Nurul F.A.
Midterm Paper
Di dalam masyarakat, kesanggupan seorang wanita untuk dapat menjadi seorang wanita karier dan juga seorang ibu rumah tangga yang baik akan selalu dipertanyakan. Bagi masyarakat yang sudah dapat menerima dualisme peran wanita ini akan mendukung para wanita untuk berkarir setinggi-tingginya. Akan tetapi bagi mereka yang belum dapat menerimanya akan menganggap peran sebagai wanita karir adalah hal yang melanggar kodrat mereka sebagai wanita, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Sebagai salah satu contoh karya yang juga memunculkan pertentangan antara dua persepsi ini adalah film Stepford Wives. Di dalam film ini dimasukkan adegan-adegan yang mendukung kedua persepsi ini sehingga terkadang memunculkan ambiguitas. Keambiguitasan ini, entah dimaksudkan agar semakin menjelaskan perbedaan dalam tiap persepsi tersebut atau malah seakan-akan mengambil jalan tengah yang nantinya akan menjadi solusi terbaik atas perbedaan pendapat ini. Kemudian untuk membuatnya semakin lebih menarik maka juga dimasukkan beberapa nilai gender dalam film ini.
Untuk lebih dapat mengerti pembahasan berikut ada baiknya bila mengetahui ringkasan cerita dari film ini. Joanna Eberhart adalah seorang produser pada sebuah stasiun tv yang terbilang cukup sukses. Dia sedang mempromosikan dua acara tv terbarunya yang berjudul a man, a woman and a buzzer dan I can do better . Namun ternyata program tv itu hanya menimbulkan kekacauan, dari ditembaknya 3 aktor pendukung acara tersebut, percobaan pembunuhan yang dia alami juga hilangnya pekerjaan Joanna. Hal-hal tersebut menimbulkan shock pada diri Joanna, sehingga membuat suaminya Walter Kresby unuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mengajak keluargana untuk pindah ke Stepford Wives. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Claire Wellington yang berpenampilan seperti boneka Barbie dengan warna-warna bajunya yang cerah. Kemudian Joanna bertemu dengan Bobby Markowitz, seorang penulis Yahudi yang baru saja sembuh dari ketergantungan minuman keras, dan juga Roger Bannister, seorang gay yang merasa frustasi dengan pasangan gay-nya. Bersama-sama mereka berusaha mencari tahu tentang keanehan yang terjadi pada istri-istri yang ada di Stepford Wives. Namun satu persatu teman-teman Joanna yaitu Bobby dan Roger juga berubah dan mulai bertingkah laku seperti robot. Akhirnya Joanna mengetahui bahwa pada dasarnya orang-orang tersebut bukan lagi manusia melainkan robot. Akan tetapi setelah mengetahui hal ini, Joanna lalu dipaksa oleh suaminya dan perkumpulan pria-pria di situ agar mau untuk diubah menjadi wanita sempurna seperti pasangan-pasangan mereka. Kemudian tiba-tiba Joanna berubah menjadi sama seperti mereka, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak berubah karena suaminya memutuskan lebih baik untuk memiliki Joanna yang biasanya dibandingkan hanya sebuah robot dan akhirany mereka memutuskan untuk menghentikan semua keanehan yang terjadi di situ.
Pada dasarnya film ini dapat terbagi menjadi dua tahap yaitu sebelum pindah ke Stepford Wives dan di Stepford Wives itu sendiri. Pada awalnya yaitu pada tahap sebelum Stepford Wives kita seperti dihadapkan dengan akibat-akibat yang timbul jika membiarkan wanita untuk berkarir di luar rumah. Akibat-akibat seperti terabaikannya anak-anak, tidak dipedulikannya para suami hingga perasaan terdominasi yang dirasakan oleh para suami. Penggambaran ini tentu saja merupakan perwujudan dari pandangan masyarakat yang menentang gerakan feminist liberal. Seperti halnya apa yang berusaha Art Buchwald tunjukkan melalui karyanya yang berjudul The Feminine Mistaque. Di dalam The Feminine Mistaque itu digambarkan tentang seorang suami yang mendorong istrinya untuk bekerja diluar rumah walau sebenarnya sang istri sudah merasa cukup dengan menjadi ibu rumah tangga biasa aja, namun karena dorongan dari suaminya tersebut maka ia setuju untuk bekerja di luar rumah yang ternyata malah menyebabkan kekacauan pada kehidupan rumah tangga mereka, mulai dari rumah yang tidak terurus sampai dengan anak-anak yang terabaikan.
