then she become very passive in waiting for her death to come. Zedka and Mari, both are narcistic (self-loving) characters; we can see this from their justification, arguments, and excuses for themselves about their insanity so that they seem right about everything. Eduard, the schizophrenic character is the most passive and vain character. Ever since he became schizophrenic, Eduard lives without interacting and communicating to the others, he lives in his own world where he is very passive and vain. Zedka and Eduard have to do the electroconvulsive therapy, where the divine rights of their own body is taken and forced to do the inhuman electricity shock therapy because there are ‘accused’ as lunatics. These passiveness, vanity, masochism, and narcisticism according to Freud are the ‘marks of womenhood’ [Susan Watkins: Twentieth-Century Women Novelist, p.86. Rosemary P Tong, p. 195] Even though Eduard is a man, he still represents the characteristic of ‘marks of womenhood’, it shows that the insane (no matter they are male or female) are the symbol of women that is oppressed. It also shows how man (in this case, represented by Eduard) is still possible to be trapped in the border. Based on all this characteristic of the setting and character, then we can conclude that the insane are the symbol of women that trapped inside the patriarchy society where everyone inside has to obey all the assumptions and norms of the society and the walls of Villete is the symbol of the border, a masculine superego that oppresses feminine desires that is seen as insanity.
The next point that we can find in the novel is a big role of family structure that shapes Veronika’s character. Veronika was described as a woman that had enough love from such a caring family. However, Veronika hates her mother as in this quotation depict:
Then she started to feel hatred for the person she loved most in the world: her mother. A wonderful wife who worked all day and washed the dishes all night, sacrificing her own life so that her daughter would have good education, know how to play the piano and the violin […] How can I hate someone who only ever gave me love? Thought Veronika, confused, trying to check her feelings. But it was too late; her hatred had been unleashed; she had opened the door to her personal hell. She hated the love she had been given because it had asked nothing in return, wich was absurd, unreal, against the law of nature. That love asking for nothing in return had managed to fill her with guilt, with the desire to fulfill another expectations, even if that meant giving up everything she had ever dreamed of [p.68-69]
We can see that her hatred to her mother explained her disappointments of her life, that she feels her life is ‘shaped’ like her mother wants her to be; a woman that is able to play piano, have good education, getting married someday and having children. In other words, a woman that lives in the symbolic order. Next, it is clear that Veronika experiences Oedipus complex, an attraction of love for the parent of opposite sex, with the corresponding jealousy of the parent of the same sex [Havelock Ellis: Psychology of Sex, p.73] We can see the evidence of this theory in this novel from the description about Veronika’s father and how Veronika loves her father as a man when she was young:
She hated her father too, because, unlike her mother, who worked all the time, he knew how to live; he took her to bars and to the theater, they had fun together; and when he was still young, she had loved him secretly, not the way one loves a father, but as a man. She hated him because he had always been so charming and so open with everyone except her mother, the only person who really deserved such treatment. [p.69]
Based on this quotation, however, there is an ambiguity about the jealousy of the parent of the same sex. It is possible that Veronika unconsciously jealous with her mother, yet she defends her mother by hating her father for abandoning her mother. This confusion then leads to Veronika’s depression and disappointment of her life that finally makes her decided to kill herself.
Another important point in Veronika Decides to Die is how sexuality plays a big role in her self-discovery. All of the Freud’s “marks of womanhood” that are mentioned above is happen when the characters; Veronika, Zedka, Mari, and Eduard have not get the enlightenment yet. One day Mari tells her to masturbate, to see how far she can go before death comes unto her. Veronika agrees and finds Eduard, the mute schizophrenic and masturbate in front of him. She let it all out and finally finds herself with multiple orgasms:
Veronika and Eduard are both standing up, face to face, she naked, he fully clothed. Veronika slid her own hand down to her genitals and started to masturbate; she had done it before, either alone or with certain partners, but never in situation like this, where the men showed no apparent interest in what was happening […] She wanted to die in orgasmic pleasure, thinking about and realizing everything that had always been forbidden to her [p.133]
From this quotation comes a question; what was the things that had been forbidden to her? The answer is clear, the openness to sexuality, more specific: wild desires. When finally Veronika finds her openness to her sexuality, it helps her find herself. As before she tries to find out how far she can go she never really understand herself; “Although she had known many men, she had never experienced the most hidden part of her own desires, and the result was that half of her life had been unknown to her [p.135]” and in “I discovered that I’m a pervert, doctor. I want to know if that played some part in my attempted suicide. There are so many things I didn’t know about myself [p.141]”
As we can see, Veronika identify herself as a pervert after she did this sexual act. Normally, this act is considered as an immoral act by the society. On the contrary, it is actually the release of Veronika’s Id; her unconscious that has no values, her pleasure principal, where all this time it has been oppressed by moral restrictions that involve punishment/reward in the society, the superego. By letting her Id out, it means that she let her unconscious take control of herself. She then relies that she had never explore herself before, and this might be her reason to attempt suicide. In other words, Veronika is breaking the border that oppress her unconscious, letting her Id out of the circle of ego and superego, left her with more question about herself that she has never known before. Finally, this curiosity leads her willingness to be alive and knowing herself better.
After the masturbation as her sexual release, she finds out that Eduard is cured. He is no longer a schizophrenic and he can interact as well as communicate with the society. They planned to get out of Villete and enjoy Veronika’s last days alive. Veronika shares her experience with Mari and Zedka, and finally both Mari and Zedka experience enlightenment too from Veronika that is changed from a passive and depressed person to a woman that more appreciate life.
The enlightenment Veronika and her friends get is from Veronika’s sexual awakening. After they got enlightened and realize how they should live their live, the “marks of womanhood” character in them has transformed into people who appreciate life more than ever that one example can be seen in Mari’s letter for her friends in the Villete about how she changes with the symbolism of an aquarium and fountains as her life:
When I was still a young lawyer, I read some poems by an English poet, and something he said impressed me greatly: ‘Be like the fountain that overflows, not like the cistern that merely contains’. I always thought he was wrong. It was dangerous to overflow, because we might end up flooding areas occupied by our loved ones and drowning them with our love and enthusiasm. All my life I did my best to be a cistern, never going beyond the limits of my inner walls […] We lived together like fish in an aquarium, contented because someone threw us food when we needed it, and we could, whenever we wanted to, see the world outside through the glass […] I learned something important: Life inside is exactly the same outside [p.198]
Before Mari and Zedka knows Veronika, they had a dark past with insanity, Zedka with her depression and Mari with her paranoia. They are trapped in a society that ‘accused’ them as a lunatic people inside the Villete, just like women that are oppressed in the patriarchal society. Both Mari and Zedka finally decide to get out of the Villete too, and they move on with their own plan as an independent, cured, human being. Their ‘walk-away’ from the wall of the Villete for their freedom is a fulfillment of all kind of feminist’s utopian dreams; being liberated from the wall of negative patriarchal social assumption about woman.
At the end, Veronika and Eduard are together in the city center, and Veronika not die. She was secretly become the object of a new kind medicine for her heart damage by her doctor, dr.Igor. She does not even know that she is actually cured, and finds that every day is a miracle for her life.
From the discussion above, Coelho uses sexuality as one important aspect in self-development. Therefore he shows that to be liberated from oppression is to get to know our self as a being. With the symbol of the Villete, the lunatics, the patriarchy society and the utopian feminist dreams of liberty, supported the characters, Veronika Decides to Die reflects how sexual discovering as one of the powerful way to be released from oppression and a reason to keep alive.
Bibilography
Amiruddin, Mariana. ”SEX and TEXT (Sexts): Konsep Pembebasan Seksualitas Perempuan Lewat Sastra”. Jurnal Perempuan No.30: Perempuan dalam Seni Sastra. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan. 2003
Arivia, Gadis. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan. 2003.
Barker, Chris. Cultural Studies: Teori dan Praktik (Terj.) Yogyakarta: Kreasi Wacana. 2004.
Brooks, Ann. Posfeminisme dan Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif (Terj.). Yogyakarta: Jalasutra.
Coelho, Paulo. Veronika Decides to Die. NY: Harper Perennial. 2001.
Ellis, Havelock. Psychology of Sex. NY: The New American Library. 1938.
Hidayana, Irwan M, dkk. Seksualitas: Teori dan Realitas. Depok: Program Gender dan Seksualitas FISIP UI. 2004.
Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis (Terj.) Yogyakarta: Jalasutra.
Watkins, Susan. Twentieth-Century Women Novelists. NY: Palgrave. 2001.
Wright, Elizabeth. Psichoanalitic Criticism: Theory in Practice. London: Routledge. 1989.
Posted at 03:14 pm by feminist05
Permalink
Aug 30, 2005
Perempuan dan Hantu Pemintal Kegelapan:
Janus dalam Realita
Sebuah Analisa atas Cerpen “Pemintal Kegelapan” karya Intan Paramaditha
Nosa Normanda/ Final Term Paper
Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran anda ketika mendengar kata-kata alat pemintal, setan perempuan, pemburu yang gagah, cermin, dan kegelapan? Korelasi yang paling mungkin adalah: dongeng. Di dalam dongeng dapat kita temukan alat pemintal dalam kisah Putri tidur, setan perempuan yang selalu muncul dalam bentuk perempuan antagonis dan iblis pada dongeng-dongeng istanasentris dan legenda-legenda urban, pemburu yang gagah yang muncul dalam dongeng-dongeng seperti Putri Salju dan si Jubah Merah, cermin yang menjadi alat narsis dan ambisi kecantikan ratu cantik ibu tiri Putri Salju, dan kegelapan yang menjadi latar belakang kekuatan monster-monster perempuan dalam kisah-kisah Grimm dan legenda-legenda urban.
Di dalam cerpen “Pemintal kegelapan” karya Intan Paramaditha pada kumpulan cerpen Sihir Perempuan, elemen-elemen dongeng diatas dicampur secara apik dengan situasi yang seringkali dihadapi perempuan modern yang terkungkung diantara sistem masyarakat dan kewajibannya sebagai ibu juga ambisinya sebagai manusia. Simbol-simbol yang dipakai, tersusun secara rapi diantara isu-isu tentang penderitaan perempuan dan perkembangan mentalnya dalam merepresi masalah-masalah yang dihadapinya. Dalam essay ini, akan didiskusikan bagaimana cerpen tersebut menggunakan simbol-simbol mitos dan dongeng dalam merepresentasikan perjalanan hidup tokoh yang menjadi objek utama cerpen dan analisa dari sudut pandang sosial dan psikoanalisis.
Penggunaan Elemen Dongeng dalam Merepresentasikan Perempuan
Beberapa tulisan tentang sejarah penulisan dan pemikiran feminis, yang menyelidiki tentang asal mula pembentukan stereotip perempuan oleh sistem patriarki, menyimpulkan bahwa dongeng-dongeng, mitos-mitos tentang dewi, bidadari, monster, dan setan-setan perempuan, bahkan deskripsi perempuan dalam kitab suci memiliki andil yang cukup besar dalam pembentukan oposisi biner perempuan. Dualisme seperti Bidadari-Monster, Malaikat-Iblis, Istri-Pelacur, terbentuk melalui dongeng-dongeng dan mitos-mitos tersebut. Hal ini membentuk persepsi dalam diri setiap perempuan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang pasif dan reseptif, tidak mempunyai diri (the self), dan tunduk pada sistem “sang ayah” yang ada, seperti Putri Tidur, Putri Salju, atau Cinderella. Sedangkan perempuan jahat yang buruk adalah perempuan yang aktif, kreatif, dan pemberontak seperti Lilith atau ibu tiri Putri Salju. “Pemintal Kegelapan” menyajikan suatu kisah tentang sisi lain perempuan yang menghapus dualisme tersebut melalui simbol-simbol pada dongeng dalam cerita.
