 |

Aug 22, 2005
Amalia Dian Astri
Midterm Paper
Mr. and Mrs. Smith dan
Maskulinitas Perempuan yang Menonjol
Di dalam kehidupan berumah tangga, laki-laki adalah figur yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya, sedangkan perempuan pada umumnya bekerja di rumah dan mengurus tanggung jawab domestiknya. Namun di kehidupan modern seperti sekarang ini, banyak perempuan yang mendongkrak posisinya agar sejajar dengan laki-laki. Inilah gambaran yang terdapat dalam film Mr. and Mrs. Smith arahan sutradara Doug Liman tentang pasangan muda, John dan Jane Smith, yang masing-masing berprofesi sebagai insinyur dan ahli komputer. Namun hal itu hanyalah sebuah kedok belaka karena sebenarnya mereka berprofesi sebagi pembunuh bayaran, yang pada akhirnya pun terungkap di antara mereka. Di tengah dominasi nuansa romantic, action, dan thriller, yang disuguhkan, ternyata film ini juga mengangkat persoalan perempuan yang jauh dari stereotip masyarakat kita, yaitu seorang perempuan yang sudah berumah tangga tetapi memiliki pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Lalu, apakah yang membuat Jane Smith memilih untuk menjadi perempuan ‘maskulin’? Inilah persoalan yang ingin diangkat dari film ini, yaitu tentang perspektif terhadap maskulinitas wanita karir masa kini.
Di balik keanggunannya sebagai perempuan muda yang cantik dan pintar, Jane adalah sosok yang kuat, bernyali besar, dan tidak ingin diremehkan. Tidak hanya itu saja, hobinya yang suka mendaki gunung dan olah raga lain yang sangat menantang membuat Jane menjadi perempuan yang ekstrem. Hal ini didukung dengan kutipan dialognya “My parent died when i was five.” Ketiadaan orang tuanya sejak kecil membuat Jane dituntut untuk menjalani hidup yang keras dan menjadi perempuan yang kuat.
Terkait dengan hal di atas, sesungguhnya ada beberapa hal yang menyebabkan ia ingin menjadi perempuan ‘maskulin’ dengan pekerjaannya seperti itu. Pertama, profesi sebagai pembunuh bayaran bisa jadi menarik baginya karena penghasilan yang ia dapatkan berjumlah sangat besar, walaupun resiko mempertaruhkan nyawa juga sangat tinggi. Kemudian, ia merasa adanya tantangan dengan melakukan pekerjaannya itu dan tidak ingin dianggap remeh. Hal ini terlihat dari kutipan dialognya “Wait, wait. Do I get the girly gun?” Jane seolah yakin bahwa dirinya mampu menggunakan senjata lain yang lebih besar yang biasa dipakai oleh laki-laki, dari sekedar senjata kecil. Selain itu, terbukti pula bahwa perempuan bisa menembus sistem patriarki yang selalu mendominasi, terlihat dengan ikut bergabungnya Jane dalam pekerjaan ini. Kita melihat di sini bahwa Jane dapat bertahan dalam dunia laki-laki.
Terlepas dari itu semua, keinginan untuk mempunyai anak belum terlintas dalam diri Jane. Kehadiran seorang anak bisa menjadi kendala baginya karena tuntutan profesinya yang semacam itu. Kita bisa melihat ini ketika pasangan John dan Jane Smith sedang menghadiri acara arisan di rumah temannya, di mana yang hadir di sana adalah teman-temannya yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. Saat itu, Jane sedang memangku seorang bayi temannya. Ia terlihat canggung dengan bayi yang sedang dipangkunya dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun bayi itu tampak senang dan ingin bermain-main dengannya. Hal yang mungkin terlintas adalah bahwa ia juga memiliki naluri keibuan seperti perempuan lain pada umumnya, tetapi ia tidak menyadari hal tersebut. Ia memang tidak terbiasa dalam mengurus bayi, dan sebaliknya ia justru terbiasa dalam mengurus senjata ibarat anaknya sendiri. Sepertinya naluri keibuannya ia berikan pada senjata-senjata kesayangannya itu.
Domestisitas perempuan dalam film ini memang diparodikan karena sosok Jane yang maskulin akan terlihat lucu bila ia harus menangani pekerjaan domestik seperti mengurus bayi, dan menyebabkan maskulinitas yang ada pada dirinya menjadi tidak menonjol. Hal ini membuat Jane memandang teman-temannya yang mengurus anak dan menjadi ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang merepotkan dan di luar kebiasaannya.
Lalu, bagaimanakah Jane memandang dirinya sendiri dengan predikat ‘perempuan pembunuh bayaran’? Di sini Jane terlihat nyaman dan tidak peduli dengan predikatnya karena ia memang menyukai pekerjaannya tersebut. Selain itu, pekerjaan sebagai pembunuh bayaran bersifat rahasia dan terselubung yang membuatnya tidak merasa takut untuk diketahui orang lain, dan bahkan ia selalu tampil percaya diri. Ditambah lagi, Jane juga dapat menempatkan dirinya dengan baik sesuai dengan lingkungan ia berada. Misalnya, ketika ia sedang di rumah ia dapat bersikap layaknya seorang istri yang mengurus suami dan rumahnya. Tetapi, ketika ia sedang melakukan pekerjaannya, ia bersikap sangat profesional.
Berdasarkan pemikiran Betty Friedan, tokoh feminis di era second-wave feminism, dalam bukunya berjudul The Feminine Mystique (1963), perempuan bisa melakukan dua perannya sebagai housewife atau ibu rumah tangga dan wanita karir. Namun, cara menyeimbangkan kedua peran inilah yang kadang sulit untuk dijalankan karena di satu sisi Jane ingin menjadi setara dengan laki-laki. Kita bisa melihatnya dari satu contoh di film ini, yaitu kebiasaan Jane yang tiba di rumah lebih awal dan menyiapkan makan malam untuk John, suaminya. Ia sebenarnya melakukan itu hanya untuk menutupi identitasnya sebagai pembunuh bayaran, dan agar menimbulkan kesan bahwa ia istri yang ideal di mata suaminya. Kenyataannya, ia sama sekali tidak bisa memasak dan selalu meminta tolong asistennya untuk membuat masakan bagi John. Ia hanya berpura-pura saja memotong makanan saat John menghampirinya di dapur. Namun, pada akhirnya John pun mengetahui profesi Jane yang sebenarnya. Hal ini bisa terlihat dari kutipan dialog John “your aim’s as bad as your cooking, sweetheart.” Ini membuktikan bahwa Jane memang tidak menyukai pekerjaan domestik tersebut. Berbeda dengan ketika ia sedang memasang gorden rumah karena pekerjaan itu memiliki unsur maskulin seperti yang ada pada diri Jane, jadi dengan sangat handal ia melakukannya. Hal ini ditunjukkan dengan caranya berdiri di atas kursi dengan satu kaki menyentuh lantai dan tiga kaki kursi lainnya terangkat.