Kemungkinan-kemungkinan yang disebut diatas dimunculkan melalui beberapa adegan dan dialog dalam film itu. Untuk kemungkinan timbulnya perasaan terabaikan dan renggangnya hubungan ibu dan anak ditunjukkan dengan gambar dari Pete, yang merupakan anak dari Joanna Eberhart (Nicole Kidman) dan Walter Kresby (Matthew Broderick), untuk Joanna. Gambar tersebut berisi tentang kejadian pada saat Joanna ditembak oleh John yang merupakan peserta dalam salah satu program tv yang dibuat oleh Joanna yang berjudul I can do better. Dalam gambar itu terasa sekali keironisan yang terjadi antara hubungan Joanna dengan Pete, dimana gambar itu hanya menunjukkan fakta yang terjadi tanpa disertai emosi atau perasaan kasih dari si anak kepada ibunya, namun ternyata gambar tersebut dapat membuat Joanna terharu. Juga pada salah satu kata-kata Walter dimalam setelah mereka menghadiri perayaan kemerdekaan Amerika di Stepfordwives yaitu your kids barely know you and our marriage is falling apart and your whole attitude makes people want to kill you
Sedangkan untuk resiko dinomorduakannya para suami lebih dapat dilihat dari keluhan Walter kepada Joanna akan pernikahannya yang semakin memburuk. Pada saat itu Walter mengucapkan " you were so busy that we haven’t made love in over a year". Selain itu dalam dialog Walter dimasukkan pula bagaimana cara masyarakat menilai seorang wanita karir yang gila kerja seperti Joanna dengan mengkritik cara mereka berpakaian dengan kata-kata "only high-powered, neurotic, castrating Manhattan career bitches wear black."
Namun resiko yang paling ditekankan dalam film ini yang merupakan akibat dari dibiarkannya wanita untuk berkarir adalah dengan merasa terdominasinya para suami. Hal ini pulalah yang sebenarnya menjadi dasar dari semua perubahan para istri menjadi robot yang bias mereka kendalikan. Sejak di awal cerita atau tepatnya pada saat ditayangkannya cuplikan dari salah satu program tv yang dibuat oleh Joanna, dimana ada sepasang suami istri yang saling bersaing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dan dari pertanyaan-pertanyaan seperti siapa yang memiliki gaji lebih tinggi, lebih pintar bahkan juga pertanyaan mengenai siapa yang ingin menikahi wanita lesbian semuanya dijawab oleh si wanita dengan waktu yang lebih cepat daripada suaminya, menunjukkan betapa wanita tersebut sudah sangat mendominasi dalam rumah tangga daripada suaminya. Selain itu juga dapat dilihat dari keluhan- keluhan yang diungkapkan para suami di Stepford Wives termasuk Walter ketika dia memutuskan ingin mengubah Joanna menjadi robot seperti wanita-wanita lainnya disitu.
"Eversince we met you’ve beaten me at every thing. You’re better educated, you’re stronger, you’re faster, you’re better dancer, a better tennis player, you’ve always earned at least 6 figures more than I could ever dream of, you’re better speaker, a better executive, you’re even better at sex…I got to hold your purse, I got to tell the kids that you’d be late again, I got to tell the press that you had no comment, I got to work for you….we’re the wuss, the wind beneath your wings, your support system, we’re the girl."
Dan untuk semakin mendukung betapa salahnya membiarkan wanita untuk mendapat persamaan dalam memperoleh pendidikan dan juga dalam berkarir maka pada akhir cerita ditunjukkan bagaimana akhirnya Claire Wellington, seorang wanita yang pintar dan barhasil dalam bidangnya, adalah orang yang menjadi otak dalam semua yang terjadi di Stepford Wives termasuk membuat robot Mike Wellington, suaminya sendiri demi mewujudkan harapannya akan dunia yang sesuai dengan keinginannya, "a world where men were men and women were cherished and lovely….before women were turning themselves into a robot."
