PEMBERONTAKAN PARA MALAIKAT
Maria Berlian
Hari itu adalah satu hari setelah wafatnya Ratu Victoria. Untuk menghormati sang almarhum Ratu, seluruh rakyat Kerajaan Inggris diwajibkan untuk mengunjungi kuburan keluarga mereka masing-masing. Di sebuah tempat pemakaman di atas bukit, dua keluarga bertemu untuk pertama kalinya (meskipun letak dua kuburan keluarga mereka bersebelahan). Mereka adalah keluarga Coleman, yang modern dan menyambut dengan bahagia pemerintahan Raja Edward, dan keluarga Waterhouse, yang lebih konservatif dan menjunjung tinggi Victorian Values lebih dari apapun. Ternyata, perbedaan mencolok di antara mereka tidak dapat menghalangi putri tunggal keluarga Coleman, Maude, dan putri sulung keluarga Waterhouse, Lavinia, untuk menjalin persahabatan. Bersama Simon Field, seorang anak penggali kuburan yang akhirnya menjadi sahabat mereka juga, mereka berdua tumbuh besar di tengah kemajuan zaman yang dibawa raja baru mereka; kemajuan seperti munculnya para suffragette yang memperjuangkan hak pilih wanita. Itulah sepenggal kisah dari novel karangan Tracy Chevalier, Falling Angels, atau yang diterjemahkan menjadi Malaikat-Malaikat yang Runtuh. Apabila dilihat dari sisi sejarah, novel ini memang menceritakan tentang pertentangan antara nilai-nilai era Victoria dan Edward dan kemunafikan-kemunafikan di dalamnya. Tetapi, jika dilihat dari sisi feminisme, novel ini bercerita tentang pemberontakan kaum wanita terhadap sistem patriarki yang berlaku di masyarakat pada masa itu.
Nilai-nilai zaman Victoria berpengaruh besar terhadap kuatnya sistem patriarki di masyarakat Inggris pada masa itu. Zaman Victoria memiliki ideologi yang menomorsatukan pemisahan ruang bagi pria dan wanita, atau separated gender sphere. Pemisahan ruang ini diungkit dalam novel, misalnya, saat Maude menarasikan bahwa ayahnya, Richard, belum tahu mengenai spanduk-spanduk WSPU milik ibunya, Kitty, karena ia menyimpannya di Ruang Pagi, ruang tempat berkumpulnya para wanita yang tidak pernah dimasuki Richard. Kemudian diceritakan pula saat Mrs.Baker, koki keluarga Coleman, yang berbohong pada Richard bahwa Simon adalah tukang kebun keluarga mereka agar ia dapat memberikan roti gratis untuk anak itu. Simon lalu berkata, “...kebun merupakan teritori Mrs.C. Mr.C mungkin bahkan tidak pernah menjejakkan kakinya di sana kecuali untuk menikmati sebatang rokok. Ia tidak akan tahu siapa tukang kebun mereka” (hal. 298). Dapat dilihat bahwa keberadaan Ruang Pagi dan kebun memungkinkan Kitty untuk menjadi bebas melakukan aktivitasnya. Ini seperti yang ditulis Virginia Woolf dalam esainya, A Room of One’s Own, yaitu bahwa perempuan harus memiliki ruangnya sendiri yang terpisah dari laki-laki untuk mencapai potensi tertinggi mereka. Di sisi lain, Richard seakan menghindari tempat-tempat tersebut – Ruang Pagi, kebun, dan juga dapur, tempat ia menemukan Simon sedang memakan roti. Dari reaksi para perempuan yang terkejut melihat kemunculan Richard di dapur, Simon segera mengetahui bahwa ia tidak pernah mengunjungi dapur sebelumnya dan memutuskan untuk datang pada pagi itu hanya karena “ia cemas... atau kurang suka suasana kosong di dalam rumah, sehingga ia mencari orang” (hal. 297).
Hasil dari ideologi pemisahan ruang ini adalah munculnya apa yang disebut dengan Men’s Oppression. Fenomena ini juga terlihat di halaman-halaman depan novel, ketika setiap Tahun Baru Richard mengharuskan Kitty untuk turut serta dalam ‘permainan tukar pasangan’ yang dikiranya dapat menghangatkan hubungan mereka yang sudah kaku. Belakangan, diceritakan juga tentang para suami, termasuk Richard, yang membakar selebaran, koran, dan spanduk milik istri-istri suffragette mereka.
