Perempuan dan Hantu Pemintal Kegelapan:
Janus dalam Realita
Sebuah Analisa atas Cerpen “Pemintal Kegelapan” karya Intan Paramaditha
Nosa Normanda/ Final Term Paper
Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran anda ketika mendengar kata-kata alat pemintal, setan perempuan, pemburu yang gagah, cermin, dan kegelapan? Korelasi yang paling mungkin adalah: dongeng. Di dalam dongeng dapat kita temukan alat pemintal dalam kisah Putri tidur, setan perempuan yang selalu muncul dalam bentuk perempuan antagonis dan iblis pada dongeng-dongeng istanasentris dan legenda-legenda urban, pemburu yang gagah yang muncul dalam dongeng-dongeng seperti Putri Salju dan si Jubah Merah, cermin yang menjadi alat narsis dan ambisi kecantikan ratu cantik ibu tiri Putri Salju, dan kegelapan yang menjadi latar belakang kekuatan monster-monster perempuan dalam kisah-kisah Grimm dan legenda-legenda urban.
Di dalam cerpen “Pemintal kegelapan” karya Intan Paramaditha pada kumpulan cerpen Sihir Perempuan, elemen-elemen dongeng diatas dicampur secara apik dengan situasi yang seringkali dihadapi perempuan modern yang terkungkung diantara sistem masyarakat dan kewajibannya sebagai ibu juga ambisinya sebagai manusia. Simbol-simbol yang dipakai, tersusun secara rapi diantara isu-isu tentang penderitaan perempuan dan perkembangan mentalnya dalam merepresi masalah-masalah yang dihadapinya. Dalam essay ini, akan didiskusikan bagaimana cerpen tersebut menggunakan simbol-simbol mitos dan dongeng dalam merepresentasikan perjalanan hidup tokoh yang menjadi objek utama cerpen dan analisa dari sudut pandang sosial dan psikoanalisis.
Penggunaan Elemen Dongeng dalam Merepresentasikan Perempuan
Beberapa tulisan tentang sejarah penulisan dan pemikiran feminis, yang menyelidiki tentang asal mula pembentukan stereotip perempuan oleh sistem patriarki, menyimpulkan bahwa dongeng-dongeng, mitos-mitos tentang dewi, bidadari, monster, dan setan-setan perempuan, bahkan deskripsi perempuan dalam kitab suci memiliki andil yang cukup besar dalam pembentukan oposisi biner perempuan. Dualisme seperti Bidadari-Monster, Malaikat-Iblis, Istri-Pelacur, terbentuk melalui dongeng-dongeng dan mitos-mitos tersebut. Hal ini membentuk persepsi dalam diri setiap perempuan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang pasif dan reseptif, tidak mempunyai diri (the self), dan tunduk pada sistem “sang ayah” yang ada, seperti Putri Tidur, Putri Salju, atau Cinderella. Sedangkan perempuan jahat yang buruk adalah perempuan yang aktif, kreatif, dan pemberontak seperti Lilith atau ibu tiri Putri Salju. “Pemintal Kegelapan” menyajikan suatu kisah tentang sisi lain perempuan yang menghapus dualisme tersebut melalui simbol-simbol pada dongeng dalam cerita.