Untuk mengerti lebih jauh tentang penerapan simbol pada dongeng dalam cerpen “Pemintal kegelapan”, ada baiknya kita melihat seperti apa setan perempuan yang ada di dalam cerpen tersebut. Sang narator “Aku” menceritakan kisah yang didongengkan ibunya kepadanya, bahwa
“Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Wajahnya penuh guratan merah kecoklatan, seperti luka yang mengering setelah dicakar habis-habisan oleh macan. Bola matanya berwarna merah seperti kobaran api. Bila ia membuka mulutnya kau akan melihat taring-taring yang panjang” [hal. 10]
Si hantu perempuan mampu berubah wujud menjadi perempuan cantik pada siang hari, dan berubah kembali menjadi hantu buruk rupa di malam hari. Suatu hari ia jatuh cinta pada seorang pemburu dan hampir menikah, tetapi gagal ketika si pemburu tahu wujud aslinya. Awalnya ia begitu marah ketika pria itu meninggalkannya tetapi akhirnya ia menyerah pada perasaan cintanya lalu bersembunyi didalam loteng untuk memintal selimut bagi kekasihnya; “Pekerjaan itu tak pernah selesai karena si hantu perempuan tidak menggunakan benang untuk selimutnya. Ia memintal kegelapan.” [hal. 13]
Kisah di atas diceritakan kepada narator “aku” oleh ibunya ketika ibunya masih menjadi ibu rumah tangga yang bersuami. Dalam beberapa bagian cerpen terdapat beberapa hints tentang bagaimana kisah tersebut merupakan representasi kehidupan dan alienasi diri sang Ibu. Kita akan membahas lebih lanjut tentang hal ini lebih lanjut pada bagian lain essay ini.
Dongeng yang diceritakan diatas memperlihatkan suatu situasi dimana seorang pria dapat mencintai bagian dari wanita yang dianggap baik, cantik, dan ideal, tetapi menolak bagian lain yang buruk, menyeramkan, dan memiliki kekuatan. Awalnya si pria mengkhayalkan mimpi-mimpi untuk menikah dengan hantu perempuan yang menyamar itu dan “hidup di tepi sungai” bersamanya. Si hantu pun terbuai dengan rayuan si pemburu yang menjanjikan rumah yang kecil, tetapi “setiap saat terdengar gemericik air dan derai tawa anak-anak.” [hal. 11-12] Pola pikir seperti ini layaknya seperti sebuah impian pasangan abad 20 awal sebagai keluarga ideal seperti dalam serial klasik “Little House on The Prairie” pada tahun 1960-an.
Sang Pemburu, kekasih si hantu perempuan, adalah tokoh yang maskulin dan aktif. Ia mengatakan kepada kekasihnya, hantu perempuan yang menyamar, bahwa ia ingin mencari singa berbulu emas di dalam hutan. Niat pencarian singa ini adalah sebuah deskripsi tentang lelaki yang kuat dan aktif yang diidolakan dalam dongeng-dongeng. Penolakan si pemburu terhadap wujud asli si hantu perempuan adalah simbol suatu pelarian, suatu pernolakan terhadap bagian lain dari perempuan. Suatu penekanan tentang bagaimana patriarki menolak dan takut kepada sisi lain dari perempuan, sisi yang sesungguhnya.
Rasa kecewa dan marah si hantu terhadap kekasihnya yang dilampiaskan melalui kegaduhan-kegaduhan yang ditimbulkannya di antara masyarakat adalah sebuah representasi dari keaktifan dan kreativitas perempuan yang dianggap jahat dan destruktif. “Sungguh-sungguh ia murka. Ia terbang dari rumah ke rumah membuat gaduh mengganggu ketenangan manusia. Bayi menangis kala merasakan kehadirannya dan pemuka agama sibuk komat-kamit mengusirnya.” [hal 12-13] Kemarahan si hantu yang dilampiaskan pada masyarakat dapat diinterpretasikan sebagai pemberontakan atas penolakan eksistensinya oleh kekasihnya dan masyarakat sendiri. Bayi-bayi yang menangis menyimbolkan bayi-bayi yang terbengkalai oleh keaktifan perempuan, ketika yang datang pada mereka hanya bayangan perempuan; hantu. Penyimbolan ini sejalan dengan mitos-mitos tentang bayi-bayi yang dapat merasakan kehadiran hantu atau makhluk halus yang lain. Komat-kamit pemuka agama adalah dapat dilihat sebagai sebuah simbol atas perseteruan yang sering terjadi antara agama dan kebebasan perempuan. Ketakutan atas kekuasaan perempuan. “Tetapi suatu hari hantu itu sadar bahwa dengan merusak ia tetap tak bisa mematikan rasa cintanya kepada sang pemburu.” [hal. 13] Hal ini membuat si hantu berkorban dengan bersembunyi di loteng rumah dan memintal kegelapan untuk selimut kekasihnya. Loteng biasanya adalah tempat paling misterius di dalam sebuah rumah. Tempat gelap yang seringkali muncul dalam novel-novel misteri sebagai sarang hantu. Pekerjaan memintal yang memakan waktu beribu-ribu malam dan tak akan pernah selesai ini adalah sebuah simbol perasaan yang ditumpuk dan di represi. “Hantu perempuan yang memendam cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah---memintal gairah pekat tanpa henti, tanpa selesai” [hal. 18] adalah suatu kesimpulan tentang definisi memintal kegelapan.
Penjabaran di atas adalah suatu interpretasi dari dongeng di dalam cerita “Pemintal Kegelapan.” Sebuah interpretasi dari cerita di dalam cerita yang koheren dengan kenyataan yang terjadi dalam cerpen tersebut. Dongeng tentang hantu perempuan, atau tokoh antagonis perempuan dapat dilihat sebagai simbol pendangan laki-laki/masyarakat patriarki terhadap perempuan yang buruk dan tidak ideal. Dalam bagian selanjutnya kita akan melihat bagaimana dongeng itu terimplementasi dalam kehidupan nyata sang tokoh utama.
Pararelisme antara Dongeng dengan Realita
Narator cerita “Pemintal Kegelapan” menceritakan dua hal dalam narasinya: Misteri di loteng yang selalu dilarang ibunya untuk diketahui dan fase serta peran ibunya sebagai ibu rumah tangga, single parent, dan janda. Antara dua hal yang dinarasikan oleh “Aku” terdapat suatu hubungan yang menyebabkan paralelisme pada keseluruhan ceritanya. Pada bagian ini, akan didiskusikan bagaimana paralelisme itu terjadi melalui kehidupan sang ibu; bagaimana dongeng itu terimplementasi ditilik dari segi sosial dan psikoanalitik. Sang ibu yang menjadi objek utama cerpen ini mengalami tiga tahap hidup yang seringkali dialami perempuan modern: tahap ibu rumah tangga, tahap single parent/janda, dan masa tua.
Dalam cerpen Pemintal Kegelapan, si ibu digambarkan sebagai orang yang sering menyembunyikan masalah dari anak perempuannya. Hal ini disadari ketika “aku” berusia 16 tahun. “Semakin bertambah usiaku, semakin aku yakin bahwa ibuku memang menyimpan sesuatu, kusadari sejak lama ia sering bersikap aneh.” [hal. 15] Sikap-sikap aneh tersebut di gambarkan seperti ketika suatu malam, si ibu bertengkar hebat dengan suaminya, ketika pagi ia tetap terlihat ceria di depan putrinya; atau ketika ibunya secara sengaja memecahkan piring di dapur; atau ketika ibunya berteriak dari dalam kamarnya pada malam hari dan sewaktu ditanyakan mengapa, ia menyangkal kejadian itu. Berdasarkan psikoanalisis freudian, dapat dilihat bagaimana super-ego sang ibu mengendalikan Id dan Ego-nya. Ditinjau dari sisi psikoanalisis, si ibu nampak sering merepresi perasaan dan segala masalahnya yang ditunjukan melalui sublimasi yang dilakukannya melalui tindakan-tindakan aneh tersebut.
Sang ibu adalah contoh kehidupan paralel seorang perempuan. Posisi sebagai ibu rumah tangga di depan mata anaknya, pekerja di dunia kerjanya, dan janda di lingkungan sosialnya membawa masalah tersendiri bagi si ibu. Dari tiga posisi itu, masalah yang terbesar datang dari lingkungan sosial yang tidak mendukung bahkan menggunjing yang tidak-tidak dari seorang janda yang bekerja.
Ketika si ibu sebagai janda mulai berhubungan dengan pria-pria lain, lingkungan sosialnya mulai meluncurkan kritik-kritik negatif. “Seorang tetangga sempat bertanya ketika aku menyiram pekarangan, ”yang mana yang akan jadi ayah barumu?” Terlalu banyak laki-laki yang datang kerumah, dan ini menyebabkan timbulnya gosip-gosip yang memerahkan telinga.” [hal. 14] Belum lagi efek hal ini terhadap tokoh “aku” sebagai anak. Walaupun tokoh “aku” seperti tidak begitu perduli dengan gosip, tetapi ini menjadi hal-hal yang dipikirkan sang anak. Segala gosip dan tuduhan itu “berseliweran” dalam pikirannya, “namun tak ada satu hal pun yang berani” ia “tanyakan pada ibunya.” [hal.15]
Hal-hal di atas adalah sebuah kritik terhadap lingkungan sosial masyarakat yang cenderung memandang perempuan yang menjadi orang tua tunggal, bekerja, dan mempunyai kekasih dengan cara negatif. “Inti dari semua tudingan itu adalah bahwa ibuku berbahaya karena ia janda.”[hal 15]
Segala masalah yang dialami si ibu mendapatkan antiklimaksnya ketika ia beranjak tua dan anaknya sudah bekerja. Sampai masa tuanyapun si ibu masih menyembunyikan sesuatu dari anaknya yaitu penyakit kanker leher rahim yang dideritanya. Disinilah akhir dari cerita yang menghubungkan antara dua dunia paralel: dongeng dan realita. Bahwa sesungguhnya dongeng itu sendiri adalah realita. Seperti telah dibahas pada bagian awal essay, dongeng tersebut penuh dengan simbol dimana perempuan mengalienasi dirinya untuk dapat hidup demi cinta, demi diterima di dalam masyarakat. Sang hantu perempuan yang memintal kegelapan sama seperti sang ibu yang merepresi perasaannya. Ketika si ibu sudah tua, ia mengajak anaknya keatas loteng dan melihat sebuah cermin. Disitulah ia melihat bahwa cermin itu memantulkan bayangan si hantu perempuan: si ibu yang sudah tua, “rambutnya terurai, wajahnya penuh guratan sedih, matanya nyalang seperti bola api yang menari-nari melumatkan siapapun yang menatap.” [hal.18] Dalam hidupnya si tokoh ibu cenderung memendam, memintal kegelapan yang artinya “cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah—gairah pekat tanpa henti.” Ia adalah perempuan yang terus mengalieansi dirinya sendiri hingga akhir hayat. Jika dikembalikan ke teori psikoanalisis, kegelapan (cinta, rindu, nafsu amarah--- gairah pekat tanpa henti) adalah Id dari si ibu yang terus direpresi.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dunia dongeng yang di doktrinkan dalam masyarakat tentang perempuan, tentang baik dan buruk, hitam dan putih, menjadi jelas. Bahwa perempuan seringkali menjadi Janus yang menyembunyikan tangisnya dalam tawanya. Cerpen ini menyampaikan sama dengan apa yang kaum post-strukturalis doktrinkan, bahwa tidak ada oposisi biner; bahwa perempuan memiliki dua sisi dalam satu diri. Pararelisme cerita dalam cerpen, menyimbolkan langsung pararelisme dalam jiwa perempuan, dimana penderitaan seakan tak pernah ada henti, membuat guratan-guratan di wajah dan tanpa sadar membuat perempuan menjadi pemintal kegelapan. Satu pelajaran yang dapat diambil dari cerpen ini: tak semua dongeng itu bohong, lihatlah dicermin, apakah anda seorang perempuan yang sedang memintal kegelapan, ataukah anda orang yang sedang mengurung hantu perempuan di loteng anda untuk memintal kegelapan?