Dalam menanggapi tekanan dari para pria, para wanita punya reaksi yang berbeda-beda. Beberapa, seperti Lavinia, ibunya, Gertrude, dan nenek Maude, Edith, yang memegang teguh nilai-nilai zaman Victoria, menuruti dengan patuh aturan-aturan patriarki. Dengan demikian, pandangan mereka menunjukkan bahwa ternyata sistem patriarki tidak hanya didukung oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Lavinia, misalnya. Meskipun bersahabat dengan Maude, ia memang mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengan teman baiknya itu. Maude, contohnya, lebih berminat pada meneropong komet daripada membaca majalah-majalah wanita seperti Cassell’s dan The Queen yang merupakan bacaan favorit sahabatnya. Lavinia bahkan menulis buku panduan berkabung yang di dalamnya tertulis, “Seorang janda berkabung paling lama karena ia yang paling sedih. Betapa mengenaskannya kehilangan suami!” (hal. 152). Sementara Gertrude tidak pernah mengerti mengapa Kitty yang sudah ”memiliki rumah yang indah, suami tampan, dan anak perempuan yang cerdas” (hal. 63), dengan kata lain, kehidupan rumah tangga yang sempurna, tidak pernah merasa puas. Edith bahkan mengajarkan Kitty untuk “jangan pernah membebani suamimu dengan urusan rumah tangga” (hal. 254) dan mengutarakan bahwa membaca adalah “kegiatan yang sia-sia untuk anak perempuan [karena] hanya akan menanamkan gagasan macam-macam di kepalanya” (hal. 96-97). Reaksi tiga perempuan tersebut sangat berbeda dengan Kitty. Bahkan sebelum menikah pun, Kitty sudah merasa terjebak dalam kehidupan domestik yang harus dijalaninya sebagai seorang perempuan. Ketika melihat suaminya pergi bekerja dan meninggalkannya dalam rumah mewah mereka, ia berkata, “Aku mengawasi dari jendela sementara ia berjalan menjauh, dan mulai didera oleh perasaan iri yang sama seperti ketika kakakku berangkat ke sekolah dulu” (hal. 89). Perasaan depresinya semakin bertambah ketika Maude lahir; ia merasa “terperangkap di tempat tidur, dipasung oleh mulutnya yang mengisap buah dadaku” (hal. 87-88). Kitty “menghabiskan hidup[nya] dengan menanti terjadinya sesuatu” (hal. 220) dan sesuatu itu akhirnya datang ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang suffragette.
Pemberontakan kaum wanita dalam novel ini memang paling terlihat jelas dalam sosok Kitty Coleman. Sejak awal buku, Kitty sudah diceritakan sebagai wanita yang lebih memilih untuk memakai pakaian berwarna biru -bukan hitam- sebagai tanda berkabung untuk Ratu Victoria. Perilakunya yang sering melawan ibu mertua menggambarkan sifatnya yang pemberontak. Seperti yang telah dijelaskan di atas, Kitty tidak pernah merasa puas akan kehidupan domestik dan suaminya yang sepertinya tidak pernah membantunya untuk keluar dari rasa frustasinya. Hal inilah yang mendorongnya untuk melakukan pemberontakan besarnya yang pertama: Perselingkuhannya dengan pemilik kuburan, John Jackson. Meskipun tidak tampan dan miskin, John selalu “menanyakan pendapat [Kitty] dan tidak menertawakannya” (hal. 146). Ini dan kenyataan bahwa John, seperti dirinya, berani berselisih pendapat dengan ibu mertuanya, membuat Kitty terpikat padanya. Perselingkuhan mereka membuahkan sebuah janin dalam rahim Kitty, yang kemudian diaborsinya; pemberontakan kedua.
Setelah mengalami depresi yang lebih dalam lagi akibat penyesalan setelah membunuh bayinya yang belum lahir, Kitty menyadari bahwa perselingkuhan dan aborsi bukanlah jalan keluar yang sedang ia cari. Pada saat itulah ia bertemu dengan Caroline Black, seorang suffragette. Wanita-wanita pejuang hak pilih untuk perempuan ini adalah contoh nyata dari sisterhood yang tumbuh akibat tekanan dari kaum pria. Perasaan satu yang dibagi-bagi antara kaum perempuan dalam sisterhood dirasakan (bahkan) oleh Maude sebagai sesuatu yang “benar-benar mendebarkan [untuk] menjadi bagian dari suatu massa yang besar, yaitu ribuan wanita yang melakukan hal yang sama pada waktu yang bersamaan” (hal. 346).