Untuk mengerti lebih jauh tentang penerapan simbol pada dongeng dalam cerpen “Pemintal kegelapan”, ada baiknya kita melihat seperti apa setan perempuan yang ada di dalam cerpen tersebut. Sang narator “Aku” menceritakan kisah yang didongengkan ibunya kepadanya, bahwa
“Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Wajahnya penuh guratan merah kecoklatan, seperti luka yang mengering setelah dicakar habis-habisan oleh macan. Bola matanya berwarna merah seperti kobaran api. Bila ia membuka mulutnya kau akan melihat taring-taring yang panjang” [hal. 10]
Si hantu perempuan mampu berubah wujud menjadi perempuan cantik pada siang hari, dan berubah kembali menjadi hantu buruk rupa di malam hari. Suatu hari ia jatuh cinta pada seorang pemburu dan hampir menikah, tetapi gagal ketika si pemburu tahu wujud aslinya. Awalnya ia begitu marah ketika pria itu meninggalkannya tetapi akhirnya ia menyerah pada perasaan cintanya lalu bersembunyi didalam loteng untuk memintal selimut bagi kekasihnya; “Pekerjaan itu tak pernah selesai karena si hantu perempuan tidak menggunakan benang untuk selimutnya. Ia memintal kegelapan.” [hal. 13]
Kisah di atas diceritakan kepada narator “aku” oleh ibunya ketika ibunya masih menjadi ibu rumah tangga yang bersuami. Dalam beberapa bagian cerpen terdapat beberapa hints tentang bagaimana kisah tersebut merupakan representasi kehidupan dan alienasi diri sang Ibu. Kita akan membahas lebih lanjut tentang hal ini lebih lanjut pada bagian lain essay ini.
Dongeng yang diceritakan diatas memperlihatkan suatu situasi dimana seorang pria dapat mencintai bagian dari wanita yang dianggap baik, cantik, dan ideal, tetapi menolak bagian lain yang buruk, menyeramkan, dan memiliki kekuatan. Awalnya si pria mengkhayalkan mimpi-mimpi untuk menikah dengan hantu perempuan yang menyamar itu dan “hidup di tepi sungai” bersamanya. Si hantu pun terbuai dengan rayuan si pemburu yang menjanjikan rumah yang kecil, tetapi “setiap saat terdengar gemericik air dan derai tawa anak-anak.” [hal. 11-12] Pola pikir seperti ini layaknya seperti sebuah impian pasangan abad 20 awal sebagai keluarga ideal seperti dalam serial klasik “Little House on The Prairie” pada tahun 1960-an.
Sang Pemburu, kekasih si hantu perempuan, adalah tokoh yang maskulin dan aktif. Ia mengatakan kepada kekasihnya, hantu perempuan yang menyamar, bahwa ia ingin mencari singa berbulu emas di dalam hutan. Niat pencarian singa ini adalah sebuah deskripsi tentang lelaki yang kuat dan aktif yang diidolakan dalam dongeng-dongeng. Penolakan si pemburu terhadap wujud asli si hantu perempuan adalah simbol suatu pelarian, suatu pernolakan terhadap bagian lain dari perempuan. Suatu penekanan tentang bagaimana patriarki menolak dan takut kepada sisi lain dari perempuan, sisi yang sesungguhnya.
Rasa kecewa dan marah si hantu terhadap kekasihnya yang dilampiaskan melalui kegaduhan-kegaduhan yang ditimbulkannya di antara masyarakat adalah sebuah representasi dari keaktifan dan kreativitas perempuan yang dianggap jahat dan destruktif. “Sungguh-sungguh ia murka. Ia terbang dari rumah ke rumah membuat gaduh mengganggu ketenangan manusia. Bayi menangis kala merasakan kehadirannya dan pemuka agama sibuk komat-kamit mengusirnya.” [hal 12-13] Kemarahan si hantu yang dilampiaskan pada masyarakat dapat diinterpretasikan sebagai pemberontakan atas penolakan eksistensinya oleh kekasihnya dan masyarakat sendiri. Bayi-bayi yang menangis menyimbolkan bayi-bayi yang terbengkalai oleh keaktifan perempuan, ketika yang datang pada mereka hanya bayangan perempuan; hantu. Penyimbolan ini sejalan dengan mitos-mitos tentang bayi-bayi yang dapat merasakan kehadiran hantu atau makhluk halus yang lain. Komat-kamit pemuka agama adalah dapat dilihat sebagai sebuah simbol atas perseteruan yang sering terjadi antara agama dan kebebasan perempuan. Ketakutan atas kekuasaan perempuan. “Tetapi suatu hari hantu itu sadar bahwa dengan merusak ia tetap tak bisa mematikan rasa cintanya kepada sang pemburu.” [hal. 13] Hal ini membuat si hantu berkorban dengan bersembunyi di loteng rumah dan memintal kegelapan untuk selimut kekasihnya. Loteng biasanya adalah tempat paling misterius di dalam sebuah rumah. Tempat gelap yang seringkali muncul dalam novel-novel misteri sebagai sarang hantu. Pekerjaan memintal yang memakan waktu beribu-ribu malam dan tak akan pernah selesai ini adalah sebuah simbol perasaan yang ditumpuk dan di represi. “Hantu perempuan yang memendam cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah---memintal gairah pekat tanpa henti, tanpa selesai” [hal. 18] adalah suatu kesimpulan tentang definisi memintal kegelapan.