Posted at 02:29 pm by feminist05
Permalink
NGOK AND CIUMAN DI ARNHEM
IN THE FEMINIST’S PERSPECTIVE
Marcel Glen Longdong
Feminism has given me lots of new ways to look at many aspects in life: the life itself, law, politics, social condition, sexuality, and literature. In the upcoming five pages, I will try to discuss the last two things, sexuality and literature. I will try to discuss a short story, entitled Ngok, written by Putu Wijaya, taken from Kumpulan Cerita Gallery of Kisses. First, I will briefly re-tell the story for you. Next, I will discuss the sexuality from feminist’s point of view that I find in the story, and last but not least, I will try to compare it with another short story from the book, Ciuman di Arnhem, written by Tommy F. Awuy, which I will also briefly re-tell. Both stories have different social and cultural background, so I will try to insert a little cultural and social discussion and later relate it to Ngok and feminism. So, in the fore pages, I will try to prove that social and cultural backgrounds affect women attitude towards sexuality.
The book, Gallery of Kisses, was actually a performance. It was successful, and was then decided to publish a collection of short stories about kissing. In the foreword, the publisher states that kissing is still taboo in Indonesia, in the eastern culture. On the other hand, it has become a kind of salute for the Western, like what happen in Ciuman di Arnhem. Ngok is an example for the eastern one as the story takes place in Indonesia. It is about a young girl, Ami, who one day cried in her room. Her cry invited her mother’s attention, who later tried to talk to her about it. Her mother thought that her daughter had lost her virginity. She never asked her directly about it, but asking her why she cried. Ami then just said yes to her mother. Of course, her mother was shocked. Shortly, the news spread to the entire family, her father and her sister, Ama, who then talked to Ami. In the end, Ami talked to her parents that having lost her virginity is not the reason why she cried. The real reason is because her boyfriend wanted to kiss her, not on the nose as what the parent used to do, or on lips like what lovers used to do, but on her vagina. The story ends with Ami leaving and her parents surprised with her words.
We can take several notes from this story. First, we see two different female characters in this story. First is the conservative one, represented by the mother, and the other is the “modern” one, represented by Ami. The division can be seen from each attitude towards sexuality, in this case, vagina. Ami is a struggling one. She admits in the book that she cried not because she was sad, but because she did not know how to struggle against the rules her mother had given her all the time (page 131-132). The rule is simple, that virginity should be kept still until your marriage. Eastern culture knows no sex before marriage. Conservative? To Ami, it is. She cried for it. She cried because she wanted to break the rules down for herself, but she had not found the way yet (page 132). Maybe this is what happened to our youth years before today. I think they have found a way(s) to break the rules. We can see many unwanted pregnancy around us now. The mother, on the other hand, is a conservative one. She probably grew up in 1970s when western culture was not as strong as it is now. This also affects her point of view about sexuality. Not only had she got surprised when she wrongly misinterpret her daughter’s yes, but also when Ami said that her boyfriend want to lick her vagina. Playing with that organ before marriage is probably not in the mother’s dictionary.
In this story, we can clearly see the conservative attitude the mother has towards virginity and sexuality, that she keeps it holy, sacred, and untouchable until the marriage. She tries to impose this rule on her daughter. Those are the feminine values the mother wants her daughter to follow. In the East, a mother should teach those behaviors to her daughter. On the other hand, one of her daughter wants to know and explore her personal organ more. This attitude can be seen when she thought about her boyfriend’s request. These two different attitudes represent different point of view of women from different time.
The mother wants Ami to be a polite girl. She guides Ami based on her youth experiences and gives her daughter the values she held in her youth days. A woman should keep her virginity until the marriage, or else people will look down on her. Those values, however, do not match Ami’s mind. The mother’s youth experience seems to be different with Ami’s. One proof is when they talk about kissing, they have different interpretation. The mother’s interpretation about kissing is nose to nose (page 132), but her daughter’s is much more than that. It is even more than just a French kiss; it is a kiss on the vagina. From this point, we can see that the mother expectation is not fulfilled by her daughter.
The other story, Ciuman di Arnhem, is very different. The story is about Prima, an Indonesian student who studied abroad at Arnhem. There, he found out that kissing has been something usual for the women; they even do it to greet people they have just seen. His upcoming days were even full of more surprises. Anne, a Holland student who were told to accompany him while he was in Arnhem, asked him to make love to her after she said that her boyfriend was about to come to Arnhem for a holiday and she loved him a lot. Anne answer was also surprising, that love has nothing to do with sex. The next, it was Marianne, another student, who asked him to make love to her. She was to act as the leading female role in Jullie and Jane, and in the play, there is a scene where both make love to each other. So, she asked Prima for sex in order to help her to get the emotion in Jullie and Jean performance. One day, Ms. Helene, the headmaster, called Prima and praised him for helping Marianne in the performance. She also said that Anne had told her their story. The story ended with Ms. Helene introducing her daughter to Prima. She said that her daughter came because Prima has brown skin and her daughter liked that kind of man. So, this thing was in Prima’s mind, that he might do the same with Ms. Helene’s daughter, the same thing he had done with the previous two.
In the story, we can clearly see the cultural gap between Eastern and Western culture. There, kissing and sex are something common. As long as two people like each other, they can have sex. This is what happened to Prima and Anne and Marianne. They had just met that time, yet they had done it. In both cases, it was the girls who were more aggressive. This means, it is not something awkward for the girls. On the other hand, Prima was surprised when Anne asked him. He could not understand. She was just talking about her beloved boyfriend, and the next minute, she had asked him to make love. There, Prima learnt that sex and love have been two different things for Anne. Here, we see two differences: the coming-from-western-culture woman is used to sex and the coming-from-eastern-culture man is nervous when a girl asked him to make love. The effect, the next time another girl asked him to do the same, he was surprised anymore.
From this story, we can see how feminine values shifted. In our culture, represented by Ngok, woman is objectified. Ami’s boyfriend asked her whether he could “kiss” her or not. The male is the aggressive one, while the female is passive. Eastern people also appreciate vagina so high that women should leave it untouched until the husband does it. In the Western, the women have become more aggressive. Vagina is appreciated too, but in a different way. They appreciate their vital organ that they want to know about it. To know it, they explore it instead of “keeping it under their underwear”. Anne and Marianne are both educated women. They are both theatre school students, and in Europe, unlike in Indonesia, theatre school is prestigious. Thus, we can expect them as educated and adopt high Western feminine values.
From these two stories, we can write about the relationship between feminism, culture, and sexuality. Feminism taught women to explore themselves, to explore their organs, to explore their sexuality. They refuse the statement that women need men to get sexual pleasure. Not only in the East, but also in the West, some women do not recognize their own body. In Indonesia, situation might turn to very awkward whenever we talk about vagina. This is because Indonesia girls or young women are not common to this kind of education. How many high schools give their students sex education? Lest, schools also consider it taboo, consider it the task of the parents. While in the family, parents also consider talking about sex taboo, so the youngsters get sex “education” from friends or maybe movies. More or less, this affects the new generation in Indonesia.
This discussion cannot be separated with the social expectation. In Ciuman di Arnhem, we can see the expectation from Prima, which also represents Indonesian culture. He expects a woman to appreciate love, loyalty, and virginity. Love and loyalty might be the most confusing things when Anne asked him to make love. She loved her boyfriend and made love with another man. This is a contradiction that a woman should give her virginity, the most valuable thing she has, to the loved one, as has been long known in Indonesia. While in Holland, sex and love are different things. Here, we see different social perspective. Marianne, the next girl, even asked him for sex for a very different reason: to help her in the performance. We can see that the function of sex is perceived differently; the function shifted from simply procreation or recreation. In Indonesia, we read more, we spend more time with the text if we want to get deeper into our roles in a play, even the sexual ones. Prima was not surprised anymore that time.
In Ngok, we see the same expectation. The mother expected her daughter, Ami, to preserve her virginity until the marriage. That is why she cried a lot when she thought Ami had lost her virginity. Maybe, that is also why she laughed happily when Ami said that her boyfriend just want to kiss her. Kissing is still in the mother’s tolerance limit. However, when Ami said that her boyfriend wanted to kiss her on the vagina, the mother cried again. Doing things with vagina -kissing, licking, or anything- is not something acceptable in eastern culture. The mother expects Ami to be a “good” woman who preserves virginity. The expectation of the mother and Prima represent the expectation of Indonesian society that is influenced by eastern culture.
As I have written a lot before, culture determines the attitude towards sex. In Ciuman di Arnhem, we can see a very clear gap between two cultures. The women were used to sex, while the man was not. One factor that differentiates them, that might probably affect their attitude is their cultural background. Before studying in Holland, Prima lived in Indonesia, and his environment’s culture taught him to consider sex as something taboo before the marriage. Anne and Marianne lived in Holland. This is a very free country; it is amongst the first countries that legitimate gay and lesbian marriage. It is no wonder if sex is something not uncommon for the girls. The gap happened in western country, so it is very usual and probable.
Eastern culture in Indonesia, however, has started to be affected by the western. In Ngok, we can see the generation gap. The mother, let’s say, live her young age in the late 70-80s. That time, western culture had not found its way to Indonesia as much as it has nowadays. Western movies with kissing and sex scene have become common here. Slowly, this affects the young generation who watches those movies. They get interested in it and start trying doing it. Ami is just one of many young women who are thinking to do it. That is how western culture gets in our society and affects our culture.
Maybe, sooner or later, our polite-eastern culture would be changed with the new one, the one coming from the West. There is no intention to determine which culture is better for sexuality feminism to grow up, but women, no matter what their cultural background are, need to explore themselves. If it seems taboo or wrong to do it, slowly but sure, the culture would change. The closest example is our own society, where the youngsters’ sexuality has been affected by the Western. Thus, we can see that social and cultural backgrounds will always affect women attitude towards their own sexuality.
Posted at 02:22 pm by feminist05
Permalink
Menyusu Seksualitas Perempuan
Menyusu Seksualitas Perempuan
(sebuah pembacaan feminis cerpen “Menyusu Ayah” karya Djenar Maesa Ayu)
Marissa Saraswati/Midterm Test
Sebuah diskusi. Toko buku terkemuka di Jakarta Selatan. Pembicara adalah penulis wanita, muda, tampil menonjol dengan tank-top bermotif macan tutul lengkap dengan atributnya -sebatang rokok di tangan- yang asapnya mengepul sepanjang diskusi berlangsung. Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis dengan nada menilai, untuk kemudian menyudutkan. Pertanyaan tentang mengapa tema tulisannya selalu seputar seks. Penulis hanya tersenyum, seperti tidak terganggu dengan nada si penanya ataupun mata pria-pria yang sejak tadi terus asyik menatap ke arah payudaranya. Menjentikkan rokoknya, ia menjawab, seperti yang jelas saya ingat hingga kini, “Kenapa tidak? Hanya itu yang saya tahu dan saya mengerti benar.” Kemudian saya, seperti juga seluruh ruangan, terdiam atas jawaban itu.
Tak jarang perempuan yang mampu memanfaatkan seksualitasnya, bicara lantang tentang seks, ataupun yang menggunakan seksualitasnya, mendapat penilaian negatif dari masyarakat kita yang dikonstruksi oleh pemikiran patriarki ini, seperti yang terjadi pada penulis dalam cerita kecil di atas. Anggapan masyarakat bahwa seksualitas perempuan hanya boleh digunakan untuk tujuan akhir memuaskan lelaki dan bahwa wanita hanya sekedar pelengkap pasif dalam hubungan seks adalah dogma-dogma yang ditanamkan untuk tetap mempertahankan dominasi pria. Dalam cerpen Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu, seksualitas perempuan direkam dalam sudut yang berbeda yaitu sebagai sebuah kekuatan yang dimiliki perempuan –yang tentunya bertentangan dengan pola pikir sistem patriarki.
Gambaran seksualitas perempuan yang ideal yang selama ini dikenal masyarakat identik dengan paras cantik, tubuh langsing namun berisi, rambut panjang dan indah, kulit putih dan halus, penampilan menarik, pantat dan payudara besar. Namun dalam cerpen ini, seksualitas digambarkan sama sekali berbeda melalui tokoh Nayla. Tokoh Nayla adalah tokoh sentral dalam cerpen ini yang mampu menggunakan seksualitasnya sebagai seorang perempuan untuk mencapai haknya, yaitu memperoleh kasih sayang –yang dalam cerpen ini terbungkus dalam kenikmatannya melakukan oral sex. Tokoh Nayla dihadirkan dengan ciri-ciri yang jauh dari gambaran ideal. Tidak ada paras cantik, wajah Nayla tidak cantik. Tidak ada rambut panjang, indah, halus, mengembang seperti yang selalu diagung-agungkan produsen shampo, yang ada hanya potongan rambut yang pendek. Tidak ada kulit putih dan halus seperti dalam iklan sabun bertabur bintang, yang ada hanyalah kulit hitam. Tidak ada tubuh langsing yang sexy, yang ada hanyalah tubuh yang kurus kering dan tak menarik. Dan yang pasti tidak ada payudara besar, yang tersedia hanyalah payudara yang rata.