Namun begitu kita masuk ke dunia Stepford wives kita seperti dapat melihat bagaimana pula yang akan terjadi apabila wanita tidak hanya memiliki kebebasan bekerja namun juga kebebasan untuk berpikir, demi agar benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang baik sesuai dengan kodrat mereka. Para istri disini digambarkan sangat patuh dan sangat memuja suami mereka juga mereka sangat tergila-gila dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga. Seperti apa yang Claire katakana pada saat mengajak Joanna untuk ke tempat berkumpulnya para wanita yaitu di Simply Stepford day Spa mengenai penampilan yang seharusnya bagi seorang istri yang baik, "whatever we do we always want to look our very best…imagine if our husbands saw us in worn, dark, urban sweat clothes with stringy hair and almost no make up". Sedangkan menurut Joanna hal tersebut perilaku mereka yang terlalu patuh itu serta penampilan mereka yang tamapk seperti boneka Barbie itu sangatlah aneh sama seperti dengan apa yang dia deskripsikan mengenai para istri tersebut this woman are like deranged-flight-attendant friendly. Selain itu pula ada dialog yang menggambarkan mengenai bagaimana jadinya apabila wanita tidak diberikan kebebasan yang diungkapkan oleh Joanna ketika walter memintanya menyetujui keinginan walter agar menjadi seperti istri-istri yang lain di Stepford Wives "woman who behave like slaves, woman who does obsessed with cleaning their kitchen and doing their hair woman who never challenge you in anyway. Woman who exist only to wait on you hand and foot". Hal ini seperti apa yang disuarakan oleh Wollenscraft’s A Vindication Of The Rights of Women (1792) yang dikutip dari buku Twentieth-Century Women Novelist, Feminist Theory Into Practice(hal 33)
that women were as capable as men of reason and self-determination, and that if educational and social disadvantages were removed women would be able to enjoy the equal opportunities which logic and justice suggested they deserved…”their emphasizes on the irrationality of individual men denying individual women equal rights ignores the wider structural inequalities between men and women which create unequal power relations in a patriarchal society
Masalah lain yang juga muncul dalam cerita ini adalah masalah gender dengan mengambil melibatkan kisah pasangan homoseksual untuk menggambarkan betapa luasnya dan ummnya Stepford Wives itu. Walaupun tampak nyata sekali bahwa masih akan selalu ada perspektif negative tentang homoseksual ini seperti yang dikatakan oleh beberapa suami yang sedang mengadakan pertemuan yang bertujuan untuk merubah Roger Bannister agar menjadi ‘seseorang yang benar-benar sesuai’ dengan apa yang diharapkan oleh pasangannya Jerri Harmon bahkan juga untuk menyesuaikan dengan pandangan mengenai bagaiman seorang pria harusnya terlihat. Hinaan yang dilontarkan oleh pria-pria tersebut dengan menyebutnya ‘girlfriend’ ataupun 'miss thing'. Pandangan lain mengenai gender juga muncul dalam tiap pembedaan antara hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan oleh wanita dan hal hal apa saja yang umumnya dilakukan oleh pria. Contohnya adalah dialog antara Bobby Markowitz dan Dave, suaminya ketika melihat Joanna membuat kue-kue untuk bekal anaknya pergi berkemah
(Dave) Why don't you make stuff like this?
(Bobby) Why don’t you?
(Dave) Because I have penis.
Secara keseluruhan film ini berusaha untuk memaparkan dan memberi contoh apabila kedua persepsi, yaitu antara yang mendukung feminis liberal dan yang anti terhadap gerakan feminis, apabila dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan akibat yang buruk. Oleh karena itu akhir film ini bagaikan sebuah solusi dimana seorang wanita dapat tetap bekerja dan juga dapat tetap dekat dengan keluarganya, yang ditunjukkan ketika Joanna, Bobby dan Roger diwawancara mengenai keberhasilan mereka setelah berhasil menhentikan rencana Claire, dimana pada saat itu Joanna tampak membawa suami dan kedua anaknya untuk ikut hadir. Selain itu untuk membuat film ini lebih hidup dan lebih menarik maka dimasukkanlah masalah-masalah gender. Masalah-masalah seperti masalah homoseksual dan juga pembedaan antara apa yang disebut dengan pekerjaan pria dan pekerjaan wanita yang terjadi pada masyarakat kita membuat film ini dapat diminati banyak pihak.
Posted at 01:35 pm by feminist05