Penjabaran di atas adalah suatu interpretasi dari dongeng di dalam cerita “Pemintal Kegelapan.” Sebuah interpretasi dari cerita di dalam cerita yang koheren dengan kenyataan yang terjadi dalam cerpen tersebut. Dongeng tentang hantu perempuan, atau tokoh antagonis perempuan dapat dilihat sebagai simbol pendangan laki-laki/masyarakat patriarki terhadap perempuan yang buruk dan tidak ideal. Dalam bagian selanjutnya kita akan melihat bagaimana dongeng itu terimplementasi dalam kehidupan nyata sang tokoh utama.
Pararelisme antara Dongeng dengan Realita
Narator cerita “Pemintal Kegelapan” menceritakan dua hal dalam narasinya: Misteri di loteng yang selalu dilarang ibunya untuk diketahui dan fase serta peran ibunya sebagai ibu rumah tangga, single parent, dan janda. Antara dua hal yang dinarasikan oleh “Aku” terdapat suatu hubungan yang menyebabkan paralelisme pada keseluruhan ceritanya. Pada bagian ini, akan didiskusikan bagaimana paralelisme itu terjadi melalui kehidupan sang ibu; bagaimana dongeng itu terimplementasi ditilik dari segi sosial dan psikoanalitik. Sang ibu yang menjadi objek utama cerpen ini mengalami tiga tahap hidup yang seringkali dialami perempuan modern: tahap ibu rumah tangga, tahap single parent/janda, dan masa tua.
Dalam cerpen Pemintal Kegelapan, si ibu digambarkan sebagai orang yang sering menyembunyikan masalah dari anak perempuannya. Hal ini disadari ketika “aku” berusia 16 tahun. “Semakin bertambah usiaku, semakin aku yakin bahwa ibuku memang menyimpan sesuatu, kusadari sejak lama ia sering bersikap aneh.” [hal. 15] Sikap-sikap aneh tersebut di gambarkan seperti ketika suatu malam, si ibu bertengkar hebat dengan suaminya, ketika pagi ia tetap terlihat ceria di depan putrinya; atau ketika ibunya secara sengaja memecahkan piring di dapur; atau ketika ibunya berteriak dari dalam kamarnya pada malam hari dan sewaktu ditanyakan mengapa, ia menyangkal kejadian itu. Berdasarkan psikoanalisis freudian, dapat dilihat bagaimana super-ego sang ibu mengendalikan Id dan Ego-nya. Ditinjau dari sisi psikoanalisis, si ibu nampak sering merepresi perasaan dan segala masalahnya yang ditunjukan melalui sublimasi yang dilakukannya melalui tindakan-tindakan aneh tersebut.
Sang ibu adalah contoh kehidupan paralel seorang perempuan. Posisi sebagai ibu rumah tangga di depan mata anaknya, pekerja di dunia kerjanya, dan janda di lingkungan sosialnya membawa masalah tersendiri bagi si ibu. Dari tiga posisi itu, masalah yang terbesar datang dari lingkungan sosial yang tidak mendukung bahkan menggunjing yang tidak-tidak dari seorang janda yang bekerja.