Deskripsi yang kontradiktif ini sesungguhnya dipakai untuk mendobrak gambaran ideal tentang seksualitas perempuan itu yang diciptakan oleh pemikiran-pemikiran patriarki yang bertujuan memenangkan kebutuhan lelaki semata. Dengan penggambaran tokoh Nayla yang berlawanan 180 derajat dengan gambaran ideal yang ada di masyarakat, perempuan ingin dibebaskan dari tuntutan masyarakat patriarki yang mengharuskan perempuan tampil mempercantik diri demi kepuasan lelaki saja. Seksualitas yang dimiliki perempuan tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja, tetapi bagaimana ia merasa nyaman terhadap dirinya sendiri, walaupun itu berarti tampil apa adanya. Hal ini hampir sama dengan tulisan MacKinnon yang berusaha membongkar dominasi seksualitas. Menurutnya, masalah utama terletak pada bagaimana mengkonseptualisasikan seksualitas. Para feminis, menurutnya mengkonseptualisasikan realitas sosialnya berbarengan realitas seksualitasnya.
“Payudara tidak untuk menyusui tapi hanya untuk dinikmati lelaki, begitu kata Ayah. Saya tidak ingin dinikmati lelaki. Saya ingin menikmati lelaki, seperti menyusu penis Ayah waktu bayi.” (Hlm.37) Melalui baris-baris di atas, “Menyusu Ayah” dengan nyata gamblangnya menyajikan dominasi sistem patriarki dalam hal seksualitas dan keinginan perempuan untuk mengubahnya. Tidak sedikit lelaki yang berpikiran hampir sama dengan tokoh Ayah, bahwa fungsi payudara yang utama adalah untuk dinikmati lelaki. Rasa kepemilikan laki-laki atas perempuan yang begitu besar membuat lelaki bahkan berpikir bahwa organ-organ seksual wanita diciptakan hanya untuk memuaskan kebutuhan laki-laki. Bahkan tak jarang perempuan yang berpikir seperti itu dan seakan menyerah pada anggapan itu kemudian melakukan berbagai cara untuk memperbesar dan memperindah payudara dengan dalih agar dapat memuaskan lelaki.
Tetapi, tokoh Nayla lagi-lagi berbeda. Ia tidak menyerah begitu saja pada anggapan bahwa payudara tercipta untuk dinikmati lelaki –yang terkadang dijustifikasi sebagai kodrat. Nayla memilih melawan. Ia tidak berusaha untuk memperbesar payudara atau pun menyesali kenyataan bahwa payudaranya rata. Karena ia tidak ingin dinikmati lelaki. Bentuk perlawanan perempuan dalam cerpen ini tidak saja berhenti pada menentang anggapan itu, tetapi lebih dari itu berusaha mencapai persamaan gender, yaitu dengan mengajukan keinginan bahwa ia ingin menikmati lelaki –hal yang agak janggal didengar dalam masyarakat patriarki. Mengapa janggal? Karena selama ini yang tertanam adalah perempuan hanya sebagai obyek semata, yang notabene bersifat pasif sedangkan lelaki adalah subyek yang bersifat aktif. Sedangkan cerpen ini mencoba menghadirkan pemikiran bahwa wanita bukan sekedar obyek tetapi juga dapat berperan aktif, memiliki hak untuk aktif, untuk menikmati penis bukan sekedar dinikmati payudaranya. Karena perempuan bukan obyek dan perempuan dihadirkan sederajat dengan laki-laki, termasuk dalam hal seksualitas.
Penggambaran seksualitas perempuan sebagai sebuah kekuatan dalam cerpen ini terlukis pada bentuk pengeksploitasian teman-teman Nayla dan teman-teman Ayah yang dilakukan Nayla. Nayla menggunakan seksualitasnya dan birahinya untuk mendapatkan kenikmatan yang diinginkannya. Dengan cara ini, bukan saja Nayla mendapatkan apa yang dia inginkan tetapi juga membuatnya mendominasi banyak pria, misalnya saja beberapa teman lelakinya. Bentuk eksploitasi Nayla adalah dengan memaksa teman laki-laki sebaya untuk membiarkannya menyusu dari penis mereka.
Kesadaran dan keinginan kaum perempuan akan kesederajatan dengan laki-laki juga terlihat dalam kutipan ini, “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.” Tokoh Nayla tetap menyadari bahwa dirinya perempuan, meskipun ia melakukan hal-hal yang diasosiasikan dengan laki-laki, seperti misalnya mengenakan celana pendek atau celana panjang, bermain kelereng dan mobil-mobilan, memanjat pohon dan berkelahi, dan kencing berdiri. Namun, ia tidak mau juga ia dikatakan lemah seperti masyarakat menstereotipekan perempuan yang sekaligus juga menolak stereotip-stereotip tentang feminitas. Nayla merasa dirinya juga sekuat lelaki karena ia menghisap penis Ayah. Seperti diketahui, penis adalah lambang kejantanan dan kekuatan seorang pria, yang berarti juga lambang maskulinitas. Maka, dengan menghisap penis Ayah dan menyusu dari Ayah, Nayla merasa telah diwariskan kekuatan yang membuatnya sama kuat dengan laki-laki. Repetisi kutipan di atas pada awal dan akhir cerpen mempertegas kebulatan tekad tokoh Nayla –yang merepresentasikan perempuan- untuk mencapai persamaan derajat dengan lelaki. Nayla tidak menyedot air susu Ibu tetapi menyedot air mani Ayah. Hal ini dapat dibaca sebagai upaya untuk menolak nilai-nilai feminin yang ditawarkan dan justru berusaha untuk merebut kekuatan dalam symbolic order melalui menyusu Ayah.
Pada cerpen yang terpilih menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan tahun 2002 ini, seksualitas digunakan perempuan (tokoh Nayla) sebagai sarana untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan bagi diri sendiri. Seksualitasnya sebagai seorang perempuan bagi Nayla merupakan tempat di mana perempuan merasa aman dan lepas dari ketakutan dan dominasi kaum pria di dunia luar sana. Karena setiap kali ia menyusu pada teman-teman Ayah, ia tidak pernah lagi merasa kesepian dan hatinya tidak lagi gundah. Ia merasa nyaman dan ia mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Hal ini sekali lagi coba ditekankan penulis bahwa dalam seks, perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kenikmatan ; bahkan seksualitas perempuan merupakan kekuatan yang selayaknya digunakan dengan baik.
Membaca Menyusu Ayah seperti disodorkan sebuah foto yang hendak menyadarkan kita bahwa seksualitas yang kita miliki sebagai perempuan sangat indah dan harusnya dipergunakan bukan semata untuk kepuasan lelaki saja tetapi juga untuk kita menemukan diri kita dan kenyamanan serta rasa aman dalam diri kita sendiri. Menyusu Ayah membawa perempuan akan harapan adanya perubahan dalam masyarakat sehingga perempuan tidak perlu merasa seperti seorang jalang untuk memiliki birahi, perempuan dapat memanfaatkan seksualitasnya, seksualitas perempuan menjadi sesuatu yang dihargai bukan yang diremehkan, dan wanita ditempatkan berdampingan dengan pria bukan di bawah.
* * *
Posted at 02:19 pm by feminist05
Permalink
MARI MENJILATI DARAH!
NOSA NORMANDA
“Darah adalah hidup.” Ia adalah cairan yang mengalir membawa oksigen, membuat manusia hidup dan dapat bernafas. Darah adalah cairan utama yang mengisi seluruh pembuluh nadi manusia; ia mengalir di dalam setiap pembuluh yang memungkinkan manusia melakukan semua tindakan, gerakan, pikiran. Tapi di sisi lain darah dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Darah keluar ketika manusia luka, darah menutup luka yang menganga seperti pipa bocor yang memuncratkan air yang mengalirinya. Darah mengingatkan manusia akan mati; akan akhir. Banyak darah-darah yang lain yang sudah menjadi bagian percakapan sehari-hari. Darah putih dan merah dalam kedokteran, darah biru dalam status kebangsawanan, darah haid dalam kekotoran perempuan. Darah kotor. Darah yang terakhir inilah yang coba dituangkan Intan Paramaditha dalam cerpennya yang berjudul “Darah” dalam buku kumpulan cerpen “Sihir Perempuan.” Melalui cerpen tersebut, ia telah berhasil mengangkat tema menstruasi sebagai tekanan terhadap perempuan yang terdoktrinasi melalui sistem masyarakat, keluarga, dan agama, serta berusaha membuka mata perempuan tentang bagaimana menyikapi doktrin tersebut.
Darah kotor. Begitulah umumnya orang menyebut darah haid. Ia bagai sebuah virus penyakit yang menular lewat cairan yang menguap lewat udara. Ia bagaikan “Momok. Monster.” [hal 114] Persepsi inilah yang didapat oleh Mara, Karakter utama cerpen “Darah”. Mara, adalah seorang wanita yang sudah cukup mendapat pendidikan soal menstruasi oleh ibunya. Ia mendapat pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menstruasi itu akan datang padanya suatu hari dan bagaimana cara mengatasinya. “Setiap perempuan akan mengalaminya, karena itu kau harus tahu cara memakai pembalut”, [hal 115] ajar ibunya ketika ia kecil. Tetapi secerdas apapun Mara mengatasi menstruasi, ia tetap tidak dapat menghilangkan perasaan aneh dan pemikiran kritisnya terhadap pandangan masyarakat terhadap perempuan sebagai makhluk yang mengalami menstruasi: pandangan yang mengatakan dan membentuk persepsi perempuan yang sedang menstruasi sebagai makhluk penuh dosa, sebagai makhluk yang “bisa menebar teror.” [hal 121]
Salah satu perasaan anehnya muncul ketika menyikapi sikap lelaki terhadap menstruasi. Bagaimana kurangnya pengetahuan mereka tentang menstruasi dan bagaimana mereka memandang wanita. Tokoh laki-laki dalam cerpen tersebut hanya tiga orang. Ayah Mara, pacar pertama Mara, dan seorang Dokter. “Ketika aku bercerita tentang menstruasiku pada ayah, ia hanya berkomentar kikuk, “Oh, begitu”, lalu keesokan harinya, Ustadzah memberi ceramah…Ayahku pasti bercerita padanya. Pengkhianat.” [hal 117] Penggalan tadi dapat diinterpretasikan tentang kurangnya komunikasi antara sang ayah dengan anak perempuannya. Sang ayah selalu menggunakan perantara untuk menanggapi masalah anak perempuannya itu: ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk menanggapi isu-isu kewanitaan yang dihadapi anaknya.
Selain tanggapan pria terhadap menstruasi di atas, cerpen tersebut juga membahas keperawanan, isu yang sangat mengikat perempuan karena menjadi acuan pria-pria dan masyarakat kebanyakan dalam menilai seorang wanita baik-baik atau tidak. Disini dapat dilihat bagaimana sistem patriarki yang ada mendefinisikan darah. Darah keperawanan sebagai kebanggaan dan darah haid sebagai anti-thesisnya. Darah keperawanan didefinisikan sebagai darah kesucian melakukan hubungan seks untuk pertama kali darah itu tidak ada, maka perempuan itu secara keseluruhan akan dianggap kotor. Dalam cerpen tersebut diberikan contoh tentang kehidupan para harem di Istanbul, ketika “setelah malam pertama, di jendela digantung seprai berbercak darah yang menandakan kebanggaan Sultan karena telah tidur dengan seorang gadis suci.” [hal 121] Konstruksi patriarkis di atas membentuk pola pikir Mara tentang keperawanan. Ia mengatakan, “Aku ingat ketika pertama kali tidur dengan kekasih pertamaku sebab berada di garis batas antara perawan dan pelacur”. [hal 121] Pacar pertama Mara menghardiknya ketika pada hubungan seks pertama ia tidak mengeluarkan darah. Di sini kita dapat melihat bagaimana pikiran pria terhadap perempuan yang dianggap tidak perawan. Kotor. Pelacur. Di sinilah tokoh Mara mendapatkan ide untuk balas dendam. Ia mengajak pacarnya bercinta di dalam mobilnya ketika ia sedang menstruasi, sehingga jok mobil menjadi bernodakan darah dan pacarnya jijik padanya. Tindakan tersebut menyimbolkan suatu pemberontakan terhadap konstruksi sosial yang ada.