Ironisnya, masalah seksualitas yang dibahas oleh Betty Friedan dalam The Feminine Mystique, yaitu bahwa seksualitas digunakan oleh perempuan untuk keluar dari masalah yang sema sekali tidak seksual, muncul juga dalam novel ini. Kitty diceritakan bersedia melayani kembali suaminya di tempat tidur sebagai cara agar Richard memperbolehkannya untuk pergi ke pertemuan-pertemuan suffragette. Ironi juga muncul ketika Kitty dan beberapa suffragette lainnya, termasuk pemimpin mereka Emmeline Pankhurst, ditahan selama 3 bulan dalam penjara setelah mencoba menerobos masuk House of Commons. Maude yang datang mengunjungi ibunya melihat bahwa para narapidana mengenakan celemek di atas pakaiannya dan diwajibkan untuk merajut kaus kaki di dalam sel mereka. Belakangan, Kitty baru memberitahunya kalau kaus kaki-kaus kaki itu adalah untuk para narapidana pria. Yang menarik untuk dilihat di sini adalah bagaimana pekerjaan domestik dijadikan sebuah hukuman bagi perempuan yang dianggap memiliki perilaku menyimpang layaknya para suffragette. Dengan kata lain, masyarakat, atau penjara, berusaha mengembalikan perempuan-perempuan ‘jahat’ ini ke jalan mereka yang benar, Domestisitas.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan ambiguitas dari feminisme. Dari satu sisi, novel ini menyalahkan Kitty untuk pemberontakannya yang berakhir tanpa kesuksesan. Kitty meninggal dalam parade suffragette tanpa benar-benar melihat impiannya agar wanita mempunyai hak pilih terwujud. Lagipula, kegiatannya dengan para suffragette telah membuatnya melupakan Maude. Lalu, dengan aborsi yang dilakukannya, sepertinya Kitty menjadi wanita yang sepertinya lupa akan keluarganya, terutama putri yang sangat mencintainya. Novel ini sepertinya membicarakan kekhawatiran yang sama dibahas, lagi-lagi, Betty Friedan. Akibat bagi Kitty adalah rasa sesal yang dialaminya setelah aborsi dan pengetahuan bahwa satu-satunya yang selalu ada untuknya adalah Maude yang datang terlambat, sesaat sebelum kematiannya, “Sekarang, di saat aku menggenggam tangan [Maude], aku tidak ingin melepaskannya. Dialah yang harus melepaskan aku. Ketika akhirnya ia melakukan itu, aku tahu aku sendirian, dan waktunya telah tiba bagiku untuk pergi” (hal. 387). Kitty dalam hal ini menjadi malaikat yang runtuh dan menyebabkan Maude runtuh pula.
Namun, di sisi lain, novel ini bersikap pro-feminis. Orang-orang terdekat Kitty diceritakan melanjutkan pemberontakannya setelah ia meninggal dunia. Pertama-tama, Maude, yang memberontak dengan diam-diam mengundang Caroline Black –yang dibenci oleh ayah dan neneknya- ke pemakaman Kitty, dan dengan begitu akhirnya menyadari arti perjuangan ibunya, dan lalu mengabulkan permintaan sang ibu untuk melanjutkan kuliah, hal yang tidak biasa untuk seorang gadis pada zaman itu. Kedua, John Jackson dan Simon, yang secara sembunyi-sembunyi meluluskan harapan Kitty untuk dikremasi, hal yang ditentang oleh suami dan ibu mertuanya. Dengan itu, Kitty dan Maude –dan Mr. Jackson dan Simon- berhasil memberontak dan mendobrak aturan-aturan Richard dan Edith Coleman, dua tokoh besar yang menjadi simbol sistem patriarki dalam novel ini. Pada akhirnya, Kitty ibarat malaikat yang runtuh sesaat untuk kemudian bangkit kembali seperti komet yang menyala di langit dan yang selalu menemani dan membimbing Maude.