SISTERHOOD PEREMPUAN INDIA DI TENGAH
KOMUNITAS PATRIARKI
Utami Diah
“Siapakah aku ini dan untuk apakah aku hidup di dunia ini?”. Pertanyaan tersebut seharusnya muncul dalam setiap diri perempuan. Perempuan seharusnya bisa membentuk identitas dirinya sendiri, karena identitas itu sifatnya tidak mutlak tercipta begitu saja melainkan bentukan. Apabila identitas yang dimiliki oleh seorang perempuan terbentuk oleh lingkungan atau manusia lain selain dirinya, maka perempuan itu bisa dikatakan telah kehilangan identitas dirinya sendiri sebagai manusia. Sistem, kepercayaan dan norma yang ada di masyarakat masuk ke dalam alam bawah sadar si perempuan sehingga menyebabkannya tidak mampu menolak apa yang dikatakan benar dan salah oleh lingkungannya. Perempuan sendiri terkadang tidak menyadari mengenai keinginannya tentang hidup ini sehingga mereka sering mengabdikan dirinya untuk orang lain, terutama ibu dan suaminya. Hal itulah yang akan menjadi bahasan saya dalam sebuah buku karangan Chitra Banerjee Divakaruni yang berjudul Sister of My heart. Buku ini secara garis besar menyiratkan hilangnya kesempatan perempuan India dalam membentuk identitasnya karena sistem kelas dan adat India yang masih sangat kental dengan sistem Patriarki. Dalam cerita ini pula, dapat kita lihat kebahagiaan perempuan India sering diukur dari betapa sanggup ia menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan seberapa sanggup dia mendapatkan suami yang mapan dalam lingkungan sosial dibandingkan dengan persahabatannya dengan sesama perempuan sendiri (sisterhood) atau dalam pengertian yang serupa, kebahagiannya sendiri.
Secara garis besar, buku ini bercerita tentang persahabatan dua orang gadis bersaudara, Anju dan Sudha yang begitu erat di tengah sistem adat di India yang masih konservatif. Persahabatan kedua perempuan ini yang begitu erat menimbulkan kekhawatiran di diri orang-orang terdekatnya, termasuk Ibu mereka, Bibi Nalini dan Ramur Ma. Setiap datang masalah, maka mereka akan menyelesaikannya dengan bercerita satu sama lain. Ibu mereka takut, karena semakin akrab mereka, maka gadis-gadis itu akan semakin kuat dan itu artinya melemahkan peran kedua Ibu mereka sebagai Ibu yang bisa membentuk anak gadisnya menjadi wanita baik-baik dan terpandang di masyarakat. Di akhir cerita, walaupun Anju dan Sudha terikat oleh suatu sistem adat di bawah dominasi laki-laki sebagai pusat, Anju dan Sudha tetap menganggap bahwa ikatan sisterhood yang terjalin antara mereka lebih penting dari pandangan masyarakat terhadap mereka.
Sistem Patriarki terinternalkan ke dalam jiwa setiap individu lewat sebuah institusi terkecil, yaitu keluarga. Kita tahu bahwa India, atau sebagaimana negara Asia lainnya, masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Maka itulah, peran keluarga sangatlah penting dalam menginternalisasikan identitas masing-masing individu yang lahir. Nilai-nilai terdoktrinasi oleh suatu komunitas yang masih hidup dalam bayang-bayang patriarki sehingga akibatnya ada sebuah kaum inferior yang tersisihkan dan terintimidasi dari segala potensial yang mereka miliki. Perempuan menjadi suatu kaum yang pasif. Pasif di sini diartikan sebagai penerima, dan pelaku. Bahkan sebuah instusi lainnya, agama, juga mengukuhkan posisi perempuan sebagai mahluk yang tidak berguna. Kita bisa lihat dalam sebuah pepatah dalam kitab suci Hindu, “Wanita dan emas adalah akar dari semua kesulitan”(hal.168) dan pepatah kuno India “Suami adalah penguasa agung.”(hal.56). Ini berarti bahwa, terciptanya pembedaan atas gender di India sudah ada sejak agama terbentuk. Contoh konkrit yang penulis ingin ekspos dalam cerita Sister of My Heart ini adalah ketika Pishi, Bibi dari kedua gadis itu mengatakan suatu kalimat tentang posisi anak perempuan, “ Mungkin sang Bidhata Purush tidak datang untuk bayi-bayi perempuan.”(hal.14) Bidhata Purush adalah dewa Nasib yang dipercayai menentukan nasib baik atau buruk dari bayi-bayi yang baru dilahirkan. Dan Pishi mengatakan itu karena ketika kelahiran Anju dan Sudha nasib sial menimpa keluarga mereka, yaitu meninggalnya ayah mereka. Sehingga bila kita simpulkan sendiri, di dalam kebudayaan India, perempuan seolah mempunyai nasib buruk sejak mereka dilahirkan. Bahwa seorang perempuan harus bersikap baik “gadis-gadis berbudi bagai lampu terang, menyinari nama bundanya” dan apabila tidak maka dia “bagai puntung berapi, menghanguskan nama keluarga”.(hal.18) Inilah dikotomi terhadap karakter perempuan dalam cerita ini. Sudha dan Anju harus memilih antara menjadi seseorang yang benar-benar baik atau kalau tidak maka dia bagaikan putung berapi. Seperti yang dianalisa Virgina Woolf dalam stereotip tokoh perempuan dalam kebanyakan cerita-cerita fiksi karya pengarang laki-laki bahwa tidak ada ruang bagi tokoh-tokoh wanita. Peran mereka hanya dua, entah menjadi yang paling baik atau paling jahat. Hubungan antara Ibu dan anak perempuan dalam kebudayaan India juga terlihat tidak seimbang. Dalam cerita ini, sang Ibu terlihat sebagai pihak yang mendominasi anak-anaknya, sedangkan sang anak perempuan menjadi pihak yang pasif dan harus menuruti semua perintah Ibunya. Si anak perempuan tidak berani untuk menentangnya karena itu berarti mesti menghadapi kritik dari masyarakat tentang tingkah laku sosialnya.
Peran Ibu adalah sebagai seseorang yang memberikan perintah, instruksi kepada anak perempuannya. Ibu juga menjadi media penanaman nilai-nilai feminitas terhadap anak perempuannya. Seperti Ibu Sudha, Bibi Nalini, yang mengajarkan Sudha bagaimana cara memasak, menjahit baju, membentuk lengkung alis sempurna, membuat manisan mangga dan lain-lainnya yang bertujuan untuk menyenangkan hati suami dan menjadi isteri yang sempurna. Ia melakukan semua usaha seperti “..bergaul dan mengunjungi wanita-wanita dari keluarga-keluarga penting di India,” (hal.72) untuk mendapatkan status sosial dari masyarakatnya. Sebagai akibat, si anak perempuan menjadi tertekan dengan itu karena pada dasarnya, sang Ibu tidak begitu memahami apa yang diinginkan oleh anak perempuannya. Si Ibu memaksakan keinginannya dengan dalih demi kebahagiaan anak perempuannya.
Tadi ketika ia mengumumkan bahwa aku harus tetap di rumah sementara Anju akan kuliah, aku merasa aneh sekali. Rasanya aku berada dalam terowongan gelap berkelok-kelok yang menekan diriku. Apa yang memberinya hak untuk mengendalikan hidupku, untuk mengekangku dengan dalih kewajibannya sebagai Ibuku? Salah, salah, masyarakat yang mengatakan bahwa hanya karena ia melahirkanku, ia boleh memenjarakan aku.(hal.77)
Betty Friedan mengatakan dalam sebuah essainya mengenai penyebab kenapa kebanyakan perempuan tidak bisa berkembang dalam hidupnya adalah: karena adanya sosok ideal tentang feminitas bahwa perempuan haruslah berperan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik sehingga mereka tidak punya kesempatan lebih untuk mengembangkan identitas mereka. Dalam buku Sister of My Heart bisa kita lihat, ketika Sudha, salah satu tokohnya berkeinginan menjadi seorang desainer baju terkenal karena kemampuannya yang sangat bagus di bidang jahit menjahit, namun harus merelakan cita-citanya pupus karena perkawinan, sebuah ikatan yang dianggap amat sakral di dalam kehidupan bermasyarakat di India. Akhirnya bakat yang ia miliki malah dipermak oleh Ibunya karena ia dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yaitu yang bisa melayani suami dan melakukan pengorbanan untuk suami tanpa memperhatikan sedikit pun mengenai keinginannya untuk mengembangkan dirinya menjadi perempuan yang mandiri.
“..gunanya apa(kuliah)? Itu malah akan menimbulkan banyak gagasan aneh dalam benaknya. Aku hanya membiarkannya menyelesaikan sekolah demi menghormati Ibumu, yang sudah begitu banyak mengeluarkan uang untuk itu”(hal.75)
Sehingga wajar bila anak-anak perempuan itu mempertanyakan tentang kebahagiaan mereka, “ataukah karena aku anak perempuan maka kebahagianku tidak penting? aku yakin kalau aku anak laki-laki Ibu tidak akan berbicara seperti ini padaku.”(hal.61).
Di buku ini juga bisa kita lihat adanya kontrol terhadap reproduksi perempuan oleh masyarakatnya. Terdapat ide bahwa seorang perempuan akan sangat dihargai apabila dia berhasil mempunyai anak entah suaminya mampu atau tidak untuk memberikan anak. Perempuan akan selalu dijadikan kambing hitam ketika suatu kehamilan tidak bisa terjadi. Seperti misalnya, saat Sudha tidak juga kunjung hamil. Ibu mertuanya membawanya ke dokter untuk memeriksakan dirinya, sementara suaminya tidak. Ketika dokter pun akhirnya mengatakan bahwa dia tidak mandul, tetap saja, keluarganya membawanya ke sebuah kuil kelahiran, Dewi Shashti di Belapur. Tetapi suaminya, tetap tidak diperiksa. Lebih parah lagi, jenis kelamin jabang bayinya pun sudah ditentukan oleh keluarga si suami tanpa meminta pendapat dari si Ibu sendiri. “Berdoalah kepada Dewi, meminta anak laki-laki.”(hal.214) Di kuil itu, terdapat banyak perempuan yang mengalami nasib yang serupa, bahwa kalau mereka tidak bisa melahirkan maka suami mereka akan menikah lagi.. Bahwa ketidakmampuan diri mereka untuk memberikan anak adalah suatu nasib buruk yang tidak bisa dielakkan atau dibenarkan. Akibatnya, si perempuan harus pasrah, walau sudah berusaha sedemikian rupa agar dirinya bisa hamil, kepada keputusan dari suaminya. “ Tetapi kalau aku hamil, mereka tidak akan melakukan itu. Dewi sudah memberiku jawaban. Tapi aku tidak mengerti.”(hal.217) Jadinya, pikiran perempuan akan terkungkung pada suatu ide bahwa kebahagiaan mereka dinilai dari kemampuan mereka untuk memberikan anak, terutama anak laki-laki, pada komunitas mereka bukan karena mereka yang menginginkannya. Ini juga yang akhirnya dikatakan oleh Betty Friedan sebagai “a problem of identity experienced by many women, who are unable to develop a sense of self-worth and purpose their lives solely through childcare, marriage, and domestic responsibilities.” Perempuan yang menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan lebih dan kurang mengerti hak-haknya sebagai individu dalam pencapaian kebahagiaan akhirnya berlomba-lomba untuk bisa mengabdikan dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik.
Ada contoh perempuan yang berani menentang ketidakadilan dalam cerita tersebut. Pishi, seorang perempuan konservatif, yang ternyata diam-diam sudah memendam hasrat sejak lama untuk lepas dari aturan konservatif masyarakat. Saat Ibu mertua Sudha memutuskan untuk membunuh bayi yang ada di dalam kandungannya hanya karena bayi itu bukan bayi laki-laki seperti yang diharapkan olehnya, ia berkata,”Kenapa ia harus memedulikan apa yang dikatakan orang-orang? Apa hasilnya untuknya selama ini, sepanjang hidup takut tentang apa yang akan dipikirkan masyarakat?”(hal.247) Perempuan ini menyadari bahwa selama mereka hidup dibawah ketakutan tentang apa yang dipikirkan tentang komunitas mereka maka hidup mereka tidak akan bahagia. Hak-hak mereka sebagai seorang manusia direnggut, dan hilang sejalan dengan norma-norma itu dan akibatnya mereka menjadi mahluk yang tidak mempunyai pilihan.