Dari kedua jenis pekerjaan Jane ini, terlihat perbedaan yang sangat jelas. Pekerjaan memasak menjadi “kalah” dari pekerjaan memasang gorden rumah. Yang menyebabkan hal ini terjadi adalah sisi maskulin Jane lebih besar dibandingkan sisi femininnya, mengingat profesinya sebagai pembunuh bayaran. Jadi, dualisme pekerjaan Jane di sini menjadi tidak seimbang karena ia lebih menuntut untuk melakukan profesinya tersebut dan akhirnya terciptalah sebuah image perempuan ‘maskulin’ pada dirinya. Image Jane ini tentu saja jauh dari image perempuan domestik yang tugas sehari-harinya mengurus rumah, anak, dan suami. Hal ini seolah menimbulkan persepsi bahwa perempuan masa kini adalah wanita karir yang menonjolkan maskulinitas. Namun, tidak ada yang salah dengan persepsi ini karena perempuan juga ingin menjadi sama dengan laki-laki untuk bisa diterima. Begitu pula dengan Jane. Dengan profesi yang ia miliki (atau ia pilih), ia telah menunjukkan bahwa ia ingin sejajar dengan laki-laki. Jiwa maskulinnya pun muncul dan di film ini ia digambarkan sebagai perempuan ‘pembunuh bayaran’ yang kuat namun juga sensual.
Sisi sensualitas inilah yang ia gunakan sebagai salah satu cara dalam menjalankan profesinya. Ini ditunjukkan ketika ia menyamar sebagai pelacur dengan pakaian yang ketat dan seksi, sepatu boots yang tinggi, dan rayuan yang manis, ia berhasil menipu daya target yang akan dibunuhnnya. Dan setelah jatuh ke dalam genggamannya, dengan mudah target itu pun kehilangan nyawanya oleh Jane.
Jadi dari pembahasan di atas, Film Mr. and Mrs. Smith ini telah mengajak masyarakat untuk memandang perempuan sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan bukan hal yang sepele. Perempuan tidak hanya berada di rumah dan mengerjakan tanggung jawab domestiknya, tetapi perempuan juga bisa memiliki karir yang sama dan sederajat dengan laki-laki. Tokoh Jane Smith berhasil membuat suatu persepsi terhadap maskulinitas perempuan masa kini yang ditonjolkan melalui pekerjaannya.
Posted at 03:54 pm by feminist05
Permalink
Melissa/ Midterm Paper
"BERCINTA DENGAN BARBIE DALAM KACAMATA FEMINIS"
Cerpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul Gelak Sedih yang merupakan kumpulan hasil karyanya. Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.
Unsur pertama yang paling mencolok dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini sudah jelas adalah tokoh “Barbie” itu sendiri. Barbie, seperti yang kita ketahui, adalah sosok boneka perempuan yang berwujud—baik di mata kaum Adam ataupun Hawa—sangat sempurna. Mulai dari rambut sampai ke ujung kaki Barbie merupakan sosok dambaan semua lelaki dan terkadang membuat iri kaum perempuan. Dalam cerita pendek ini Barbie tersebut disihir oleh seorang pria agar menjadi seorang manusia biasa, dengan alasan si pria sudah sangat putus asa dengan sosok istrinya yang—untuk ukuran kebanyakan laki-laki—sangat tidak memuaskan. Kejadian ini banyak ditemukan dalam kehidupan nyata, dimana seorang perempuan diharuskan untuk memiliki tubuh sesensual boneka Barbie dan wajah seayu wajah boneka tersebut, baru mereka bisa memenuhi syarat untuk bisa memuaskan setiap laki-laki. Apabila mereka tidak memenuhi persyaratan itu, maka mereka kemungkinan besar akan ditinggalkan oleh para laki-laki yang—menurut cerita dalam cerpen ini—akan mencari perempuan lain dengan penampilan serba sempurna seperti Barbie. Akan tetapi, jika kita melihatnya dari sisi kaum perempuan sendiri, yang ada hanyalah penderitaan untuk memenuhi persyaratan “hidup” seperti itu, bagaimana kaum perempuan haruslah selalu menjadi sosok “dewi yang sempurna” untuk suami atau laki-laki yang mereka cintai. Seperti yang kita tahu, untuk memiliki kesempurnaan Barbie adalah sesuatu yang mustahil, karena si Barbie sendiri tidak akan pernah bertambah tua dan tak akan pernah berubah perawakannya menjadi keriput atau bergelambir. Jika melihat dari sudut pandang kaum feminis, hal ini akan menyebabkan kaum perempuan merasa terasing dari tubuh mereka sendiri, dimana seseorang seharusnya merasa bebas dengan keadaan dirinya, dengan usaha dari dirinya untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.
Hubungan antara si pria yang menjadi tokoh utama dalam cerita dan boneka Barbie-nya merupakan unsur penting berikut dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Si pria yang merubah Barbie menjadi seorang manusia pada akhirnya tidak hanya “menggunakan” si boneka untuk kepuasan dirinya sendiri. Pria itu mulai mencari keuntungan dengan membuka rumah pelacuran yang diberi nama “Bercinta dengan Barbie”, darimana judul cerpen itu diambil. Keelokan si Barbie yang “dijual” oleh pria itu menunjukkan pula bagaimana proses Kapitalisme sejalan dengan sistem Patriarki. Sekalipun para perempuan dalam cerpen ini, terutama istri si pria, membenci si Barbie, tetapi Barbie-Barbie yang “dijual” oleh si pria tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena bukan kesalahan mereka kalau mereka begitu elok. Justru dari cerpen ini kita bisa melihat bagaimana Barbie-Barbie itu hanya menjadi pion si pria dalam usahanya mencari keuntungan, selain keuntungan itu juga dapat dia nikmati sendiri. Ssitem Patriarki, yang selalu dapat dihubungkan dengan kaum laki-laki, disimbolkan oleh sosok si pria “penyihir” dalam cerpen ini. Sementara itu, seperti yang sudah diketahui, Barbie dalam kehidupan nyata sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak sistem Kapitalisme yang ada. Sosok Barbie yang begitu sempurna sebagai boneka dijual ke khalayak banyak, dan mereka yang yang menjualnya mendapatkan begitu banyak keuntungan dari orang-orang yang merasa terbius oleh keindahan boneka tersebut. Yang paling tidak mengenakkan dari boneka Barbie itu sendiri, bagi kaum perempuan, sudah tentu bentuknya yang begitu menawan. Setiap perempuan yang membandingkan dirinya dengan si boneka Barbie yang menjadi impian setiap laki-laki akan terus merasa tersisih. Cerpen ini menunjukkan bagaimana boneka-bobeka Barbie yang disihir menjadi manusia untuk “dijual” itu menjadi sumber kekacauan rumah tangga dan hubungan-hubungan antara manusia. Istri-istri yang ditinggal suaminya untuk bercinta dengan Barbie, dalam cerita ini, dikatakan menjadi kalap dan membunuhi Barbie-Barbie itu, karena suami-suami mereka sama sekali tidak mau menyentuh mereka lagi. Ini menunjukkan bagaimana standar diri untuk perempuan untuk para lelaki sangatlah tinggi, sementara saat mereka mati-matian berusaha di rumah untuk menarik perhatian para lelaki itu lagi, dengan enaknya suami-suami itu tetap mengunjungi rumah pelacuran Barbie. Sungguh terlihat ketidakadilan hubungan laki-laki dan perempuan dan cerita ini. Meskipun dalam cerpen tokoh si pria digambarkan bukan sebagai orang yang “rakus” dan bersedia menerima istrinya asalkan tubuhnya seindah dulu, tetap saja menunjukkan bahwa laki-laki menentukan segalanya, tidak peduli sesusah apapun para wanita mereka berusaha memenuhi standar mereka. Namun pada akhirnya, usaha mereka tetap saja tidak mendapat perhatian para suami itu kembali, karena mereka lebih tertarik pada sosok-sosok perempuan “Barbie”. Si pria sebagai simbol Patriarki dan si Barbie sebagai simbol Kapitalisme. Si pria tidak peduli seberapa banyak keluarga dan hubungan yang hancur karena pelacuran Barbie-nya selama dia mendapat untung, sekaligus sebagai penentu bagaimana seorang wanita seharusnya. Hal-hal seperti ini termasuk ke dalam persoalan yang ditentang oleh para feminis. Sosok indah perempuan dijual oleh mereka yang selalu mencari keuntungan, sementara mereka yang tidak termasuk kedalam kategori perempuan bersosok indah tersebut harus berusaha mati-matian untuk menetukan standar agar diakui oleh kaum pria.
