KRITIK FEMINIS 2005


Aug 30, 2005
Menyusu Seksualitas Perempuan

 

Menyusu Seksualitas Perempuan

(sebuah pembacaan feminis cerpen “Menyusu Ayah” karya Djenar Maesa Ayu)

                          Marissa Saraswati/Midterm Test 

            Sebuah diskusi. Toko buku terkemuka di Jakarta Selatan. Pembicara adalah penulis wanita, muda, tampil menonjol dengan tank-top bermotif macan tutul lengkap dengan atributnya  -sebatang rokok di tangan- yang asapnya mengepul sepanjang diskusi berlangsung. Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis dengan nada menilai, untuk kemudian menyudutkan. Pertanyaan tentang mengapa tema tulisannya selalu seputar seks. Penulis hanya tersenyum, seperti tidak terganggu dengan nada si penanya ataupun mata pria-pria yang sejak tadi terus asyik menatap ke arah payudaranya. Menjentikkan rokoknya, ia menjawab, seperti yang jelas saya ingat hingga kini, “Kenapa tidak? Hanya itu yang saya tahu dan saya mengerti benar.”  Kemudian saya, seperti juga seluruh ruangan, terdiam atas jawaban  itu.

            Tak jarang perempuan yang mampu memanfaatkan seksualitasnya, bicara lantang tentang seks, ataupun yang menggunakan seksualitasnya, mendapat penilaian negatif dari masyarakat kita yang dikonstruksi oleh pemikiran patriarki ini, seperti yang terjadi pada penulis dalam cerita kecil di atas. Anggapan masyarakat bahwa seksualitas perempuan hanya boleh digunakan untuk tujuan akhir memuaskan lelaki dan bahwa wanita hanya sekedar pelengkap pasif dalam hubungan seks adalah dogma-dogma yang ditanamkan untuk tetap mempertahankan dominasi pria. Dalam cerpen Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu, seksualitas perempuan direkam dalam sudut yang berbeda yaitu sebagai sebuah kekuatan yang dimiliki perempuan –yang tentunya bertentangan dengan pola pikir sistem patriarki.

            Gambaran seksualitas perempuan yang ideal yang selama ini dikenal masyarakat identik dengan paras cantik, tubuh langsing namun berisi, rambut panjang dan indah, kulit putih dan halus, penampilan menarik, pantat dan payudara besar. Namun dalam cerpen ini, seksualitas digambarkan sama sekali berbeda melalui tokoh Nayla. Tokoh Nayla adalah tokoh sentral dalam cerpen ini yang mampu menggunakan seksualitasnya sebagai seorang perempuan untuk mencapai haknya, yaitu memperoleh kasih sayang –yang dalam cerpen ini terbungkus dalam kenikmatannya melakukan oral sex.  Tokoh Nayla dihadirkan dengan ciri-ciri yang jauh dari gambaran ideal. Tidak ada paras cantik, wajah Nayla tidak cantik. Tidak ada rambut panjang, indah, halus, mengembang seperti yang selalu diagung-agungkan produsen shampo, yang ada hanya potongan rambut yang pendek. Tidak ada kulit putih dan halus seperti dalam iklan sabun bertabur bintang, yang ada hanyalah kulit hitam. Tidak ada tubuh langsing yang sexy, yang ada hanyalah tubuh yang kurus kering dan tak menarik. Dan yang pasti tidak ada payudara besar, yang tersedia hanyalah payudara yang rata.

            Deskripsi yang kontradiktif ini sesungguhnya dipakai untuk mendobrak gambaran ideal tentang seksualitas perempuan itu yang diciptakan oleh pemikiran-pemikiran patriarki yang bertujuan memenangkan kebutuhan lelaki semata. Dengan penggambaran tokoh Nayla yang berlawanan 180 derajat dengan gambaran ideal yang ada di masyarakat, perempuan ingin dibebaskan dari tuntutan masyarakat patriarki yang mengharuskan perempuan tampil mempercantik diri demi kepuasan lelaki saja. Seksualitas yang dimiliki perempuan tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja, tetapi bagaimana ia merasa nyaman terhadap dirinya sendiri, walaupun itu berarti tampil apa adanya. Hal ini hampir sama dengan tulisan MacKinnon yang berusaha membongkar dominasi seksualitas. Menurutnya, masalah utama terletak pada bagaimana mengkonseptualisasikan seksualitas. Para feminis, menurutnya mengkonseptualisasikan realitas sosialnya berbarengan realitas seksualitasnya. 