Satu tokoh lagi yang dianggap munafik didalam cerpen ini adalah dokter laki-laki yang dimintai saran tentang alat kontrasepsi oleh Mara. Ketika dokter itu bertanya apakah Mara sudah menikah, dan dijawab belum, ia malah menceramahi, bukannya memberi saran kedokteran seperti yang diharapkan seorang pasien dari dokternya. Menceramahi sambil memperhatikan payudara Mara. [hal 122-123] Betapa kemunafikan digambarkan dengan sangat ironis; bahwa anggapan orang terhadap perempuan yang melakukan hubungan seks tanpa menikah adalah suatu yang sangat hipokrit.
Semua pemikiran Mara di atas berdasarkan pada nasihat-nasihat ibunya semasa hidup. Walau Mara hanya sebentar mengenal ibunya, nampak bahwa ia sangat terpengaruh dengan nasihat-nasihat ibunya. Dari cara mengatasi menstruasi, sampai keputusasaan ibunya dalam hidup yang disampaikan pada saat sekarat. Keputusasaan ibu Mara terlihat ketika ia menceritakan asal-usul garis guratan merah di pergelangan tangannya sebelum ia meninggal didalam mimpi Mara. “Garis itu adalah kematianku yang pertama. Aku tidak mati disini.” [hal 126] ujarnya.
Selain itu, ibu Mara juga pernah mengatakan bahwa “surga dan neraka sama gelapnya dengan bayang-bayang.” [hal 117] Perkataan inilah yang membuat Mara menjadi cukup kritis terhadap ajaran agama yang diterimanya sewaktu kecil. Ia selalu menanyakan apa-apa yang dilarang Ustadzahnya. Mulai dari peringatan bahwa semenjak ia mens, dosa-dosanya dihitung; puasanya tak mungkin lengkap lagi; bagaimana ia harus bersikap didepan pria; dan bagaimana mensnya itu adalah sesuatu yang sangat kotor dan ia harus mencuci pembalut dan celana dalamnya sendiri. Banyaknya pertanyaan Mara kecil membuat Ustadzahnya bercerita tentang setan perempuan yang suka menjilati darah kotor. “Darah dan hantu…mereka selalu hadir bersama-sama dalam cerita.” [hal 119] maka di sinilah darah menurut Mara menjadi “Dosa. Tubuh kotor. Dosa kotor. Dosa tubuh.” [hal 119]
Pada bagian diatas bisa kita lihat bagaimana cerpen tersebut mengkritik agama, khususnya agama Islam, dalam menempatkan perempuan. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 222 disebutkan: “Dan mereka bertanya padamu tentang haid. Katakanlah (hai Muhammad)! Dia itu suatu kotoran (yang menyakitkan), maka hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita-wanita diwaktu haid; janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci, maka tatkala mereka suci, maka datangilah (campurilah) mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak taubat dan menyukai orang-orang yang suci.” Dosa tubuh yang dimaksud di cerpen tersebut dapat di interpretasikan sebagai tubuh perempuan yang kotor, tidak suci, dan dibenci Tuhan pada saat haid. Perempuan dianggap secara otomatis “berdosa” atas siklus biologis yang dialaminya.
Selain agama, mitos-mitos tentang setan perempuan sebagai suatu legenda juga muncul sebagai suatu tokoh sekaligus simbol. Banyak dari kita yang mengenal Kuntilanak sebagai setan perempuan yang suka pada darah. Diceritakan bahwa apabila Mara tidak bersih mencuci celana dalam dan pembalutnya, maka seorang setan perempuan akan datang dan menjilati darah di pembalutnya itu. [hal 118] Pada akhirnya Mara bertemu dengan setan itu, sedang menjilati pembalut di Toilet. Tetapi Mara tidak takut sama sekali ketika melihat perempuan berwajah pucat, dengan mata berlingkaran hitam itu menjilati darah di pembalut. Ia malah berfikir “…bibirmu merah basah, segar. Indah.” [hal 128] Dan ia menemukan bahwa setan itu menyukai darah karena “Darah adalah hidup.” [hal 126] Kita dapat menganggap tujuan dari kalimat “Darah adalah Hidup” dan tidak takutnya Mara kepada setan perempuan itu sebagai suatu keinginan agar perempuan menerima eksistensinya sebagai manusia yang mengalami menstruasi. Menerima dan mencintai darah itu selayaknya mencintai diri sendiri daripada menolaknya.
Isu menstruasi sudah sering dibahas pada karya-karya sastra feminis. Salah satu contoh konkritnya adalah Vagina Monologue karya Eve Ensler. Dari temanya, dapat dilihat bahwa cerpen “Darah” memiliki tema dan pandangan yang hampir sama tentang menstruasi dan perempuan seperti beberapa bagian dalam Vagina Monologue. Walau begitu, Intan Paramaditha telah berhasil menggambarkan wanita feminis seperti Mara, sebagai wanita independen yang sudah bisa dibilang ‘bebas’ tetapi terperangkap dalam doktrinasi sosial yang didapatnya semenjak kecil. Secara keseluruhan dapat disimpulkan cerpen “Darah” adalah suatu persuasi terhadap kaum perempuan untuk dapat berdiri dan mencintai dirinya apa adanya: untuk berani menjadi kritis melawan segala sesuatu yang menekan dan menyiksanya baik itu sistem sosial atau agama. Mengajak perempuan untuk mencintai hidup. Mencintai darah.
Posted at 02:09 pm by feminist05
Permalink
Pemberontakan Para Malaikat
PEMBERONTAKAN PARA MALAIKAT
Maria Berlian
Hari itu adalah satu hari setelah wafatnya Ratu Victoria. Untuk menghormati sang almarhum Ratu, seluruh rakyat Kerajaan Inggris diwajibkan untuk mengunjungi kuburan keluarga mereka masing-masing. Di sebuah tempat pemakaman di atas bukit, dua keluarga bertemu untuk pertama kalinya (meskipun letak dua kuburan keluarga mereka bersebelahan). Mereka adalah keluarga Coleman, yang modern dan menyambut dengan bahagia pemerintahan Raja Edward, dan keluarga Waterhouse, yang lebih konservatif dan menjunjung tinggi Victorian Values lebih dari apapun. Ternyata, perbedaan mencolok di antara mereka tidak dapat menghalangi putri tunggal keluarga Coleman, Maude, dan putri sulung keluarga Waterhouse, Lavinia, untuk menjalin persahabatan. Bersama Simon Field, seorang anak penggali kuburan yang akhirnya menjadi sahabat mereka juga, mereka berdua tumbuh besar di tengah kemajuan zaman yang dibawa raja baru mereka; kemajuan seperti munculnya para suffragette yang memperjuangkan hak pilih wanita. Itulah sepenggal kisah dari novel karangan Tracy Chevalier, Falling Angels, atau yang diterjemahkan menjadi Malaikat-Malaikat yang Runtuh. Apabila dilihat dari sisi sejarah, novel ini memang menceritakan tentang pertentangan antara nilai-nilai era Victoria dan Edward dan kemunafikan-kemunafikan di dalamnya. Tetapi, jika dilihat dari sisi feminisme, novel ini bercerita tentang pemberontakan kaum wanita terhadap sistem patriarki yang berlaku di masyarakat pada masa itu.
Nilai-nilai zaman Victoria berpengaruh besar terhadap kuatnya sistem patriarki di masyarakat Inggris pada masa itu. Zaman Victoria memiliki ideologi yang menomorsatukan pemisahan ruang bagi pria dan wanita, atau separated gender sphere. Pemisahan ruang ini diungkit dalam novel, misalnya, saat Maude menarasikan bahwa ayahnya, Richard, belum tahu mengenai spanduk-spanduk WSPU milik ibunya, Kitty, karena ia menyimpannya di Ruang Pagi, ruang tempat berkumpulnya para wanita yang tidak pernah dimasuki Richard. Kemudian diceritakan pula saat Mrs.Baker, koki keluarga Coleman, yang berbohong pada Richard bahwa Simon adalah tukang kebun keluarga mereka agar ia dapat memberikan roti gratis untuk anak itu. Simon lalu berkata, “...kebun merupakan teritori Mrs.C. Mr.C mungkin bahkan tidak pernah menjejakkan kakinya di sana kecuali untuk menikmati sebatang rokok. Ia tidak akan tahu siapa tukang kebun mereka” (hal. 298). Dapat dilihat bahwa keberadaan Ruang Pagi dan kebun memungkinkan Kitty untuk menjadi bebas melakukan aktivitasnya. Ini seperti yang ditulis Virginia Woolf dalam esainya, A Room of One’s Own, yaitu bahwa perempuan harus memiliki ruangnya sendiri yang terpisah dari laki-laki untuk mencapai potensi tertinggi mereka. Di sisi lain, Richard seakan menghindari tempat-tempat tersebut – Ruang Pagi, kebun, dan juga dapur, tempat ia menemukan Simon sedang memakan roti. Dari reaksi para perempuan yang terkejut melihat kemunculan Richard di dapur, Simon segera mengetahui bahwa ia tidak pernah mengunjungi dapur sebelumnya dan memutuskan untuk datang pada pagi itu hanya karena “ia cemas... atau kurang suka suasana kosong di dalam rumah, sehingga ia mencari orang” (hal. 297).
Hasil dari ideologi pemisahan ruang ini adalah munculnya apa yang disebut dengan Men’s Oppression. Fenomena ini juga terlihat di halaman-halaman depan novel, ketika setiap Tahun Baru Richard mengharuskan Kitty untuk turut serta dalam ‘permainan tukar pasangan’ yang dikiranya dapat menghangatkan hubungan mereka yang sudah kaku. Belakangan, diceritakan juga tentang para suami, termasuk Richard, yang membakar selebaran, koran, dan spanduk milik istri-istri suffragette mereka.
Dalam menanggapi tekanan dari para pria, para wanita punya reaksi yang berbeda-beda. Beberapa, seperti Lavinia, ibunya, Gertrude, dan nenek Maude, Edith, yang memegang teguh nilai-nilai zaman Victoria, menuruti dengan patuh aturan-aturan patriarki. Dengan demikian, pandangan mereka menunjukkan bahwa ternyata sistem patriarki tidak hanya didukung oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Lavinia, misalnya. Meskipun bersahabat dengan Maude, ia memang mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengan teman baiknya itu. Maude, contohnya, lebih berminat pada meneropong komet daripada membaca majalah-majalah wanita seperti Cassell’s dan The Queen yang merupakan bacaan favorit sahabatnya. Lavinia bahkan menulis buku panduan berkabung yang di dalamnya tertulis, “Seorang janda berkabung paling lama karena ia yang paling sedih. Betapa mengenaskannya kehilangan suami!” (hal. 152). Sementara Gertrude tidak pernah mengerti mengapa Kitty yang sudah ”memiliki rumah yang indah, suami tampan, dan anak perempuan yang cerdas” (hal. 63), dengan kata lain, kehidupan rumah tangga yang sempurna, tidak pernah merasa puas. Edith bahkan mengajarkan Kitty untuk “jangan pernah membebani suamimu dengan urusan rumah tangga” (hal. 254) dan mengutarakan bahwa membaca adalah “kegiatan yang sia-sia untuk anak perempuan [karena] hanya akan menanamkan gagasan macam-macam di kepalanya” (hal. 96-97). Reaksi tiga perempuan tersebut sangat berbeda dengan Kitty. Bahkan sebelum menikah pun, Kitty sudah merasa terjebak dalam kehidupan domestik yang harus dijalaninya sebagai seorang perempuan. Ketika melihat suaminya pergi bekerja dan meninggalkannya dalam rumah mewah mereka, ia berkata, “Aku mengawasi dari jendela sementara ia berjalan menjauh, dan mulai didera oleh perasaan iri yang sama seperti ketika kakakku berangkat ke sekolah dulu” (hal. 89). Perasaan depresinya semakin bertambah ketika Maude lahir; ia merasa “terperangkap di tempat tidur, dipasung oleh mulutnya yang mengisap buah dadaku” (hal. 87-88). Kitty “menghabiskan hidup[nya] dengan menanti terjadinya sesuatu” (hal. 220) dan sesuatu itu akhirnya datang ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang suffragette.