Yang menjadi sorotan terakhir dalam penganalisaan cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini adalah tokoh sang istri dari si pria, atau juga yang mewakili semua perempuan dalam cerita. Diceritakan bahwa sang istri dan istri-istri yang suaminya berselingkuh dengan Barbie di tempat pelacuran itu membunuhi Barbie-Barbie yang menjelma menjadi manusia karena terbakar oleh rasa cemburu dan putus asa dengan usaha mereka untuk menjadi langsing atau cantik seperti sediakala. Namun begitu si pria mengalah dengan memberikan para wanita itu boneka Ken yang dirubah menjadi manusia, mereka menjadi puas. Memang para wanita itu dikatakan puas dengan memiliki Ken sebagai pengganti suami mereka yang berselingkuh dan juga tidak menarik bagi mereka, tapi ini tidak melepaskan mereka dari sistem Kapitalis yang diterapkan pada mereka. Dengan membayar Ken-Ken ciptaan si pria untuk dibawa ke ranjang, mereka tetap harus membayar untuk kepuasan semacam itu. Bisa jadi ini semacam pemberontakan terhadap kaum lelaki yang tetap tidak mempedulikan mereka, namun dalam cerpen diceritakan apabila para boneka Ken tersebut mulai berselingkuh dengn para boneka Barbie milik suami mereka. Pada akhirnya jadilah para wanita itu tetap mengeluh dan merasa kalau saja mereka bisa menjadi secantik Barbie, maka para Ken “bayaran” itu tidak akan berselingkuh dengan para Barbie. Kejadian dalam cerita ini jelas memperlihatkan bahwa apapun usaha yang dilakukan oleh para wanita itu, baik membunuh para Barbie, berusaha keras mengembalikan bentuk tubuh mereka, yang ada hanyalah kekosongan yang kembali mereka rasakan setelah kehilangan Ken-Ken mereka. Pada akhir cerita ini dikatakan apabila si pria mengembalikan semua boneka itu ke wujud asalnya, meskipun dia masih menyimpan Barbie untuk dirinya sendiri. Namun saat anaknya menangis mencari Barbie-nya yang hilang, dengan kejam dia mengganti istrinya ke wujud boneka dan memberikannya pada anaknya, yang langsung membuang muka melihat keburukan boneka baru tersebut. Si pria akhirnya membuang boneka si istri ke tempat sampah dan pergi bersama Barbie-nya. Cerita ini menunjukkan bagaimana dalam kehidupan nyata seorang istri yang sudah tidak bisa memuaskan suaminya bisa dibuang begitu saja dan diganti dengan perempuan yang baru. Sungguh tidak adil, karena si istri sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya dan hanya menerima saja ketika dirinya dibuang, persis seperti sesosok boneka yang tidak bisa berkata apa-apa ataupun memprotes saat dirinya dilempar ke tempat sampah, dibuang karena sudah tidak sempurna. Dari semua unsur yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Bercinta dengan
Barbie” ini samar-samar menunjukkan perjuangan kaum Hawa untuk mendapat penghargaan di
mata para lelaki. Meski di pertengahan sebagian dari kaum perempuan sempat melawan ketika
diperlakukan semena-mena, pada akhirnya mereka dibuang juga dalam bungkam seperti sebuah
boneka usang. Sebagian dari kaum perempuan itu, dalam kasus ini adalah Barbie yang diubah
menjadi manusia, juga menemukan pemberontakkan diri mereka saat diperjual-belikan kepada para
lelaki yang berpenampilan sama tidak memuaskannya seperti istri mereka, dan mereka
berselingkuh dengan para Ken yang sempurna. Namun pada akhirnya mereka semua dikembalikan
menjadi boneka yang tidak bisa memprotes, dan hanya satu yang masih bisa menjadi manusia,
yaitu Barbie milik si pria. Dengan kata lain, kalau saja Barbie itu bukanlah “milik” si pria, maka
kemungkinan dia tidak akan pernah menjadi “manusia”, dimana makin kuat pendapat mengenai si
pria sebagai simbol Patriarki yang mengatur segalanya dalam kehidupan kaum perempuan.
Posted at 03:32 pm by feminist05
Permalink
Hikayat Siti Rahima/ Zen Hae
Grahmyrda, Midterm Paper
Bercocok tanam, melakukan berbagai pekerjaan rumah, menikah dengan pria yang telah ditentukan oleh orang tua, melahirkan, dan mengurus anak merupakan suatu kodrat bagi wanita, yang diyakini oleh masyarakat Betawi tradisional pada umumnya. Hal-hal di atas lah yang harus dilakukan oleh seorang wanita Betawi agar ia dapat diterima di dalam masyarakatnya. Apabila seorang wanita dianggap melanggar kodratnya, maka wanita itu akan dikucilkan dan dipandang rendah oleh seluruh anggota masyarakat. Demikian pula dengan nasib seorang gadis Betawi bernama Siti Rahima dalam cerita pendek Hikayat Siti Rahima karya Zen Hae yang bertemakan tentang seorang wanita yang harus menempati posisi inferior dalam sebuah struktur masyarakat; baik dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya sebagai akibat dari sistem norma dan kebudayaan yang sudah mendarah daging, namun bagaimanapun seorang wanita tetap bisa bertahan.