Ketika si ibu sebagai janda mulai berhubungan dengan pria-pria lain, lingkungan sosialnya mulai meluncurkan kritik-kritik negatif. “Seorang tetangga sempat bertanya ketika aku menyiram pekarangan, ”yang mana yang akan jadi ayah barumu?” Terlalu banyak laki-laki yang datang kerumah, dan ini menyebabkan timbulnya gosip-gosip yang memerahkan telinga.” [hal. 14] Belum lagi efek hal ini terhadap tokoh “aku” sebagai anak. Walaupun tokoh “aku” seperti tidak begitu perduli dengan gosip, tetapi ini menjadi hal-hal yang dipikirkan sang anak. Segala gosip dan tuduhan itu “berseliweran” dalam pikirannya, “namun tak ada satu hal pun yang berani” ia “tanyakan pada ibunya.” [hal.15]
Hal-hal di atas adalah sebuah kritik terhadap lingkungan sosial masyarakat yang cenderung memandang perempuan yang menjadi orang tua tunggal, bekerja, dan mempunyai kekasih dengan cara negatif. “Inti dari semua tudingan itu adalah bahwa ibuku berbahaya karena ia janda.”[hal 15]
Segala masalah yang dialami si ibu mendapatkan antiklimaksnya ketika ia beranjak tua dan anaknya sudah bekerja. Sampai masa tuanyapun si ibu masih menyembunyikan sesuatu dari anaknya yaitu penyakit kanker leher rahim yang dideritanya. Disinilah akhir dari cerita yang menghubungkan antara dua dunia paralel: dongeng dan realita. Bahwa sesungguhnya dongeng itu sendiri adalah realita. Seperti telah dibahas pada bagian awal essay, dongeng tersebut penuh dengan simbol dimana perempuan mengalienasi dirinya untuk dapat hidup demi cinta, demi diterima di dalam masyarakat. Sang hantu perempuan yang memintal kegelapan sama seperti sang ibu yang merepresi perasaannya. Ketika si ibu sudah tua, ia mengajak anaknya keatas loteng dan melihat sebuah cermin. Disitulah ia melihat bahwa cermin itu memantulkan bayangan si hantu perempuan: si ibu yang sudah tua, “rambutnya terurai, wajahnya penuh guratan sedih, matanya nyalang seperti bola api yang menari-nari melumatkan siapapun yang menatap.” [hal.18] Dalam hidupnya si tokoh ibu cenderung memendam, memintal kegelapan yang artinya “cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah—gairah pekat tanpa henti.” Ia adalah perempuan yang terus mengalieansi dirinya sendiri hingga akhir hayat. Jika dikembalikan ke teori psikoanalisis, kegelapan (cinta, rindu, nafsu amarah--- gairah pekat tanpa henti) adalah Id dari si ibu yang terus direpresi.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dunia dongeng yang di doktrinkan dalam masyarakat tentang perempuan, tentang baik dan buruk, hitam dan putih, menjadi jelas. Bahwa perempuan seringkali menjadi Janus yang menyembunyikan tangisnya dalam tawanya. Cerpen ini menyampaikan sama dengan apa yang kaum post-strukturalis doktrinkan, bahwa tidak ada oposisi biner; bahwa perempuan memiliki dua sisi dalam satu diri.
Pararelisme cerita dalam cerpen, menyimbolkan langsung pararelisme dalam jiwa perempuan, dimana penderitaan seakan tak pernah ada henti, membuat guratan-guratan di wajah dan tanpa sadar membuat perempuan menjadi pemintal kegelapan. Satu pelajaran yang dapat diambil dari cerpen ini: tak semua dongeng itu bohong, lihatlah dicermin, apakah anda seorang perempuan yang sedang memintal kegelapan, ataukah anda orang yang sedang mengurung hantu perempuan di loteng anda untuk memintal kegelapan?