Pemberontakan kaum wanita dalam novel ini memang paling terlihat jelas dalam sosok Kitty Coleman. Sejak awal buku, Kitty sudah diceritakan sebagai wanita yang lebih memilih untuk memakai pakaian berwarna biru -bukan hitam- sebagai tanda berkabung untuk Ratu Victoria. Perilakunya yang sering melawan ibu mertua menggambarkan sifatnya yang pemberontak. Seperti yang telah dijelaskan di atas, Kitty tidak pernah merasa puas akan kehidupan domestik dan suaminya yang sepertinya tidak pernah membantunya untuk keluar dari rasa frustasinya. Hal inilah yang mendorongnya untuk melakukan pemberontakan besarnya yang pertama: Perselingkuhannya dengan pemilik kuburan, John Jackson. Meskipun tidak tampan dan miskin, John selalu “menanyakan pendapat [Kitty] dan tidak menertawakannya” (hal. 146). Ini dan kenyataan bahwa John, seperti dirinya, berani berselisih pendapat dengan ibu mertuanya, membuat Kitty terpikat padanya. Perselingkuhan mereka membuahkan sebuah janin dalam rahim Kitty, yang kemudian diaborsinya; pemberontakan kedua.
Setelah mengalami depresi yang lebih dalam lagi akibat penyesalan setelah membunuh bayinya yang belum lahir, Kitty menyadari bahwa perselingkuhan dan aborsi bukanlah jalan keluar yang sedang ia cari. Pada saat itulah ia bertemu dengan Caroline Black, seorang suffragette. Wanita-wanita pejuang hak pilih untuk perempuan ini adalah contoh nyata dari sisterhood yang tumbuh akibat tekanan dari kaum pria. Perasaan satu yang dibagi-bagi antara kaum perempuan dalam sisterhood dirasakan (bahkan) oleh Maude sebagai sesuatu yang “benar-benar mendebarkan [untuk] menjadi bagian dari suatu massa yang besar, yaitu ribuan wanita yang melakukan hal yang sama pada waktu yang bersamaan” (hal. 346).
Ironisnya, masalah seksualitas yang dibahas oleh Betty Friedan dalam The Feminine Mystique, yaitu bahwa seksualitas digunakan oleh perempuan untuk keluar dari masalah yang sema sekali tidak seksual, muncul juga dalam novel ini. Kitty diceritakan bersedia melayani kembali suaminya di tempat tidur sebagai cara agar Richard memperbolehkannya untuk pergi ke pertemuan-pertemuan suffragette. Ironi juga muncul ketika Kitty dan beberapa suffragette lainnya, termasuk pemimpin mereka Emmeline Pankhurst, ditahan selama 3 bulan dalam penjara setelah mencoba menerobos masuk House of Commons. Maude yang datang mengunjungi ibunya melihat bahwa para narapidana mengenakan celemek di atas pakaiannya dan diwajibkan untuk merajut kaus kaki di dalam sel mereka. Belakangan, Kitty baru memberitahunya kalau kaus kaki-kaus kaki itu adalah untuk para narapidana pria. Yang menarik untuk dilihat di sini adalah bagaimana pekerjaan domestik dijadikan sebuah hukuman bagi perempuan yang dianggap memiliki perilaku menyimpang layaknya para suffragette. Dengan kata lain, masyarakat, atau penjara, berusaha mengembalikan perempuan-perempuan ‘jahat’ ini ke jalan mereka yang benar, Domestisitas.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan ambiguitas dari feminisme. Dari satu sisi, novel ini menyalahkan Kitty untuk pemberontakannya yang berakhir tanpa kesuksesan. Kitty meninggal dalam parade suffragette tanpa benar-benar melihat impiannya agar wanita mempunyai hak pilih terwujud. Lagipula, kegiatannya dengan para suffragette telah membuatnya melupakan Maude. Lalu, dengan aborsi yang dilakukannya, sepertinya Kitty menjadi wanita yang sepertinya lupa akan keluarganya, terutama putri yang sangat mencintainya. Novel ini sepertinya membicarakan kekhawatiran yang sama dibahas, lagi-lagi, Betty Friedan. Akibat bagi Kitty adalah rasa sesal yang dialaminya setelah aborsi dan pengetahuan bahwa satu-satunya yang selalu ada untuknya adalah Maude yang datang terlambat, sesaat sebelum kematiannya, “Sekarang, di saat aku menggenggam tangan [Maude], aku tidak ingin melepaskannya. Dialah yang harus melepaskan aku. Ketika akhirnya ia melakukan itu, aku tahu aku sendirian, dan waktunya telah tiba bagiku untuk pergi” (hal. 387). Kitty dalam hal ini menjadi malaikat yang runtuh dan menyebabkan Maude runtuh pula.
Namun, di sisi lain, novel ini bersikap pro-feminis. Orang-orang terdekat Kitty diceritakan melanjutkan pemberontakannya setelah ia meninggal dunia. Pertama-tama, Maude, yang memberontak dengan diam-diam mengundang Caroline Black –yang dibenci oleh ayah dan neneknya- ke pemakaman Kitty, dan dengan begitu akhirnya menyadari arti perjuangan ibunya, dan lalu mengabulkan permintaan sang ibu untuk melanjutkan kuliah, hal yang tidak biasa untuk seorang gadis pada zaman itu. Kedua, John Jackson dan Simon, yang secara sembunyi-sembunyi meluluskan harapan Kitty untuk dikremasi, hal yang ditentang oleh suami dan ibu mertuanya. Dengan itu, Kitty dan Maude –dan Mr. Jackson dan Simon- berhasil memberontak dan mendobrak aturan-aturan Richard dan Edith Coleman, dua tokoh besar yang menjadi simbol sistem patriarki dalam novel ini. Pada akhirnya, Kitty ibarat malaikat yang runtuh sesaat untuk kemudian bangkit kembali seperti komet yang menyala di langit dan yang selalu menemani dan membimbing Maude.
Posted at 01:41 pm by feminist05
Permalink
Sisterhood Perempuan India
SISTERHOOD PEREMPUAN INDIA DI TENGAH
KOMUNITAS PATRIARKI
Utami Diah
“Siapakah aku ini dan untuk apakah aku hidup di dunia ini?”. Pertanyaan tersebut seharusnya muncul dalam setiap diri perempuan. Perempuan seharusnya bisa membentuk identitas dirinya sendiri, karena identitas itu sifatnya tidak mutlak tercipta begitu saja melainkan bentukan. Apabila identitas yang dimiliki oleh seorang perempuan terbentuk oleh lingkungan atau manusia lain selain dirinya, maka perempuan itu bisa dikatakan telah kehilangan identitas dirinya sendiri sebagai manusia. Sistem, kepercayaan dan norma yang ada di masyarakat masuk ke dalam alam bawah sadar si perempuan sehingga menyebabkannya tidak mampu menolak apa yang dikatakan benar dan salah oleh lingkungannya. Perempuan sendiri terkadang tidak menyadari mengenai keinginannya tentang hidup ini sehingga mereka sering mengabdikan dirinya untuk orang lain, terutama ibu dan suaminya. Hal itulah yang akan menjadi bahasan saya dalam sebuah buku karangan Chitra Banerjee Divakaruni yang berjudul Sister of My heart. Buku ini secara garis besar menyiratkan hilangnya kesempatan perempuan India dalam membentuk identitasnya karena sistem kelas dan adat India yang masih sangat kental dengan sistem Patriarki. Dalam cerita ini pula, dapat kita lihat kebahagiaan perempuan India sering diukur dari betapa sanggup ia menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan seberapa sanggup dia mendapatkan suami yang mapan dalam lingkungan sosial dibandingkan dengan persahabatannya dengan sesama perempuan sendiri (sisterhood) atau dalam pengertian yang serupa, kebahagiannya sendiri.
Secara garis besar, buku ini bercerita tentang persahabatan dua orang gadis bersaudara, Anju dan Sudha yang begitu erat di tengah sistem adat di India yang masih konservatif. Persahabatan kedua perempuan ini yang begitu erat menimbulkan kekhawatiran di diri orang-orang terdekatnya, termasuk Ibu mereka, Bibi Nalini dan Ramur Ma. Setiap datang masalah, maka mereka akan menyelesaikannya dengan bercerita satu sama lain. Ibu mereka takut, karena semakin akrab mereka, maka gadis-gadis itu akan semakin kuat dan itu artinya melemahkan peran kedua Ibu mereka sebagai Ibu yang bisa membentuk anak gadisnya menjadi wanita baik-baik dan terpandang di masyarakat. Di akhir cerita, walaupun Anju dan Sudha terikat oleh suatu sistem adat di bawah dominasi laki-laki sebagai pusat, Anju dan Sudha tetap menganggap bahwa ikatan sisterhood yang terjalin antara mereka lebih penting dari pandangan masyarakat terhadap mereka.
Sistem Patriarki terinternalkan ke dalam jiwa setiap individu lewat sebuah institusi terkecil, yaitu keluarga. Kita tahu bahwa India, atau sebagaimana negara Asia lainnya, masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Maka itulah, peran keluarga sangatlah penting dalam menginternalisasikan identitas masing-masing individu yang lahir. Nilai-nilai terdoktrinasi oleh suatu komunitas yang masih hidup dalam bayang-bayang patriarki sehingga akibatnya ada sebuah kaum inferior yang tersisihkan dan terintimidasi dari segala potensial yang mereka miliki. Perempuan menjadi suatu kaum yang pasif. Pasif di sini diartikan sebagai penerima, dan pelaku. Bahkan sebuah instusi lainnya, agama, juga mengukuhkan posisi perempuan sebagai mahluk yang tidak berguna. Kita bisa lihat dalam sebuah pepatah dalam kitab suci Hindu, “Wanita dan emas adalah akar dari semua kesulitan”(hal.168) dan pepatah kuno India “Suami adalah penguasa agung.”(hal.56). Ini berarti bahwa, terciptanya pembedaan atas gender di India sudah ada sejak agama terbentuk. Contoh konkrit yang penulis ingin ekspos dalam cerita Sister of My Heart ini adalah ketika Pishi, Bibi dari kedua gadis itu mengatakan suatu kalimat tentang posisi anak perempuan, “ Mungkin sang Bidhata Purush tidak datang untuk bayi-bayi perempuan.”(hal.14) Bidhata Purush adalah dewa Nasib yang dipercayai menentukan nasib baik atau buruk dari bayi-bayi yang baru dilahirkan. Dan Pishi mengatakan itu karena ketika kelahiran Anju dan Sudha nasib sial menimpa keluarga mereka, yaitu meninggalnya ayah mereka. Sehingga bila kita simpulkan sendiri, di dalam kebudayaan India, perempuan seolah mempunyai nasib buruk sejak mereka dilahirkan. Bahwa seorang perempuan harus bersikap baik “gadis-gadis berbudi bagai lampu terang, menyinari nama bundanya” dan apabila tidak maka dia “bagai puntung berapi, menghanguskan nama keluarga”.(hal.18) Inilah dikotomi terhadap karakter perempuan dalam cerita ini. Sudha dan Anju harus memilih antara menjadi seseorang yang benar-benar baik atau kalau tidak maka dia bagaikan putung berapi. Seperti yang dianalisa Virgina Woolf dalam stereotip tokoh perempuan dalam kebanyakan cerita-cerita fiksi karya pengarang laki-laki bahwa tidak ada ruang bagi tokoh-tokoh wanita. Peran mereka hanya dua, entah menjadi yang paling baik atau paling jahat. Hubungan antara Ibu dan anak perempuan dalam kebudayaan India juga terlihat tidak seimbang. Dalam cerita ini, sang Ibu terlihat sebagai pihak yang mendominasi anak-anaknya, sedangkan sang anak perempuan menjadi pihak yang pasif dan harus menuruti semua perintah Ibunya. Si anak perempuan tidak berani untuk menentangnya karena itu berarti mesti menghadapi kritik dari masyarakat tentang tingkah laku sosialnya.
Peran Ibu adalah sebagai seseorang yang memberikan perintah, instruksi kepada anak perempuannya. Ibu juga menjadi media penanaman nilai-nilai feminitas terhadap anak perempuannya. Seperti Ibu Sudha, Bibi Nalini, yang mengajarkan Sudha bagaimana cara memasak, menjahit baju, membentuk lengkung alis sempurna, membuat manisan mangga dan lain-lainnya yang bertujuan untuk menyenangkan hati suami dan menjadi isteri yang sempurna. Ia melakukan semua usaha seperti “..bergaul dan mengunjungi wanita-wanita dari keluarga-keluarga penting di India,” (hal.72) untuk mendapatkan status sosial dari masyarakatnya. Sebagai akibat, si anak perempuan menjadi tertekan dengan itu karena pada dasarnya, sang Ibu tidak begitu memahami apa yang diinginkan oleh anak perempuannya. Si Ibu memaksakan keinginannya dengan dalih demi kebahagiaan anak perempuannya.
Tadi ketika ia mengumumkan bahwa aku harus tetap di rumah sementara Anju akan kuliah, aku merasa aneh sekali. Rasanya aku berada dalam terowongan gelap berkelok-kelok yang menekan diriku. Apa yang memberinya hak untuk mengendalikan hidupku, untuk mengekangku dengan dalih kewajibannya sebagai Ibuku? Salah, salah, masyarakat yang mengatakan bahwa hanya karena ia melahirkanku, ia boleh memenjarakan aku.(hal.77)
Betty Friedan mengatakan dalam sebuah essainya mengenai penyebab kenapa kebanyakan perempuan tidak bisa berkembang dalam hidupnya adalah: karena adanya sosok ideal tentang feminitas bahwa perempuan haruslah berperan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik sehingga mereka tidak punya kesempatan lebih untuk mengembangkan identitas mereka. Dalam buku Sister of My Heart bisa kita lihat, ketika Sudha, salah satu tokohnya berkeinginan menjadi seorang desainer baju terkenal karena kemampuannya yang sangat bagus di bidang jahit menjahit, namun harus merelakan cita-citanya pupus karena perkawinan, sebuah ikatan yang dianggap amat sakral di dalam kehidupan bermasyarakat di India. Akhirnya bakat yang ia miliki malah dipermak oleh Ibunya karena ia dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yaitu yang bisa melayani suami dan melakukan pengorbanan untuk suami tanpa memperhatikan sedikit pun mengenai keinginannya untuk mengembangkan dirinya menjadi perempuan yang mandiri.
“..gunanya apa(kuliah)? Itu malah akan menimbulkan banyak gagasan aneh dalam benaknya. Aku hanya membiarkannya menyelesaikan sekolah demi menghormati Ibumu, yang sudah begitu banyak mengeluarkan uang untuk itu”(hal.75)
Sehingga wajar bila anak-anak perempuan itu mempertanyakan tentang kebahagiaan mereka, “ataukah karena aku anak perempuan maka kebahagianku tidak penting? aku yakin kalau aku anak laki-laki Ibu tidak akan berbicara seperti ini padaku.”(hal.61).
Di buku ini juga bisa kita lihat adanya kontrol terhadap reproduksi perempuan oleh masyarakatnya. Terdapat ide bahwa seorang perempuan akan sangat dihargai apabila dia berhasil mempunyai anak entah suaminya mampu atau tidak untuk memberikan anak. Perempuan akan selalu dijadikan kambing hitam ketika suatu kehamilan tidak bisa terjadi. Seperti misalnya, saat Sudha tidak juga kunjung hamil. Ibu mertuanya membawanya ke dokter untuk memeriksakan dirinya, sementara suaminya tidak. Ketika dokter pun akhirnya mengatakan bahwa dia tidak mandul, tetap saja, keluarganya membawanya ke sebuah kuil kelahiran, Dewi Shashti di Belapur. Tetapi suaminya, tetap tidak diperiksa. Lebih parah lagi, jenis kelamin jabang bayinya pun sudah ditentukan oleh keluarga si suami tanpa meminta pendapat dari si Ibu sendiri. “Berdoalah kepada Dewi, meminta anak laki-laki.”(hal.214) Di kuil itu, terdapat banyak perempuan yang mengalami nasib yang serupa, bahwa kalau mereka tidak bisa melahirkan maka suami mereka akan menikah lagi.. Bahwa ketidakmampuan diri mereka untuk memberikan anak adalah suatu nasib buruk yang tidak bisa dielakkan atau dibenarkan. Akibatnya, si perempuan harus pasrah, walau sudah berusaha sedemikian rupa agar dirinya bisa hamil, kepada keputusan dari suaminya. “ Tetapi kalau aku hamil, mereka tidak akan melakukan itu. Dewi sudah memberiku jawaban. Tapi aku tidak mengerti.”(hal.217) Jadinya, pikiran perempuan akan terkungkung pada suatu ide bahwa kebahagiaan mereka dinilai dari kemampuan mereka untuk memberikan anak, terutama anak laki-laki, pada komunitas mereka bukan karena mereka yang menginginkannya. Ini juga yang akhirnya dikatakan oleh Betty Friedan sebagai “a problem of identity experienced by many women, who are unable to develop a sense of self-worth and purpose their lives solely through childcare, marriage, and domestic responsibilities.” Perempuan yang menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan lebih dan kurang mengerti hak-haknya sebagai individu dalam pencapaian kebahagiaan akhirnya berlomba-lomba untuk bisa mengabdikan dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik.
Ada contoh perempuan yang berani menentang ketidakadilan dalam cerita tersebut. Pishi, seorang perempuan konservatif, yang ternyata diam-diam sudah memendam hasrat sejak lama untuk lepas dari aturan konservatif masyarakat. Saat Ibu mertua Sudha memutuskan untuk membunuh bayi yang ada di dalam kandungannya hanya karena bayi itu bukan bayi laki-laki seperti yang diharapkan olehnya, ia berkata,”Kenapa ia harus memedulikan apa yang dikatakan orang-orang? Apa hasilnya untuknya selama ini, sepanjang hidup takut tentang apa yang akan dipikirkan masyarakat?”(hal.247) Perempuan ini menyadari bahwa selama mereka hidup dibawah ketakutan tentang apa yang dipikirkan tentang komunitas mereka maka hidup mereka tidak akan bahagia. Hak-hak mereka sebagai seorang manusia direnggut, dan hilang sejalan dengan norma-norma itu dan akibatnya mereka menjadi mahluk yang tidak mempunyai pilihan.
Bagian yang paling menarik dari buku ini yang merupakan sentral dari isi cerita keseluruhan adalah mengenai perasaan yang terjalin di antara kedua mahluk berjenis kelamin perempuan, Anju dan Sudha, yang ternyata tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun, namun mereka saling memahami satu sama lain melebihi yang Ibu mereka mengerti tentang diri mereka. Atas dasar hubungan yang kuat itulah mereka berani menentang apa yang ada di sekitar mereka, ketidakadilan terhadap posisi mereka di masyarakat, sebagai perempuan yang inferior dan saling memberikan dukungan satu sama lain, hal yang mereka tidak dapatkan dari masyarakat ataupun Ibu mereka sendiri. Saat bertemu, Anju dan Sudha bisa bercerita tentang cita-cita mereka, keinginan mereka, dan hampir tidak ada satu rahasia pun yang ditutup-tutupi dari diri mereka. Bahkan mereka tidak peduli dengan status mereka sendiri.
“Aku akan tetap mencintaimu. Tak peduli siapa kau. Aku akan mencintaimu karena kau mencintaiku. Aku mencintaimu karena tidak ada orang lain mengenal kita seperti kita saling mengenal.” (hal.54)
Hal ini begitu ironis tatkala masyarakat justru berusaha untuk menjauhkan mereka berdua karena menurut masyarakat kedekatan mereka itu tidak normal, dan dapat menganggu perkembangan jiwa mereka. Anju disuruh untuk bergaul dengan wanita lain yang mempunyai saudara laki-laki yang bisa dijodohkan kelak dengannya daripada berteman dengan Sudha yang cantik yang hanya akan membuatnya iri. Padahal, Anju sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu, sebaliknya ia merasa genggaman Sudha bagaikan seteguk air bersih sejuk di hari yang panas. Kenyataannya masyarakat itu iri akan kebahagiaan yang mereka berdua miliki, mereka tidak butuh orang lain saat bersama. Mereka tidak pernah ketakutan akan kesendirian, tanpa suami ataupun teman bergaul di lingkungan sosial karena mereka sudah menemukan apa yang mereka butuhkan di diri yang lainnya. Hal ini sesungguhnya dapat melemahkan kekuatan sistem patriarki yang tumbuh di tengah masyarakat tersebut. Ketika perempuan menyadari bahwa hubungan antar sesama perempuan (sisterhood) lebih penting dari yang lainnya, maka mereka tidak akan bergantung pada keinginan untuk menjadi pelengkap laki-laki demi mendapatkan kebahagiaan mereka.
Dalam kasus ini saya melihat bahwa perempuan India kurang lebih hanyalah sebagai suatu objek yang dikenai tindakan oleh masyarakatnya. Badannya pun dijadikan tempat eksploitasi terhadap dirinya, energinya, nilai dirinya, karena mereka dituntut agar hamil dan melahirkan bayi laki-laki. Mereka diikat oleh komunitas dimana mereka tinggal, dan diharuskan mempunyai keyakinan dan kepercayaan yang telah ditanamkan oleh komunitas itu untuk ia turuti. Namun, karena norma dan nilai-nilai itu ditanamkan dengan proses yang lama, semenjak mereka kecil dengan mencampurkannya ke dalam mitos-mitos dongeng sebagai role model mereka seperti yang Pishi ceritakan pada kedua anak perempuan itu ketika mereka masih kecil, wajarlah apabila mereka menganggap kewajiban yang disodorkan kepada mereka itu adalah hal-hal yang seharusnya mereka lakukan. Dan menentangnya berarti akan membuat Tuhan marah. Akhir kata, apabila perempuan tidak memulai suatu tindakan untuk mengubahnya maka ketidakadilan itu akan terus ada, seperti duri dalam sekam yang walau tidak nampak tapi terasa sakit sekali. Mereka harus berani mengungkapkan keinginannya, membuat suatu keputusan diantara pilihan hidup mereka. Sudha pun akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah mertuanya dan memilih untuk membesarkan anak perempuannya daripada membunuhnya.
Aku membilas untuk menghilangkan kewajiban bertugas. Aku membilas untuk menghilangkan hukuman mati yang dijatuhkan pada putriku. Aku membilas untuk menghilangkan semua yang dituliskan Bidhata Purush, karena aku sudah jemu menjalani kehidupan yang ditentukan orang lain. Kita kaum wanita punya daya kekuatan yang luar biasa bila kita percaya pada diri sendiri!(hal.249)
Akhir kata, masyarakat juga harus memberikan mereka kesempatan lebih dalam mengenyam pendidikan dan untuk mendapatkan status sosialnya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Wallstonecraft’s dalam A Vindiction of the Rights of Woman: women were as capable as men of reason and self-determination, and that if educational and social disadvantages were removed women would be able to enjoy the equal opportunities which logic and justice suggested they deserved.
Posted at 01:38 pm by feminist05
Permalink
Nurul F.A.
Midterm Paper
Di dalam masyarakat, kesanggupan seorang wanita untuk dapat menjadi seorang wanita karier dan juga seorang ibu rumah tangga yang baik akan selalu dipertanyakan. Bagi masyarakat yang sudah dapat menerima dualisme peran wanita ini akan mendukung para wanita untuk berkarir setinggi-tingginya. Akan tetapi bagi mereka yang belum dapat menerimanya akan menganggap peran sebagai wanita karir adalah hal yang melanggar kodrat mereka sebagai wanita, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Sebagai salah satu contoh karya yang juga memunculkan pertentangan antara dua persepsi ini adalah film Stepford Wives. Di dalam film ini dimasukkan adegan-adegan yang mendukung kedua persepsi ini sehingga terkadang memunculkan ambiguitas. Keambiguitasan ini, entah dimaksudkan agar semakin menjelaskan perbedaan dalam tiap persepsi tersebut atau malah seakan-akan mengambil jalan tengah yang nantinya akan menjadi solusi terbaik atas perbedaan pendapat ini. Kemudian untuk membuatnya semakin lebih menarik maka juga dimasukkan beberapa nilai gender dalam film ini.
Untuk lebih dapat mengerti pembahasan berikut ada baiknya bila mengetahui ringkasan cerita dari film ini. Joanna Eberhart adalah seorang produser pada sebuah stasiun tv yang terbilang cukup sukses. Dia sedang mempromosikan dua acara tv terbarunya yang berjudul a man, a woman and a buzzer dan I can do better . Namun ternyata program tv itu hanya menimbulkan kekacauan, dari ditembaknya 3 aktor pendukung acara tersebut, percobaan pembunuhan yang dia alami juga hilangnya pekerjaan Joanna. Hal-hal tersebut menimbulkan shock pada diri Joanna, sehingga membuat suaminya Walter Kresby unuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mengajak keluargana untuk pindah ke Stepford Wives. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Claire Wellington yang berpenampilan seperti boneka Barbie dengan warna-warna bajunya yang cerah. Kemudian Joanna bertemu dengan Bobby Markowitz, seorang penulis Yahudi yang baru saja sembuh dari ketergantungan minuman keras, dan juga Roger Bannister, seorang gay yang merasa frustasi dengan pasangan gay-nya. Bersama-sama mereka berusaha mencari tahu tentang keanehan yang terjadi pada istri-istri yang ada di Stepford Wives. Namun satu persatu teman-teman Joanna yaitu Bobby dan Roger juga berubah dan mulai bertingkah laku seperti robot. Akhirnya Joanna mengetahui bahwa pada dasarnya orang-orang tersebut bukan lagi manusia melainkan robot. Akan tetapi setelah mengetahui hal ini, Joanna lalu dipaksa oleh suaminya dan perkumpulan pria-pria di situ agar mau untuk diubah menjadi wanita sempurna seperti pasangan-pasangan mereka. Kemudian tiba-tiba Joanna berubah menjadi sama seperti mereka, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak berubah karena suaminya memutuskan lebih baik untuk memiliki Joanna yang biasanya dibandingkan hanya sebuah robot dan akhirany mereka memutuskan untuk menghentikan semua keanehan yang terjadi di situ.
Pada dasarnya film ini dapat terbagi menjadi dua tahap yaitu sebelum pindah ke Stepford Wives dan di Stepford Wives itu sendiri. Pada awalnya yaitu pada tahap sebelum Stepford Wives kita seperti dihadapkan dengan akibat-akibat yang timbul jika membiarkan wanita untuk berkarir di luar rumah. Akibat-akibat seperti terabaikannya anak-anak, tidak dipedulikannya para suami hingga perasaan terdominasi yang dirasakan oleh para suami. Penggambaran ini tentu saja merupakan perwujudan dari pandangan masyarakat yang menentang gerakan feminist liberal. Seperti halnya apa yang berusaha Art Buchwald tunjukkan melalui karyanya yang berjudul The Feminine Mistaque. Di dalam The Feminine Mistaque itu digambarkan tentang seorang suami yang mendorong istrinya untuk bekerja diluar rumah walau sebenarnya sang istri sudah merasa cukup dengan menjadi ibu rumah tangga biasa aja, namun karena dorongan dari suaminya tersebut maka ia setuju untuk bekerja di luar rumah yang ternyata malah menyebabkan kekacauan pada kehidupan rumah tangga mereka, mulai dari rumah yang tidak terurus sampai dengan anak-anak yang terabaikan.
Kemungkinan-kemungkinan yang disebut diatas dimunculkan melalui beberapa adegan dan dialog dalam film itu. Untuk kemungkinan timbulnya perasaan terabaikan dan renggangnya hubungan ibu dan anak ditunjukkan dengan gambar dari Pete, yang merupakan anak dari Joanna Eberhart (Nicole Kidman) dan Walter Kresby (Matthew Broderick), untuk Joanna. Gambar tersebut berisi tentang kejadian pada saat Joanna ditembak oleh John yang merupakan peserta dalam salah satu program tv yang dibuat oleh Joanna yang berjudul I can do better. Dalam gambar itu terasa sekali keironisan yang terjadi antara hubungan Joanna dengan Pete, dimana gambar itu hanya menunjukkan fakta yang terjadi tanpa disertai emosi atau perasaan kasih dari si anak kepada ibunya, namun ternyata gambar tersebut dapat membuat Joanna terharu. Juga pada salah satu kata-kata Walter dimalam setelah mereka menghadiri perayaan kemerdekaan Amerika di Stepfordwives yaitu your kids barely know you and our marriage is falling apart and your whole attitude makes people want to kill you
Sedangkan untuk resiko dinomorduakannya para suami lebih dapat dilihat dari keluhan Walter kepada Joanna akan pernikahannya yang semakin memburuk. Pada saat itu Walter mengucapkan " you were so busy that we haven’t made love in over a year". Selain itu dalam dialog Walter dimasukkan pula bagaimana cara masyarakat menilai seorang wanita karir yang gila kerja seperti Joanna dengan mengkritik cara mereka berpakaian dengan kata-kata "only high-powered, neurotic, castrating Manhattan career bitches wear black."
Namun resiko yang paling ditekankan dalam film ini yang merupakan akibat dari dibiarkannya wanita untuk berkarir adalah dengan merasa terdominasinya para suami. Hal ini pulalah yang sebenarnya menjadi dasar dari semua perubahan para istri menjadi robot yang bias mereka kendalikan. Sejak di awal cerita atau tepatnya pada saat ditayangkannya cuplikan dari salah satu program tv yang dibuat oleh Joanna, dimana ada sepasang suami istri yang saling bersaing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dan dari pertanyaan-pertanyaan seperti siapa yang memiliki gaji lebih tinggi, lebih pintar bahkan juga pertanyaan mengenai siapa yang ingin menikahi wanita lesbian semuanya dijawab oleh si wanita dengan waktu yang lebih cepat daripada suaminya, menunjukkan betapa wanita tersebut sudah sangat mendominasi dalam rumah tangga daripada suaminya. Selain itu juga dapat dilihat dari keluhan- keluhan yang diungkapkan para suami di Stepford Wives termasuk Walter ketika dia memutuskan ingin mengubah Joanna menjadi robot seperti wanita-wanita lainnya disitu.
"Eversince we met you’ve beaten me at every thing. You’re better educated, you’re stronger, you’re faster, you’re better dancer, a better tennis player, you’ve always earned at least 6 figures more than I could ever dream of, you’re better speaker, a better executive, you’re even better at sex…I got to hold your purse, I got to tell the kids that you’d be late again, I got to tell the press that you had no comment, I got to work for you….we’re the wuss, the wind beneath your wings, your support system, we’re the girl."
Dan untuk semakin mendukung betapa salahnya membiarkan wanita untuk mendapat persamaan dalam memperoleh pendidikan dan juga dalam berkarir maka pada akhir cerita ditunjukkan bagaimana akhirnya Claire Wellington, seorang wanita yang pintar dan barhasil dalam bidangnya, adalah orang yang menjadi otak dalam semua yang terjadi di Stepford Wives termasuk membuat robot Mike Wellington, suaminya sendiri demi mewujudkan harapannya akan dunia yang sesuai dengan keinginannya, "a world where men were men and women were cherished and lovely….before women were turning themselves into a robot."
Namun begitu kita masuk ke dunia Stepford wives kita seperti dapat melihat bagaimana pula yang akan terjadi apabila wanita tidak hanya memiliki kebebasan bekerja namun juga kebebasan untuk berpikir, demi agar benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang baik sesuai dengan kodrat mereka. Para istri disini digambarkan sangat patuh dan sangat memuja suami mereka juga mereka sangat tergila-gila dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga. Seperti apa yang Claire katakana pada saat mengajak Joanna untuk ke tempat berkumpulnya para wanita yaitu di Simply Stepford day Spa mengenai penampilan yang seharusnya bagi seorang istri yang baik, "whatever we do we always want to look our very best…imagine if our husbands saw us in worn, dark, urban sweat clothes with stringy hair and almost no make up". Sedangkan menurut Joanna hal tersebut perilaku mereka yang terlalu patuh itu serta penampilan mereka yang tamapk seperti boneka Barbie itu sangatlah aneh sama seperti dengan apa yang dia deskripsikan mengenai para istri tersebut this woman are like deranged-flight-attendant friendly. Selain itu pula ada dialog yang menggambarkan mengenai bagaimana jadinya apabila wanita tidak diberikan kebebasan yang diungkapkan oleh Joanna ketika walter memintanya menyetujui keinginan walter agar menjadi seperti istri-istri yang lain di Stepford Wives "woman who behave like slaves, woman who does obsessed with cleaning their kitchen and doing their hair woman who never challenge you in anyway. Woman who exist only to wait on you hand and foot". Hal ini seperti apa yang disuarakan oleh Wollenscraft’s A Vindication Of The Rights of Women (1792) yang dikutip dari buku Twentieth-Century Women Novelist, Feminist Theory Into Practice(hal 33)
that women were as capable as men of reason and self-determination, and that if educational and social disadvantages were removed women would be able to enjoy the equal opportunities which logic and justice suggested they deserved…”their emphasizes on the irrationality of individual men denying individual women equal rights ignores the wider structural inequalities between men and women which create unequal power relations in a patriarchal society
Masalah lain yang juga muncul dalam cerita ini adalah masalah gender dengan mengambil melibatkan kisah pasangan homoseksual untuk menggambarkan betapa luasnya dan ummnya Stepford Wives itu. Walaupun tampak nyata sekali bahwa masih akan selalu ada perspektif negative tentang homoseksual ini seperti yang dikatakan oleh beberapa suami yang sedang mengadakan pertemuan yang bertujuan untuk merubah Roger Bannister agar menjadi ‘seseorang yang benar-benar sesuai’ dengan apa yang diharapkan oleh pasangannya Jerri Harmon bahkan juga untuk menyesuaikan dengan pandangan mengenai bagaiman seorang pria harusnya terlihat. Hinaan yang dilontarkan oleh pria-pria tersebut dengan menyebutnya ‘girlfriend’ ataupun 'miss thing'. Pandangan lain mengenai gender juga muncul dalam tiap pembedaan antara hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan oleh wanita dan hal hal apa saja yang umumnya dilakukan oleh pria. Contohnya adalah dialog antara Bobby Markowitz dan Dave, suaminya ketika melihat Joanna membuat kue-kue untuk bekal anaknya pergi berkemah
(Dave) Why don't you make stuff like this?
(Bobby) Why don’t you?
(Dave) Because I have penis.
Secara keseluruhan film ini berusaha untuk memaparkan dan memberi contoh apabila kedua persepsi, yaitu antara yang mendukung feminis liberal dan yang anti terhadap gerakan feminis, apabila dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan akibat yang buruk. Oleh karena itu akhir film ini bagaikan sebuah solusi dimana seorang wanita dapat tetap bekerja dan juga dapat tetap dekat dengan keluarganya, yang ditunjukkan ketika Joanna, Bobby dan Roger diwawancara mengenai keberhasilan mereka setelah berhasil menhentikan rencana Claire, dimana pada saat itu Joanna tampak membawa suami dan kedua anaknya untuk ikut hadir. Selain itu untuk membuat film ini lebih hidup dan lebih menarik maka dimasukkanlah masalah-masalah gender. Masalah-masalah seperti masalah homoseksual dan juga pembedaan antara apa yang disebut dengan pekerjaan pria dan pekerjaan wanita yang terjadi pada masyarakat kita membuat film ini dapat diminati banyak pihak.
Posted at 01:35 pm by feminist05
Permalink
|
 |
|
|
|
|