Siti Rahima adalah seorang gadis betawi yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang dapat terlihat dengan jelas masih memegang teguh sistem patriarki di mana seorang pria memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dari wanita. Suatu ketika Siti Rahima menjalin cinta dengan seorang pemuda petugas pembangunan jalan lingkar. Namun pria yang dicintainya ini adalah seorang pendatang, bukan warga kampung dimana Siti Rahima tinggal, sehingga sang ayah melarang Siti Rahima berhubungan dengan pria itu. Dari hal ini dapat dilihat bahwa ada suatu kekuasaan lebih yang dimiliki sang ayah, sebagai seorang pria, untuk menentukan pasangan hidup bagi anak perempuannya; “lebih baik dengan orang kampung sendiri”(hal 69), kata sang ayah. Sistem yang dianut masyarakat ini menciptakan sebuah posisi inferior yang harus ditempati oleh wanita. Mengapa? Pertama-tama yaitu karena tidak ada kebebasan bagi seorang wanita untuk menentukan pasangan yang benar-benar ia cintai; kemudian seorang wanita dibatasi dan diatur untuk menikah hanya dengan pria dari ruang lingkup tertentu, yaitu yang berasal dari kampungnya sendiri. Dalam keluarga, yang merupakan pranata terkecil dalam masyarakat wanita sudah mengalami suatu alienasi terhadap dirinya, yaitu keterasingan atas kehendaknya sendiri. Siti Rahima sebagai wanita yang berada dalam komunitas masyarakat betawi tidak memiliki kehendak bebas, karena keputusan terhadap apa yang akan atau tidak akan ia lakukan tidak berdasarkan kehendaknya sendiri melainkan diatur oleh sang ayah (pria) yang mempunyai kekuasaan superior.
Suatu hari Siti Rahima mengandung, namun kekasihnya pergi entah kemana. Ayahnya begitu murka dan malu hingga mengutuknya, “ Perempuan laknat. Kau telah menodai keluarga dan kampungmu sendiri. Empat puluh rumah pun ikut menanggung dosamu”(hal 69). Sang ayah menamparnya. Lalu ia bersama dengan orang-orang kampung lainnya mengusir Siti Rahima dari kampung; sang ibu hanya bisa menangis. Dari hal ini sekali lagi kita bisa menemukan suatu hubungan kekuasaan hierarkis, yakni ada satu hal/manusia/kelompok tertentu yang merasa memiliki status lebih tinggi dari yang lain; dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pria yang memegang kekuasaan tertinggi. Sang Ayah memiliki hak untuk mengusir Rahima dari rumah karena adanya rasa malu yang muncul dari dalam diri sang ayah. Menurut kebudayaan dan norma agama yang dianut masyarakat betawi saat itu, yang mayoritas memeluk agama Islam, seorang gadis yang hamil di luar pernikahan merupakan suatu perbuatan yang sangat tercela, aib bagi keluarga bahkan menodai seluruh kampung, karena itu sang ayah yang hanya mementingkan reputasinya segera mengusir Rahima. Di lain pihak, sang ibu sebagai wanita dengan posisi inferior dalam masyarakat Betawi saat itu tidak berhak untuk melarang atau mencegah keputusan sang ayah untuk mengusir Rahima dari rumah, sehingga ia hanya bisa menangis karena tidak bisa melakukan apa-apa dan demikian pula dengan Rahima yang hanya bisa pasrah menerima nasibnya.
Ada masalah gender yang terungkap dalam hal ini, yaitu perbedaan antara sifat-sifat feminin dan maskulin. Menurut Betty Friedan,The Second Stage dalam Twentieth-Century Women Novelists (hal 37-38), sifat feminin dan maskulin memiliki dua cara berpikir yang berbeda, yaitu beta untuk feminin dan alpha untuk maskulin. Sang ibu diidentikan dengan cara berpikir beta yaitu synthesizing, intuitive, wanita dinilai lebih mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan. Apabila wanita memiliki kekuasaan yang lebih besar mungkin sang ibu tidak akan mengusir Rahima yang sedang mengandung; sedangkan ayah dengan cara berpikir alpha (analytical, rational,,,) langsung mengusir Rahima karena ia berpikir lebih kepada sebab-akibat yaitu rasa malu yang harus ditanggungnya ketimbang mengandalkan perasaannya terhadap Rahima sebagai anaknya yang sedang hamil. Ditambah lagi cara berpikir maskulin yang percaya akan adanya hubungan kekuasaan hierarkis dalam tubuh masyarakat Betawi saat itu sehingga pada akhirnya maskulinitas (ayah) menang, dan Siti Rahima harus pergi dari rumah.
Pada akhirnya Siti Rahima mati dibunuh oleh pria yang telah menghamilinya, namun arwahnya masih mendiami pohon asam di mana ia meninggal, sehingga kemudian sifat feminin Rahima disimbolisasikan ke dalam wujud pohon asam tersebut. Rahima sebagai wanita yang hanya bisa pasrah menerima nasib diperbandingkan dengan sifat pohon asam yang hanya bisa diam dengan akarnya yang menancap di tanah dan hanya bisa diam diperlakukan seperti apapun oleh alam maupun orang-orang di sekitarnya. Namun, Saat ada seorang bocah yang datang berteduh, sifat keibuan yang mencirikan sifat feminin muncul, yaitu sifat yang ingin senantiasa melindungi anaknya. “Tetapi kau, buah hatiku, tidurlah”(hal 71). Walaupun “tubuhku akan dingin, menggigil, meliuk”(hal 71) si pohon diberi sifat feminin yang terus berusaha meneduhkan anaknya meskipun si pohon sendiri harus menderita. Sifat keibuan ini sendiri sebenarnya merupakan suatu hasil dari pemikiran komunitas patriarki di mana ibu adalah orang utama yang harus selalu melindungi dan menjaga anaknya.
Pada suatu hari, akhirnya Pohon yang didiami Rahima akan segera ditebang. “Lalu chinsaw menderu. Gigi-gigi besi tajam berputar cepat. ,,, Gigi-gigi besi tajam itu mulai menyentuh dan merobek kulitku. Dagingku yang dulu. Merah. Perih.”(hal 72) Hierarchal relationships of authority kembali muncul. Kali ini chinsaw yang diberikan sifat maskulin yaitu kuat, berkuasa, dan kasar menempatkan posisi yang lebih berkuasa atas si pohon dengan sifat femininnya yang harus berada dalam posisi di bawah, yaitu sebagai yang tersakiti, terluka dan tak berdaya. Setting masyarakat tradisional Betawi serta modernitas yang mulai hadir dan mengancam kebudayaan tradisional (dapat dilihat di dua paragraf pertama, yaitu adanya pembangunan jalan lingkar luar) tersebut juga merupakan salah satu makna atau simbol yang dapat ditarik dari dalam cerpen ini. Pohon Rahima (wanita) yang tertindas menyimbolkan masyarakat tradisional yang mulai tersisihkan/tergusur oleh modernitas (misalnya chinsaw tadi sebagai simbol) sebagai pihak superior yang kuat dan berkuasa. Pohon Rahima (wanita) merupakan pihak yang tersingkirkan (ditebang) sama seperti masyarakat Betawi yang lemah dan mulai tergusur wilayahnya dengan adanya modernitas dan orang-orangnya yang “tamak dan angkuh” (hal 73) yang mulai mengambil lahan masyarakat Betawi untuk dijadikan “jejeran rumah mewah dengan jalan-jalan bercecabang,, di atas hamparan kebun sayur” (hal 73) milik masyarakat Betawi.