            “Payudara tidak untuk menyusui tapi hanya untuk dinikmati lelaki, begitu kata Ayah. Saya tidak ingin dinikmati lelaki. Saya ingin menikmati lelaki, seperti menyusu penis Ayah waktu bayi.” (Hlm.37) Melalui baris-baris di atas, “Menyusu Ayah” dengan nyata gamblangnya menyajikan dominasi sistem patriarki dalam hal seksualitas dan keinginan perempuan untuk mengubahnya. Tidak sedikit lelaki yang berpikiran hampir sama dengan tokoh Ayah, bahwa fungsi payudara yang utama adalah untuk dinikmati lelaki. Rasa kepemilikan laki-laki atas perempuan yang begitu besar  membuat lelaki bahkan berpikir bahwa organ-organ seksual wanita diciptakan hanya untuk memuaskan kebutuhan laki-laki. Bahkan tak jarang perempuan yang berpikir seperti itu dan seakan menyerah pada anggapan itu kemudian melakukan berbagai cara untuk memperbesar dan memperindah payudara dengan dalih agar dapat memuaskan lelaki.

            Tetapi, tokoh Nayla lagi-lagi berbeda. Ia tidak menyerah begitu saja pada anggapan bahwa payudara tercipta untuk dinikmati lelaki –yang terkadang dijustifikasi sebagai kodrat. Nayla memilih melawan. Ia tidak berusaha untuk memperbesar payudara atau pun menyesali kenyataan bahwa payudaranya rata. Karena ia tidak ingin dinikmati lelaki. Bentuk perlawanan perempuan dalam cerpen ini tidak saja berhenti pada menentang anggapan itu, tetapi lebih dari itu berusaha mencapai persamaan gender, yaitu dengan mengajukan keinginan bahwa ia ingin menikmati lelaki –hal yang agak janggal didengar dalam masyarakat patriarki. Mengapa janggal? Karena selama ini yang tertanam adalah perempuan hanya sebagai obyek semata, yang notabene bersifat pasif sedangkan lelaki adalah subyek yang bersifat aktif. Sedangkan cerpen ini mencoba menghadirkan pemikiran bahwa wanita bukan sekedar obyek tetapi juga dapat berperan aktif, memiliki hak untuk aktif, untuk menikmati penis bukan sekedar dinikmati payudaranya. Karena perempuan bukan obyek dan perempuan dihadirkan sederajat dengan laki-laki, termasuk dalam hal seksualitas.

Penggambaran seksualitas perempuan sebagai sebuah kekuatan dalam cerpen ini terlukis pada bentuk pengeksploitasian teman-teman Nayla dan teman-teman Ayah yang dilakukan Nayla. Nayla menggunakan seksualitasnya dan birahinya  untuk mendapatkan kenikmatan yang diinginkannya. Dengan cara ini, bukan saja Nayla mendapatkan apa yang dia inginkan tetapi juga membuatnya mendominasi banyak pria, misalnya saja beberapa teman lelakinya. Bentuk eksploitasi Nayla adalah dengan memaksa teman laki-laki sebaya untuk membiarkannya menyusu dari penis mereka.