Bagian yang paling menarik dari buku ini yang merupakan sentral dari isi cerita keseluruhan adalah mengenai perasaan yang terjalin di antara kedua mahluk berjenis kelamin perempuan, Anju dan Sudha, yang ternyata tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun, namun mereka saling memahami satu sama lain melebihi yang Ibu mereka mengerti tentang diri mereka. Atas dasar hubungan yang kuat itulah mereka berani menentang apa yang ada di sekitar mereka, ketidakadilan terhadap posisi mereka di masyarakat, sebagai perempuan yang inferior dan saling memberikan dukungan satu sama lain, hal yang mereka tidak dapatkan dari masyarakat ataupun Ibu mereka sendiri. Saat bertemu, Anju dan Sudha bisa bercerita tentang cita-cita mereka, keinginan mereka, dan hampir tidak ada satu rahasia pun yang ditutup-tutupi dari diri mereka. Bahkan mereka tidak peduli dengan status mereka sendiri.
“Aku akan tetap mencintaimu. Tak peduli siapa kau. Aku akan mencintaimu karena kau mencintaiku. Aku mencintaimu karena tidak ada orang lain mengenal kita seperti kita saling mengenal.” (hal.54)
Hal ini begitu ironis tatkala masyarakat justru berusaha untuk menjauhkan mereka berdua karena menurut masyarakat kedekatan mereka itu tidak normal, dan dapat menganggu perkembangan jiwa mereka. Anju disuruh untuk bergaul dengan wanita lain yang mempunyai saudara laki-laki yang bisa dijodohkan kelak dengannya daripada berteman dengan Sudha yang cantik yang hanya akan membuatnya iri. Padahal, Anju sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu, sebaliknya ia merasa genggaman Sudha bagaikan seteguk air bersih sejuk di hari yang panas. Kenyataannya masyarakat itu iri akan kebahagiaan yang mereka berdua miliki, mereka tidak butuh orang lain saat bersama. Mereka tidak pernah ketakutan akan kesendirian, tanpa suami ataupun teman bergaul di lingkungan sosial karena mereka sudah menemukan apa yang mereka butuhkan di diri yang lainnya. Hal ini sesungguhnya dapat melemahkan kekuatan sistem patriarki yang tumbuh di tengah masyarakat tersebut. Ketika perempuan menyadari bahwa hubungan antar sesama perempuan (sisterhood) lebih penting dari yang lainnya, maka mereka tidak akan bergantung pada keinginan untuk menjadi pelengkap laki-laki demi mendapatkan kebahagiaan mereka.
Dalam kasus ini saya melihat bahwa perempuan India kurang lebih hanyalah sebagai suatu objek yang dikenai tindakan oleh masyarakatnya. Badannya pun dijadikan tempat eksploitasi terhadap dirinya, energinya, nilai dirinya, karena mereka dituntut agar hamil dan melahirkan bayi laki-laki. Mereka diikat oleh komunitas dimana mereka tinggal, dan diharuskan mempunyai keyakinan dan kepercayaan yang telah ditanamkan oleh komunitas itu untuk ia turuti. Namun, karena norma dan nilai-nilai itu ditanamkan dengan proses yang lama, semenjak mereka kecil dengan mencampurkannya ke dalam mitos-mitos dongeng sebagai role model mereka seperti yang Pishi ceritakan pada kedua anak perempuan itu ketika mereka masih kecil, wajarlah apabila mereka menganggap kewajiban yang disodorkan kepada mereka itu adalah hal-hal yang seharusnya mereka lakukan. Dan menentangnya berarti akan membuat Tuhan marah. Akhir kata, apabila perempuan tidak memulai suatu tindakan untuk mengubahnya maka ketidakadilan itu akan terus ada, seperti duri dalam sekam yang walau tidak nampak tapi terasa sakit sekali. Mereka harus berani mengungkapkan keinginannya, membuat suatu keputusan diantara pilihan hidup mereka. Sudha pun akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah mertuanya dan memilih untuk membesarkan anak perempuannya daripada membunuhnya.
Aku membilas untuk menghilangkan kewajiban bertugas. Aku membilas untuk menghilangkan hukuman mati yang dijatuhkan pada putriku. Aku membilas untuk menghilangkan semua yang dituliskan Bidhata Purush, karena aku sudah jemu menjalani kehidupan yang ditentukan orang lain. Kita kaum wanita punya daya kekuatan yang luar biasa bila kita percaya pada diri sendiri!(hal.249)
Akhir kata, masyarakat juga harus memberikan mereka kesempatan lebih dalam mengenyam pendidikan dan untuk mendapatkan status sosialnya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Wallstonecraft’s dalam A Vindiction of the Rights of Woman: women were as capable as men of reason and self-determination, and that if educational and social disadvantages were removed women would be able to enjoy the equal opportunities which logic and justice suggested they deserved.