Namun, keesokan hari setelah Pohon Rahima ditebang, suatu keajaiban yang menggemparkan semua orang terjadi. Si pohon tumbuh kembali sama seperti keadaannya semula. Orang-orang begitu takjub hingga memagari pohon itu bahkan ada yang melemparkan uangnya sebagai tanda hormat atau simpati kepada si pohon. Ada sebuah kekuatan misterius dalam diri si pohon asam sehingga ia bisa tumbuh kembali seperti semula dan dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada hal serupa yang dimiliki oleh seorang wanita. Wanita memiliki sebuah kekuatan misterius; walaupun sudah disakiti, dilukai, dan ditindas, seorang wanita dapat dengan cepat membangun kekuatan baru sehingga ia dapat segera pulih dari lukanya. Walaupun wanita menempati posisi yang rendah dalam struktur masyarakat, pada dasarnya wanita memiliki suatu kekuatan misterius, yaitu ketegaran dan keteguhan hati sehingga dapat terus bertahan menjalani hidupnya seperti pohon dengan akar yang kuat, walaupun ditebang ia masih tetap bisa bertahan di tanah tempat ia berpijak.
Pada akhirnya memang akan selalu terulang kembali, orang datang untuk menebang si pohon asam. Namun, ketegaran dan keteguhan hati si pohon akan selalu tinggal di setiap hati manusia. Keteguhan hati seorang wanita bisa menjadi suatu sumber pengharapan dan sumber penghiburan bagi orang lain. Karena dengan melihat ke bawah, melihat nasib si pohon yang tegar walaupun tertindas, manusia dapat belajar bersyukur akan dirinya sendiri karena ada yang jauh lebih menderita dari dirinya namun masih bisa tetap tegar. Manusia memperoleh penghiburan dan penguatan dari ketegaran si pohon. Demikian pula dengan ketegaran seorang wanita, seorang kekasih, seorang ibu yang selalu tegar walaupun selalu direndahkan, dilecehkan, dan disakiti.
Dari cerpen Hikayat Siti Rahima dapat ditemukan suatu konsep yang ada dalam masyarakat, sistem patriarki yang membentuk konsep dalam pikiran seluruh anggota masyarakat kampung betawi di mana Siti Rahima tinggal, yaitu bahwa pria lebih berkuasa daripada wanita. Hal ini dengan jelas membuat para pria semakin merasa jauh lebih dominan, sedangkan wanita harus selalu mengalah dan menerima keadaannya yang inferior. Mengubah sistem yang sudah begitu mengakar di dalam tubuh masyarakat bukanlah hal yang mudah, bahkan kemungkinannya bisa dikatakan sangat kecil. Namun dari cerpen ini kita bisa melihat kenyataan bahwa wanita memang seringkali direndahkan dan ditindas akan tetapi ada suatu kekuatan yang dimiliki wanita dalam menghadapinya, wanita pasti bisa bertahan seperti Pohon Siti Rahima yang tetap berjuang untuk tumbuh kembali dengan kokoh di tengah lingkungan yang selalu berusaha menghancurkannya. Pembelajaran yang dapat diserap dari cerpen karya Zen Hae ini ialah bahwa selalu ditindas bukan berarti suatu kekalahan. Adanya keteguhan hati dan ketegaran dalam perjuangan untuk terus bertahan dalam menghadapi kenyataan lah yang justru menunjukan kekuatan seorang wanita atas sebuah sistem masyarakat, patriarki.
Posted at 02:48 pm by feminist05
Permalink
Diaznarrendra P/ Midterm Paper
Sickened adalah memoar dari Julie Gregory yang tumbuh dalam ketakutan dan kengerian akan penyiksaan yang didapat dari ibunya yang mengidap semacam kelainan jiwa, Munchausen by proxy, suatu sindrom yang membuat pengidapnya melebih-lebihkan penyakit atau keadaan kondisi tubuh orang lain. Dengan segala cara, pengidap sindrom ini akan berusaha membuat korbannya sakit atau terlihat sakit untuk memperoleh simpati dan perhatian orang lain. Ibu Julie membawa Julie berobat ke berbagai dokter seakan-akan Julie sakit parah, membuatnya mengikuti berbagai proses medis dari tes biasa sampai operasi. Padahal Julie tidak mengidap sesuatu yang serius.
Penyiksaan yang dialami Julie dimulai bahkan sejak sebelum dia dilahirkan. Ibunya sengaja membuat dirinya sendiri kelaparan ketika mengandung Julie sehingga membuat Julie ikut kelaparan, lahir prematur dan tumbuh sebagai anak yang rapuh.
Perlakuan buruk terhadap Julie juga datang dari ayahnya yang gemar mengoleksi senjata api dan biasa bersikap acuh terhadap anak-anaknya. Meski bukan kontributor penyiksaan utama, pernah suatu ketika Julie kecil dijejali dengan tisu bekas karena dianggap mencecerkan tisu bekas didalam rumah. Ayah Julie sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya terhadap Julie waktu itu, sebaliknya, dia merasa apa yang telah dilakukannya adalah benar.
Keadaan keluarga Julie benar-benar menunjukkan suatu hubungan keluarga yang aneh, penuh histeria, terutama dari ibu Julie yang haus akan perhatian dan simpati. Kondisi ibu Julie yang selalu menginginkan perhatian tampaknya banyak dipengaruhi oleh hubungannya dengan ibunya sendiri, alias nenek dari Julie yang terkadang memperlakukan Julie dengan cara yang mirip dengan ibu Julie. Terlebih lagi, ayah Julie yang nyaris tidak pernah menunjukkan perannya sebagai ayah dan hanya muncul apabila dukungannya sebagai “ayah yang baik” diperlukan di rumah sakit.
Julie sendiri tidak pernah berani mempertanyakan apa yang dialaminya langsung kepada ibunya. Dia menganggap apa yang dilakukan ibunya adalah benar dan hanya berharap ibunya bahagia. Baru pada saat Julie dewasalah dia baru mengenal Munchausen by proxy yang kini dia yakini diidap oleh ibunya.
Sindrom Munchausen by proxy
Sindrom Munchausen by proxy adalah suatu sindrom turunan dari sindrom Munchausen (dewasa). Penderita sindrom Munchausen selalu merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya, melebih-lebihkan penyakit atau keadaan kondisi tubuh dirinya, dan tak jarang berusaha membuat dirinya benar-benar sakit. Hal ini dilakukan si penderita untuk meraih simpati dan perhatian orang lain. Banyak ahli kejiwaan yang berpendapat bahwa kelainan jiwa ini muncul karena keinginan si penderita agar mendapat simpati dan perhatian yang kemungkinan besar jarang atau tidak pernah didapat olehnya.
Motivasi yang mirip juga bisa dilihat pada penderita Munchausen by proxy, hanya saja yang menjadi sasaran bukan dirinya sendiri melainkan orang lain, biasanya anak sendiri dan lebih sering terjadi pada anak perempuan. Tidak seperti sindrom Munchausen yang bisa diidap oleh siapa saja, sindrom Munchausen by proxy umumnya diidap oleh ibu si korban.
Menurut Louisa J. Lasher, M.A., seorang peneliti sindrom Munchausen by proxy dari Amerika, penderita sindrom ini tidak hanya sering melebih-lebihkan, tapi juga pembohong ulung dan pandai mengarang cerita. Semakin dicurigai maka perlakuannya terhadap korban bisa semakin mengerikan. Hal ini bisa dilihat pada karakter ibu Julie dalam buku Sickened.
Selain itu, juga muncul sebuah pertanyaan; Mengapa penderita maupun korban dari sindrom ini kebanyakan perempuan? Hal ini bisa disebabkan oleh kedekatan kondisi fisik dan kejiwaan ayah dan anak laki-laki. Posisi ayah yang melarang anak laki-laki untuk terus menempel pada ibunya dan mendorong sang anak untuk bersikap maskulin membuat diri si anak laki-laki menjadi lebih mandiri dan semakin mendekati sifat sang ayah. Hal ini yang menyebabkan korban penyiksaan penderita sindrom Munchausen by proxy lebih jarang diderita anak laki-laki yang tidak memiliki kesempatan berlama-lama dengan sang ibu. Sementara anak perempuan yang umumnya cenderung menjadikan ibunya sebagai acuan dan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya mempunyai resiko menjadi korban lebih banyak. Ini juga bisa menjelaskan kenapa penderita sindrom ini kebanyakan adalah sang ibu, karena kemungkinan si pengidap sindrom ini mengalami hal yang sama ketika dia kecil sehingga mendorongnya berlaku serupa setelah dia dewasa.
Jika dikaitkan dengan masa Oedipal dan Pra-Oedipal pada anak, maka tentu saja sindrom ini bisa berpengaruh buruk pada perkembangan ego dan super ego si anak. Hal ini disebabkan, seperti yang bisa dilihat pada kasus Julie, oleh cacat atau hilangnya fungsi dari ayah atau ibu. Pada anak perempuan seperti Julie yang akan beralih kepada ibunya sebagai acuan, sikap ibu yang berlebihan ini bisa mendorong tumbuhnya perasaan bersalah ataupun trauma yang berlebihan karena mengira dirinya sebagai sumber penderitaan ibunya. Penderitaan fisik yang dialami Julie juga bisa berkembang menjadi keterasingan dirinya pada tubuhnya sendiri yang bisa terus terbawa hingga dia dewasa. Singkatnya, kehadiran ayah sebagai penyeimbang terasa sangat kurang bagi Julie, sehingga dia lebih banyak beralih ke ibunya, padahal sang ibu sendiri memiliki gangguan jiwa yang cukup berbahaya.
Jika dilihat dari sudut pandang feminisme, secara umum fenomena ini jelas merupakan ancaman, mengingat jumlah korbannya sebagian besar adalah perempuan. Oleh karena itu, wajar bila banyak gerakan pencegahan sindrom Munchausen by proxy serta gerakan moral mendukung korban-korban penyiksaan yang dilakukan oleh penderita sindrom ini yang banyak diusung oleh feminis manca negara, khususnya Amerika yang terdapat banyak laporan kasus mengenai sindrom ini. Ahli-ahli kedokteran dan kejiwaan yang semula menganggap remeh fenomena ini juga mulai mengambil langkah serius dalam melakukan penanggulangan. Gerakan semacam ini mulai populer pada awal tahun 90’an, padahal sindrom Munchausen by proxy mempunyai riwayat yang lebih panjang.
Posted at 02:41 pm by feminist05
Permalink
Kebencian Maha Terhadap Lintah: Si Buruk Rupa dan si Buruk Hati
Luh Aditi Sandra Kirana
Midterm Paper
“Satu, satu aku sayang ibu, dua dua juga sayang ayah, tiga tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanya…” Lagu mengenai sayang semua anggota keluarga itu memang sudah mendarah daging di kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia. Hampir semua orang tua mengajarkan lagu itu kepada anaknya yang masih balita agar anak bisa menyayangi semua anggota keluarga yang ia miliki seperti lagu tersebut. Tetapi, lain halnya jika Si Anak adalah anak tunggal, hanya memiliki ibu, dan ayahnya sudah lama meninggal dunia. Mendapatkan kasih sayang ibu sudah pasti merupakan suatu hal yang sangat berharga dan sangat Ia harapkan di dunia ini daripada materi-materi yang mewah tetapi tidak membawa kebahagiaan. Lebih-lebih jika sang Ibu telah mempunyai teman pria calon pengganti ayahnya yang membuat kasih sayang sang Ibu lebih besar kepadanya daripada kasih sayang si Ibu untuk anaknya. Keadaan ini memanglah tidak nyaman bagi hampir semua anak kecil. Rasa cemburu dan benci pasti menghampiri diri sang Anak. Dalam cerita “Lintah” dalam kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu: Mereka Bilang, Saya Monyet!, mendeskripsikan sisi psikologis Maha, anak yang merasa terisih oleh tingkah ibu dan pacarnya di dalam kehidupan sehari- harinya yang juga didukung oleh beberapa elemen di dalam cerpen ini seperti simbol dan juga bahasa kiasan.
Dalam kehidupan sehari- hari bersama ibunya dan juga Lintah, Maha telah mengalami tekanan secara psikologis. Maha adalah salah satu contoh anak yang masih membutuhkan figur ibu sebagai love object-nya dan belum bisa menemukan sosok ayah di dalam diri Lintah. Keadaan seperti ini sama seperti fase "Pre-Oedipal" dalam teori psikoanalisis Freud yang mengatakan “the girl’s recognition of her own and her mother’s inferior, castrated status provokes a rejection of the mother as love object and the transference of desire to the father” (Twentieth-Century Women Novelists, hal.78). Dalam kutipan ini, kita mengetahui bahwa anak perempuan nantinya akan memindahkan perasaannya ke sosok ayah. Tetapi, Maha belum bisa “melihat” keinferioritas ibunya yang terkastrasi dan “memindahkan” perasaannya ke sosok ayah, yang sebenarnya adalah Lintah. Oleh karena itu, perasaan cemburu timbul di dalam diri Maha karena ia melihat lintah sebagai rival-nya bukan sebagai sosok ayah. Hal ini dapat dilihat pada: “Dari hari ke hari kebencian saya memuncak. Sudah lebih enam bulan lintah itu tinggal bersama kami. Dan tabiatnya bertambah hari semakin kurang ajar. Pada suatu hari saya mengadu kepada Ibu, bahwa saya sulit beristirahat karena lintah itu sering meniduri tempat tidur saya. Di luar dugaan, Ibu membela lintah ketimbang saya. Ia mengatakan bahwa saya melebih- lebihkan. Ibu tidak percaya semua pengaduan yang saya utarakan” (hal. 12). Dari kutipan paragraf tersebut sangatlah jelas bahwa Maha telah mengalami tekanan batin karena si ibu yang tadinya menyayangi dan disayangi Maha berubah perasaannya menjadi tidak percaya dan lebih mempercayai lintah ketimbang Maha. “Hubungan Ibu dan lintah semakin erat saja. Kalau dulu Ibu hanya akan mengeluarkan lintah dari rumahnya dan membawanya ke dalam kamar, sekarang Ibu membawanya kemana- mana” (hal. 13). Dari kalimat ini juga jelas bahwa Maha sangat cemburu atas kedekatan Ibu dengan lintah. Lintah sering dibawa Ibu kemana- mana sedangkan Maha tidak diperlakukan seperti lintah. Kutipan itu juga bisa menggambarkan hubungan Ibu Maha terhadap lintah yang tadinya ditutup- tutupi berubah menjadi hubungan yang serius dimana Ibu Maha tidak lagi malu untuk membawanya ke depan umum seolah ingin menunjukkan bahwa Lintah adalah pendampingnya. Jadi sudah jelas bahwa Ibu Maha terlihat sudah “mantap” berhubungan dengan Lintah dan yakin bahwa Lintah adalah pasangannya. Selain rasa cemburu yang dialami Maha, lama- kelamaan Maha pun turut membenci ibunya sendiri. “Kalau dulu saya sering merindukan kehadiran Ibu, sekarang saya sangat mengharapkan Ibu tidak pernah kembali” (hal. 14). Kutipan ini sudah jelas menggambarkan perasaan Maha yang benci kepada ibunya karena ibunya lebih menyayangi dan membela Lintah.
Selain perasaan benci karena tingkah Ibu yang selalu menyayangi lintah daripada Maha, jiwa dan raga Maha pun terluka oleh lintah yang telah melakukan pelecehan seksual dan juga memperkosa Maha. “Beberapa kali berhasil membelah diri tanpa sepengetahuan ibu, lintah makin menjadi- jadi. Ia lalu membelah dirinya menjadi tiga, empat bahkan lima. Ia menyelinap ke bawah baju saya. Yang satu menyelinap ke pinggang saya. Yang satunya lagi ke perut saya. Dan mereka berputar- putar sesuka hati dan menjelajahi tubuh saya sambil menghisap darah saya” (hal. 15). Selain tubuh Maha yang telah diraba- raba oleh Lintah, darahnya pun juga dihisap oleh Lintah.. Penghisapan darah Maha oleh Lintah bisa juga menyimbolkan adanya suatu pengambilan “kehidupan” Maha secara paksa oleh Lintah karena Lintah adalah pemakan darah. Darah adalah cairan yang sangat diperlukan oleh tubuh kita, yang bisa mengalirkan sari- sari makanan ke bagian tubuh yang lain. Maka jika kita kekurangan darah, kita akan mati. Perlakuan Lintah yang menghisap darah Maha bisa jadi sebuah tindakan yang tujuannya adalah mengurangi darah di dalam tubuh Maha supaya Maha sakit, sekarat, atau bisa saja meninggal. Penghisapan darah Maha oleh Lintah bisa juga sebagai suatu metafor bahwa Lintah sedang mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi Maha, bisa berupa harta atau bahkan kasih sayang ibu Maha. Selain telah terluka batinnya, Maha pun terluka raganya. “Sesekali saya rasakan perih saat setitik peluh jatuh tepat pada luka- luka bekas gigitan lintah” (hal.16). Dari kutipan ini, jelas juga bahwa luka bekas gigitan Lintah membawa keperihan dalam bentuk luka yang sesungguhnya dan juga trauma di dalam diri Maha. Perih karena lukanya yang belum terobati terkena keringatnya dan perih karena trauma tubuhnya telah disentuh dan dihisap darahnya oleh Lintah. Tidak hanya perih karena gigitan lintah saja, kesakitan raga Maha terjadi lagi pada saat lintah memperkosa Maha. “Tanpa dapat saya hindari lintah itu sudah berdiri tepat di depan saya. Lintah itu sudah berubah menjadi ular kobra yang siap mematuk mangsanya.. Jiwa saya gemetar. Raga saya lumpuh. Ular itu menyergap, melucuti pakaian saya, menjalari satu per satu lekuk tubuh saya. Melumat tubuh saya yang belum berbulu dan bersusu” (hal. 17). Dari kutipan paragraf tersebut, kita dapat melihat adanya dominasi laki- laki atas perempuan di dalam suatu hubungan seksual yang dilakukan lintah kepada Maha. Disini, laki- laki adalah makhluk yang “seolah” memegang peranan penting dan dilukiskan sebagai sosok yang sangat berkuasa karena ia memiliki penis yang tidak dimiliki oleh kaum perempuan. Lintah yang telah berubah menjadi ular adalah sosok laki- laki yang sangat berkuasa yang dapat melakukan pelecehan seksual dan memperkosa Maha, yang juga merupakan sifat dasar seorang wanita di dalam suatu hubungan seksual yang hanya pasrah atau pasif, tidak berdaya, dan tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Selain itu, bahwa pemerkosaan yang dilakukan Lintah bisa membuktikan bahwa Lintah mengalami gejala “phaedophile”, senang melakukan seks terhadap anak- anak . “Melumat tubuh saya yang belum berbulu dan bersusu” (hal.17) menjelaskan bahwa Maha masih anak- anak karena memiliki ciri fisik yang belum tumbuh bulu- bulu di tubuhnya dan payudara yang masih belum membesar.
Jika perasaan cemburu Maha terhadap ibunya telah berubah menjadi benci, maka perasaan Maha terhadap lintah adalah sebuah simbol yang Maha berikan untuk mendeskripsikan fisik, sifat, dan juga penis laki- laki yang sedang dekat dengan ibunya itu. Pertama- tama, lintah tersebut dapat menyimbolkan fisik seorang laki- laki. Pria tersebut bagi Maha adalah pria yang sama sosoknya dengan seekor lintah, tubuhnya berwarna hitam, kecil, dan tidak ada “lucu-lucu”-nya sama sekali. Yang kedua, sang tokoh, Maha menganalogikan sifat lintah seperti sifat laki- laki yang menjijikan yang telah menjadi pacar ibunya. Seperti yang kita ketahui lintah adalah sebuah binatang yang parasit. Jika ia menempel pada kulit manusia, ia akan menghisap darah manusia tersebut sampai ia puas dan akan sulit untuk dilepaskan dan diambil dari kulit kita. Sama halnya dengan sifat pacar Ibu Maha yang tidak pernah puas atas apa yang telah ia miliki: rumah pribadi, Maha, dan Ibu Maha. “Lintah tidak pernah puas atas apa yang dimilikinya. Begitu juga dengan rumah pribadi istimewa. …, sering saya temui lintah duduk di sofa ruang tamu kami….Bahkan ia sering kedapatan sedang tertidur pulas di atas tempat tidur saya” (hal. 11-12). Ketidakpuasan lintah menggambarkan sifat pria materialistis yang senang mengambil keuntungan dari orang lain sampai ia benar- benar mendapatkan apa yang ia mau.
Selain fisik dan sifat pacar ibu Maha yang sama seperi lintah, saya melihat adanya imaji yang disimbolkan, yaitu lintah yang menyimbolkan penis laki- laki yang pastinya menyimbolkan kekuatan, maskulinitas, dan kekuasaan. “Dan saya kaget melihat seekor ular yang merah menyala. Lidahnya menjulur keluar dan liurnya menetes ke bawah. Namun Ibu dengan rakusnya menelan habis liur ular besar itu tanpa menyisakan satu tetes pun! Yang lebih mencengangkan lagi, ular itu berangsur- angsur mengecil. Ular itu adalah lintah” (hal. 16-17). Di dalam konteks ini, saya melihat bahwa lintah itu adalah simbol dari penis laki- laki. Dimana jika lintah sedang berhubungan seksual dengan ibu Maha atau pada saat ia akan memperkosa Maha, si Lintah pun akan berubah menjadi ular kobra yang sangat besar dan buas. Sama sifatnya dengan sebuah penis. Jika di dalam keadaan “normal”, ia hanyalah seekor lintah. Tetapi disaat akan melakukan hubungan seksual atau keadaan yang bisa dikatakan begitu menggairahkan, si penis ini akan berubah panjangnya yang tadinya kecil menjadi besar, kencang, dan “buas” sama seperti ular kobra yang panjang dan sangat buas. Masih di dalam konteks ini, di dalam paragraf tersebut juga dikatakan bahwa si ular meneteskan air liurnya dan Ibu Maha menelas habis dengan rakusnya. Saya melihat bahwa bisa atau air liur ular tersebut adalah sperma yang dikeluarkan oleh penis pada saat orgasme. Dan tingkah ibu yang menelan habis air liur itu sebenarnya adalah tingkah ibu saat ia sedang terangsang sehingga menelan sperma pria tersebut (sama seperti aksi perempuan yang pernah ada di film porno yang diputar di kelas kritik feminis pada hari Senin, 18 Juli 2005). Dari situ juga dapat kita lihat kalau si Ibu seperti takluk terhadap supremasi “phallus”. Persamaan antara penis dan lintah masih dapat kita lihat pada saat setelah air liur keluar dari ular tersebut, tubuh ular pun berangsur- angsur menjadi kecil. Sama juga halnya dengan penis. Jika sperma telah keluar dari penis, maka si penis pun lama- kelamaan akan mengecil bentuknya. Jadi jelaslah mengapa si ular yang tadinya begitu besar dan setelah mengeluarkan air liurnya bisa berubah menjadi lintah, atau tidak berkuasa lagi. Setelah lintah bisa menyimbolkan penis, maka penis itu pun bisa menyimbolkan kekuatan dan juga kekuasaan yang dimiliki seorang laki- laki. Di dalam cerita ini, Ibu Maha sepertinya sudah tidak memperdulikan Maha lagi. Ia hanya peduli kepada Lintah. Bisa dikatakan bahwa ibu Maha adalah representasi dari perempuan yang “penis envy”, yang benar- benar membutuhkan kasih sayang seorang pria karena lintah mempunyai penis atau lintah mempunyai kuasa atas ibu Maha, oleh karena itu, Ibu Maha pun akhirnya lebih menginginkan lintah daripada Maha karena Maha tidak bisa memberikan kebahagiaan secara seksual.
Penggunaan majas personifikasi di akhir cerita “Lintah” oleh sang penulis, Djenar Maesa Ayu, cukup efektif untuk menggambarkan sisi psikologis hati Maha. “Mata saya membeliak lebar. Suara petir tidak lagi terdengar… Angin membuka tirai jendela. Sekejap cahaya menerangi pengharapan jiwa. Angin mereda. Tirai kembali tertutup. Menhadirkan gelap, menghadirkan sunyi..” (hal 17-18). “Hujan deras. Suara petir bertalu- talu” (hal.17) bisa menggambarkan suasana hati Maha yang sedang kacau karena ia menyimpan cerita yang ingin ia sampaikan kepada ibunya mengenai tabiat buruk si Lintah. Kemudian, “…suara petir tidak lagi terdengar.” (hal.17) menjelaskan hati Maha yang sudah lumayan tenang yang sama seperti suasana senja yang tenang tanpa bunyi petir karena Ibu Maha memberitahu kalau ia sudah mengandung dan akan menikah, mempunyai calon pengganti ayah Maha. “Angin membuka tirai jendela. Sekejap cahaya menerangi pengharapan jiwa” (hal.18) bisa menyimbolkan hati Maha yang menunjukkan adanya pengharapan karena beberapa saat lagi Ibu Maha akan memberitahu siapa calon pengganti ayah Maha. Yang terakhir, “Angin mereda. Tirai kembali tertutup. Menghadirkan gelap, menghadirkan sunyi…” (hal. 18) adalah penggambaran jiwa Maha yang berubah menjadi kelabu, gelap, dan sunyi saat tahu bahwa calon pengganti ayahnya adalah Lintah.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari cerita “Lintah” adalah mengenai perasaan seorang anak secara psikologis yang merasa kurang perhatian dari ibunya semenjak sang Ibu mempunyai kekasih pengganti ayahnya. Dari cerpen ini pula, kita dapat melihat adanya kecemburuan Maha terhadap lintah karena lintah telah merebut perhatian ibunya yang secara jelas mencontohkan teori Freud mengenai gejala pre- Oedipal yang biasa dialami oleh anak laki- laki maupun perempuan. Pengunaan istilah ‘lintah’ di di dalam cerpen ini juga sangat membantu untuk melukiskan perasaan Maha (menurut sudut pandang Maha) terhadap pria tersebut. “Lintah” yang bisa menyimbilkan fisik, sifat, dan asosiasi dari penis laki- laki pacar ibunya tersebut. Yang terakhir, pengunaan bahasa kiasan yaitu personifikasi juga dapat mendukung perasaan hati Maha yang dilukiskan dengan keadaan cuaca, yaitu petir, cahaya, dan tirai tertutup yang menghadirkan gelap.
Posted at 02:32 pm by feminist05
Permalink
Aug 16, 2005
We are 3rd-year students of the English Department, University of Indonesia. This blog is specially made for the class of Feminist Literary Criticism 2005. Here you will find our writings about English/Indonesian literature as well as films using the feminist perspectives.
You are welcome to read our views and share your opinion! 
Posted at 07:21 pm by feminist05
Permalink
|
 |
|
|
|
|