LINDA MARTINA
ISTRI MASKULIN DALAM PANDANGAN SUAMI PECUNDANG
Seorang isri harus dapat menopang karir suaminya. Inilah hal yang sampai saat ini masih sering terdengar dan bahkan masih diadopsi sebagai suatu hal yang mutlak dalam suatu keluarga. Keluarga yang sempurna digambarkan dengan suami yang mencari nafkah bagi keluarga dan istri yang sibuk mengurus rumah dan menunggu suaminya pulang. Namun, film American Beauty yang diperankan oleh Kevin Spacey dan Annette Bening ini justru memperlihatkan keadaan yang sebaliknya. Hubungan antara suami istri mendapatkan tempat yang cukup besar dalam film ini dengan adanya tokoh Lester Burnham sebagai tokoh sentral yang merasakan ketidakbahagiaan dalam usianya yang menginjak kepala lima karena kekecewaannya terhadap pekerjaan dan keluarga, terutama istrinya, Carolyn. Masalah dengan istrinya inilah yang tampaknya memiliki dampak paling besar dalam diri Lester hingga kemudian memunculkan berbagai masalah baru, baik bagi dirinya sendiri, istri, anak, dan juga lingkungan tempatnya tinggal. Melihat hubungan suami istri yang tampak dalam film ini seperti melihat hubungan antara maskulinisme dan femininitas dalam suatu lembaga perkawinan.
Film ini tampaknya mempertanyakan bagaimana maskulinitas melihat femininitas. Bagaimana femininitas yang seharusnya dalam pandangan pria, dalam hal ini adalah bagaimana seharusnya Carolyn bersikap dan bertingkah laku. Hal ini dapat terlihat dari sudut pandang yang digunakan dalam film ini, yaitu sudut pandang Lester Burnham sendiri. Dari sudut pandang itulah kemudian penonton dapat menilai bagaimana Lester melihat sikap dan perilaku istrinya dan kemudian menentukan mana yang pantas untuk dilakukan oleh istrinya tersebut.
Dalam kehidupan rumah tangganya, Lester terlihat ‘kalah’ dominan jika dibandingkan dengan istrinya yang terlihat sibuk mengatur segala sesuatu yang harus dilakukan atau dimiliki oleh keluarga mereka. Hal ini terutama terlihat saat adegan makan malam, dimana Carolyn memutuskan untuk selalu mendengarkan musik kesukaannya yang sebetulnya dibenci oleh Lester dan anak mereka, Jane. Contoh lain mengenai dominasi Carolyn atas kepemilikan benda yang patut keluarga mereka miliki dapat kita lihat dalam adegan ketika Lester membeli mobil baru dan Carolyn tampak menentangnya.
Ketidakbahagiaan Lester juga disebabkan karena kekecewaan atas ketidakpuasannya secara seksual. Ia dan Carolyn bahkan sudah tidak berhubungan sebagai suami istri selama 20 tahun. Hal itulah yang menyebabkannya sering sekali melakukan masturbasi. Hal ini bahkan telah ditekankan dari awal film dengan menggunakan pengulangan terhadap masalah masturbasi yang dialaminya tersebut sampai dua kali oleh dua orang yang berbeda: dirinya sendiri dan anaknya, Jane.
Lester mengungkapkan kepada penonton bahwa masalah masturbasinya ini demikian parah hingga pada saat mandi pun ia melakukan masturbasi. Di saat yang lain, anaknya juga mengungkapkan kekecewaan atas perilaku ayahnya yang dianggapnya memalukan karena "ia terus masturbasi" dan karena fantasi ayahnya atas temannya yang bernama Angela Hayes. Penggambaran objektifikasi Angela oleh Lester ini merupakan salah satu dari banyaknya pandangan maskulin (male gaze) dalam film ini. Sedangkan ‘female look’ yang terdapat dalam film ini hanya terlihat saat Jane sedang bersama pacarnya, Ricky Fitts, dimana tubuh Ricky yang telanjang diperlihatkan dari belakang.
Disisi lain, dominasi Carolyn sendiri dalam film ini sebetulnya memiliki ironi tersendiri. Hal ini terjadi karena Carolyn digambarkan sebagai seseorang yang selalu merasa ketakutan. Ia selalu takut akan kegagalan dan bahkan di saat-saat menjelang akhir film ia terlihat sangat tertekan dan berkata berulang-ulang, "I refuse to be a victim." Dan ia percaya bahwa untuk dapat meraih sesuatu yang diinginkan maka seseorang harus berjuang. Seperti kata-kata yang diucapkannya kepada anaknya, "You cannot count anyone except yourself." Ia juga sering terlihat menangis sendirian tatkala merasa bahwa dirinya gagal, seperti pada saat ia gagal menjual rumah yang menjadi tanggung jawabnya untuk dijual. Carolyn selalu berusaha mengatasi ketakutan-ketakutannya tersebut dengan mengadopsi nilai-nilai maskulin dengan menjalankan tugas yang "semestinya" dijalankan oleh laki-laki, yaitu mencari nafkah bagi keluarganya dan menjadi dominan dalam keluarga.
Carolyn diperlihatkan merasa kesal atas ketidakmampuan suaminya untuk bekerja dan menghidupi keluarga mereka dengan layak. Perasaan Carolyn ini diperlihatkan dalam salah satu adegan makan malam yang menceritakan bahwa Lester memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain yang bergaji lebih kecil. Ia menumpahkan kekesalannya dengan berkata bahwa dengan berhenti bekerja berarti suaminya telah menyuruhnya untuk menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga itu. Ini adalah salah satu adegan yang terjadi setelah pada akhirnya Lester mulai mengambil sikap atas dominasi yang dilakukan oleh istrinya dalam rumah tangga mereka.
Penggambaran dari dominasi Carolyn ini menjadi tanda akan dominasi perempuan sebagai ancaman atas kekuasaan lelaki dalam suatu sistem patriarki dan penggambaran ketakutan dan kondisinya yang tertekan merupakan salah satu "hukuman" atas ancaman yang disebabkan atas dominasinya tersebut. Hal ini ditambah dengan adegan dimana Carolyn pada akhirnya membunuh suaminya, Lester, yang terlihat seperti suatu usaha darinya untuk keluar dari ketakutannya akan dominasi suaminya ketika suaminya mulai berani membantah keinginannya. Setelah membunuh suaminya Carolyn tampak menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya. Terlihat dari adegan ketika ia menangis dan meratap di lemari pakaian Lester. Adegan tersebut masih ditambah lagi dengan penggambaran Lester yang tampak tersenyum dalam kematiannya. Adegan ini seperti mencerminkan kekalahan Carolyn dalam hubungan mereka.
Hal lain yang menegaskan bahwa film ini mengadopsi nilai-nilai patriarki terlihat dari perselingkuhan Carolyn dengan seorang lelaki developer sukses. Di sini diperlihatkan bahwa Carolyn sangat iri dengan kesuksesan dari laki-laki tersebut yang tampak seperti menyimbolkan ‘penis envy’ dalam diri Carolyn terhadap laki-laki tersebut yang kemudian terlihat sebagai alasan atas perselingkuhannya dengan pria tersebut. Hal tersebut juga dapat disimpulkan saat melihat adegan disaat mereka melakukan hubungan seksual, dimana Carolyn berteriak menyebut pria tersebut sebagai ‘raja.’ Di sini, diperlihatkan bahwa walau bagaimanapun dominannya Carolyn dalam rumah tangganya, tetap saja ia telah ditaklukkan oleh rasa irinya tersebut.
Perubahan sikap mulai ditunjukkan oleh Lester ketika ia mulai mengenal Ricky Fitts, tetangga sekaligus pacar anaknya. Ia mulai mengenal obat-obatan dan menjadikannya sebagai bahan pelarian. Karena pengaruh obat-obatan ini pulalah maka kemudian ia menjadi seorang pria yang tampak berbeda dan mulai menjadi pengambil keputusan atas dirinya sendiri, setelah lama sebelumnya istrinya tampak mendominasi segala keputusan termasuk keputusan yang menyangkut dirinya. Ia mulai berhenti dari pekerjaan yang dibencinya dan mulai ikut mengatur masalah yang terjadi dalam keluarga mereka. Karena perubahan inilah, Carolyn mulai merasa terancam akan kebebasannya dalam menentukan keputusan dan merasa bahwa dirinya wajib untuk menolak dijadikan sebagai korban. Dalam hal ini ketakutannya untuk menjadi korban tampak disebabkan oleh ketakutannya untuk menjadi inferior dari suaminya. Ketidakrelaan dirinya untuk membiarkan suaminya menjadi lebih dominan ketimbang dirinya.
Penggambaran karakter Carolyn tersebut seperti menunjukkan bahwa perempuan yang berusaha mengeluarkan pendapatnya dan menjadi lebih dominan ketimbang laki-laki cenderung menimbulkan sebuah masalah karena perempuan dalam pandangan maskulin cenderung berpikiran tidak logis dan lebih memakai perasaannya dalam menentukan keputusan-keputusannya. Karena alasan ini pulalah maka ketika selesai melihat film ini, saya cenderung berkesimpulan bahwa hancurnya kehidupan keluarga Burnham ini adalah karena kesalahan Carolyn. Walaupun hal ini tidak diperlihatkan secara langsung, namun penyalahan karena ketidakberhasilan suatu rumah tangga biasanya jatuh ke tangan perempuan. Ditambah lagi, perselingkuhan dalam keluarga ini dilakukan oleh Carolyn dan bukan oleh Lester, walau bagaimanapun parahnya masturbasi yang ia lakukan. Kesimpulan subjektif ini kemudian berubah ketika kemudian saya melihat bahwa Carolyn juga menjadi korban dalam film ini. Ia sebetulnya korban dari sistem patriarki itu sendiri, dimana ketakutannya atas dominasi pria bercampur dengan rasa irinya atas kekuatan yang dimiliki oleh mereka. Hal ini kemudian telah menjadikan keputusan, sikap, dan perilakunya menjadi sebuah kontadiksi dari nilai-nilai yang harus dianutnya.
Kesimpulan inilah yang tampaknya ingin diberikan dalam film ini sebagai suatu kritik terhadap perempuan, terutama perempuan-perempuan yang berusaha mandiri, bagaimana seorang perempuan dan khususnya seorang istri harus bersikap. Terbukti dari pemakaian sudut pandang dalam film ini, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Sudut pandang Lester dalam melihat istrinya ini telah membuat penonton mengidentifikasikan dirinya terhadap Lester dan mulai memandang dan menilai Carolyn seperti cara pandang Lester bahwa seorang istri diharapkan dapat menjadi suatu pribadi yang mengadopsi nilai-nilai femininitas dengan menjalankan peran sebagai seorang istri yang melakukan tugas-tugas domestik. Bahwa keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang independen adalah suatu hal yang mereka buat-buat sendiri dari ketakutan-ketakutan yang mereka ciptakan sendiri. Hal inilah yang menjadikan keputusan mereka pada akhirnya menjadi penyesalan bagi diri mereka sendiri. Carolyn adalah contoh dari hal ini ketika ia digambarkan menyesal atas keputusannya untuk membunuh suaminya, Lester.