            Kesadaran dan keinginan kaum perempuan akan kesederajatan dengan laki-laki juga terlihat dalam kutipan ini, “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.”  Tokoh Nayla tetap menyadari bahwa dirinya perempuan, meskipun ia melakukan hal-hal yang diasosiasikan dengan laki-laki, seperti misalnya mengenakan celana pendek atau celana panjang, bermain kelereng dan mobil-mobilan, memanjat pohon dan berkelahi, dan kencing berdiri. Namun, ia tidak mau juga ia dikatakan lemah seperti masyarakat menstereotipekan perempuan yang sekaligus juga menolak stereotip-stereotip tentang feminitas. Nayla merasa dirinya juga sekuat lelaki karena ia menghisap penis Ayah. Seperti diketahui, penis adalah lambang kejantanan dan kekuatan seorang pria, yang berarti juga lambang maskulinitas. Maka, dengan menghisap penis Ayah dan menyusu dari Ayah, Nayla merasa telah diwariskan kekuatan yang membuatnya sama kuat dengan laki-laki. Repetisi kutipan di atas pada awal dan akhir cerpen mempertegas kebulatan tekad tokoh Nayla –yang merepresentasikan perempuan- untuk mencapai persamaan derajat dengan lelaki. Nayla tidak menyedot air susu Ibu tetapi menyedot air mani Ayah. Hal ini dapat dibaca sebagai upaya untuk menolak nilai-nilai feminin yang ditawarkan dan justru berusaha untuk merebut kekuatan dalam symbolic order melalui menyusu Ayah.

            Pada cerpen yang terpilih menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan tahun 2002 ini, seksualitas digunakan perempuan (tokoh Nayla) sebagai sarana untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan bagi diri sendiri. Seksualitasnya sebagai seorang perempuan bagi Nayla merupakan tempat di mana perempuan merasa aman dan lepas dari ketakutan dan dominasi kaum pria di dunia luar sana. Karena setiap kali ia menyusu pada teman-teman Ayah, ia tidak pernah lagi merasa kesepian dan hatinya tidak lagi gundah. Ia merasa nyaman dan ia mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Hal ini sekali lagi coba ditekankan penulis bahwa dalam seks, perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kenikmatan ; bahkan seksualitas perempuan merupakan kekuatan yang selayaknya digunakan dengan baik.   

            Membaca Menyusu Ayah seperti disodorkan sebuah foto yang hendak menyadarkan kita bahwa seksualitas yang kita miliki sebagai perempuan sangat indah dan harusnya dipergunakan bukan semata untuk kepuasan lelaki saja tetapi juga untuk kita menemukan diri kita dan kenyamanan serta rasa aman dalam diri kita sendiri. Menyusu Ayah membawa perempuan akan harapan adanya perubahan dalam masyarakat sehingga perempuan tidak perlu merasa seperti seorang jalang untuk memiliki birahi, perempuan dapat memanfaatkan seksualitasnya, seksualitas perempuan menjadi sesuatu yang dihargai bukan yang diremehkan, dan wanita ditempatkan berdampingan dengan pria bukan di bawah.    

 

                                                            *    *   *


Posted at 02:19 pm by feminist05

lan
November 26, 2008   11:40 AM PST
 
huff...
raind
May 12, 2008   03:03 PM PDT
 
yang ngatakan persamaan genderhanyalah orang gila saja....
dimata Allah wanita dan pria adalah maklukNya yang sama2 diciptakan untuk menyembahNya, secara kedudukan mereka sama...tetapi dalam peran mereka dibedakan....
oleh karena itu kenapa dari jaman yunani kuno, dan zaman sebelum2nya peran perempuan adalah sebagai ibu. dalam kajian ilmiahpun fisik seorang wanita sangat mendukung untuk mendidik anaknya..
dengan kata lain wanita memiliki ciri2 fisik yang menunjang perannya dalam hal rumah tangga misalnya hormon yang bertambah ketika wanita melahirkan.
jadi klo wanita disamakan dengan pria dalam segala hal terutama dalam perannya sebgai pengatur kebutuhan domestik maka akan hancur institusi keluarga yang ada,
mana sosok ibu yang mengapdikan hidupnya untuk mendidik anaknya. saya kira positif dan negatif tidak bisa disamakan yang bisa adalah saling melengkapi. klo ingin macem2 ya kongslet.
adil gak selalu harus sama. msak uang saku adek kecil disamain dengan kakaknya sma.
swasti
July 29, 2006   04:15 PM PDT
 
nice intro, bob! though i never like djenar.. feminisme di kata-katanya hanya seperti lagu dangdut di tengah goyang dahsyat
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home Next Entry




<< August 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed