|
MARI MENJILATI DARAH! NOSA NORMANDA “Darah adalah hidup.” Ia adalah cairan yang mengalir membawa oksigen, membuat manusia hidup dan dapat bernafas. Darah adalah cairan utama yang mengisi seluruh pembuluh nadi manusia; ia mengalir di dalam setiap pembuluh yang memungkinkan manusia melakukan semua tindakan, gerakan, pikiran. Tapi di sisi lain darah dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Darah keluar ketika manusia luka, darah menutup luka yang menganga seperti pipa bocor yang memuncratkan air yang mengalirinya. Darah mengingatkan manusia akan mati; akan akhir. Banyak darah-darah yang lain yang sudah menjadi bagian percakapan sehari-hari. Darah putih dan merah dalam kedokteran, darah biru dalam status kebangsawanan, darah haid dalam kekotoran perempuan. Darah kotor. Darah yang terakhir inilah yang coba dituangkan Intan Paramaditha dalam cerpennya yang berjudul “Darah” dalam buku kumpulan cerpen “Sihir Perempuan.” Melalui cerpen tersebut, ia telah berhasil mengangkat tema menstruasi sebagai tekanan terhadap perempuan yang terdoktrinasi melalui sistem masyarakat, keluarga, dan agama, serta berusaha membuka mata perempuan tentang bagaimana menyikapi doktrin tersebut. Darah kotor. Begitulah umumnya orang menyebut darah haid. Ia bagai sebuah virus penyakit yang menular lewat cairan yang menguap lewat udara. Ia bagaikan “Momok. Monster.” [hal 114] Persepsi inilah yang didapat oleh Mara, Karakter utama cerpen “Darah”. Mara, adalah seorang wanita yang sudah cukup mendapat pendidikan soal menstruasi oleh ibunya. Ia mendapat pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menstruasi itu akan datang padanya suatu hari dan bagaimana cara mengatasinya. “Setiap perempuan akan mengalaminya, karena itu kau harus tahu cara memakai pembalut”, [hal 115] ajar ibunya ketika ia kecil. Tetapi secerdas apapun Mara mengatasi menstruasi, ia tetap tidak dapat menghilangkan perasaan aneh dan pemikiran kritisnya terhadap pandangan masyarakat terhadap perempuan sebagai makhluk yang mengalami menstruasi: pandangan yang mengatakan dan membentuk persepsi perempuan yang sedang menstruasi sebagai makhluk penuh dosa, sebagai makhluk yang “bisa menebar teror.” [hal 121] Salah satu perasaan anehnya muncul ketika menyikapi sikap lelaki terhadap menstruasi. Bagaimana kurangnya pengetahuan mereka tentang menstruasi dan bagaimana mereka memandang wanita. Tokoh laki-laki dalam cerpen tersebut hanya tiga orang. Ayah Mara, pacar pertama Mara, dan seorang Dokter. “Ketika aku bercerita tentang menstruasiku pada ayah, ia hanya berkomentar kikuk, “Oh, begitu”, lalu keesokan harinya, Ustadzah memberi ceramah…Ayahku pasti bercerita padanya. Pengkhianat.” [hal 117] Penggalan tadi dapat diinterpretasikan tentang kurangnya komunikasi antara sang ayah dengan anak perempuannya. Sang ayah selalu menggunakan perantara untuk menanggapi masalah anak perempuannya itu: ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk menanggapi isu-isu kewanitaan yang dihadapi anaknya. Selain tanggapan pria terhadap menstruasi di atas, cerpen tersebut juga membahas keperawanan, isu yang sangat mengikat perempuan karena menjadi acuan pria-pria dan masyarakat kebanyakan dalam menilai seorang wanita baik-baik atau tidak. Disini dapat dilihat bagaimana sistem patriarki yang ada mendefinisikan darah. Darah keperawanan sebagai kebanggaan dan darah haid sebagai anti-thesisnya. Darah keperawanan didefinisikan sebagai darah kesucian melakukan hubungan seks untuk pertama kali darah itu tidak ada, maka perempuan itu secara keseluruhan akan dianggap kotor. Dalam cerpen tersebut diberikan contoh tentang kehidupan para harem di Istanbul, ketika “setelah malam pertama, di jendela digantung seprai berbercak darah yang menandakan kebanggaan Sultan karena telah tidur dengan seorang gadis suci.” [hal 121] Konstruksi patriarkis di atas membentuk pola pikir Mara tentang keperawanan. Ia mengatakan, “Aku ingat ketika pertama kali tidur dengan kekasih pertamaku sebab berada di garis batas antara perawan dan pelacur”. [hal 121] Pacar pertama Mara menghardiknya ketika pada hubungan seks pertama ia tidak mengeluarkan darah. Di sini kita dapat melihat bagaimana pikiran pria terhadap perempuan yang dianggap tidak perawan. Kotor. Pelacur. Di sinilah tokoh Mara mendapatkan ide untuk balas dendam. Ia mengajak pacarnya bercinta di dalam mobilnya ketika ia sedang menstruasi, sehingga jok mobil menjadi bernodakan darah dan pacarnya jijik padanya. Tindakan tersebut menyimbolkan suatu pemberontakan terhadap konstruksi sosial yang ada. Satu tokoh lagi yang dianggap munafik didalam cerpen ini adalah dokter laki-laki yang dimintai saran tentang alat kontrasepsi oleh Mara. Ketika dokter itu bertanya apakah Mara sudah menikah, dan dijawab belum, ia malah menceramahi, bukannya memberi saran kedokteran seperti yang diharapkan seorang pasien dari dokternya. Menceramahi sambil memperhatikan payudara Mara. [hal 122-123] Betapa kemunafikan digambarkan dengan sangat ironis; bahwa anggapan orang terhadap perempuan yang melakukan hubungan seks tanpa menikah adalah suatu yang sangat hipokrit. Semua pemikiran Mara di atas berdasarkan pada nasihat-nasihat ibunya semasa hidup. Walau Mara hanya sebentar mengenal ibunya, nampak bahwa ia sangat terpengaruh dengan nasihat-nasihat ibunya. Dari cara mengatasi menstruasi, sampai keputusasaan ibunya dalam hidup yang disampaikan pada saat sekarat. Keputusasaan ibu Mara terlihat ketika ia menceritakan asal-usul garis guratan merah di pergelangan tangannya sebelum ia meninggal didalam mimpi Mara. “Garis itu adalah kematianku yang pertama. Aku tidak mati disini.” [hal 126] ujarnya. Selain itu, ibu Mara juga pernah mengatakan bahwa “surga dan neraka sama gelapnya dengan bayang-bayang.” [hal 117] Perkataan inilah yang membuat Mara menjadi cukup kritis terhadap ajaran agama yang diterimanya sewaktu kecil. Ia selalu menanyakan apa-apa yang dilarang Ustadzahnya. Mulai dari peringatan bahwa semenjak ia mens, dosa-dosanya dihitung; puasanya tak mungkin lengkap lagi; bagaimana ia harus bersikap didepan pria; dan bagaimana mensnya itu adalah sesuatu yang sangat kotor dan ia harus mencuci pembalut dan celana dalamnya sendiri. Banyaknya pertanyaan Mara kecil membuat Ustadzahnya bercerita tentang setan perempuan yang suka menjilati darah kotor. “Darah dan hantu…mereka selalu hadir bersama-sama dalam cerita.” [hal 119] maka di sinilah darah menurut Mara menjadi “Dosa. Tubuh kotor. Dosa kotor. Dosa tubuh.” [hal 119] Pada bagian diatas bisa kita lihat bagaimana cerpen tersebut mengkritik agama, khususnya agama Islam, dalam menempatkan perempuan. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 222 disebutkan: “Dan mereka bertanya padamu tentang haid. Katakanlah (hai Muhammad)! Dia itu suatu kotoran (yang menyakitkan), maka hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita-wanita diwaktu haid; janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci, maka tatkala mereka suci, maka datangilah (campurilah) mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak taubat dan menyukai orang-orang yang suci.” Dosa tubuh yang dimaksud di cerpen tersebut dapat di interpretasikan sebagai tubuh perempuan yang kotor, tidak suci, dan dibenci Tuhan pada saat haid. Perempuan dianggap secara otomatis “berdosa” atas siklus biologis yang dialaminya. Selain agama, mitos-mitos tentang setan perempuan sebagai suatu legenda juga muncul sebagai suatu tokoh sekaligus simbol. Banyak dari kita yang mengenal Kuntilanak sebagai setan perempuan yang suka pada darah. Diceritakan bahwa apabila Mara tidak bersih mencuci celana dalam dan pembalutnya, maka seorang setan perempuan akan datang dan menjilati darah di pembalutnya itu. [hal 118] Pada akhirnya Mara bertemu dengan setan itu, sedang menjilati pembalut di Toilet. Tetapi Mara tidak takut sama sekali ketika melihat perempuan berwajah pucat, dengan mata berlingkaran hitam itu menjilati darah di pembalut. Ia malah berfikir “…bibirmu merah basah, segar. Indah.” [hal 128] Dan ia menemukan bahwa setan itu menyukai darah karena “Darah adalah hidup.” [hal 126] Kita dapat menganggap tujuan dari kalimat “Darah adalah Hidup” dan tidak takutnya Mara kepada setan perempuan itu sebagai suatu keinginan agar perempuan menerima eksistensinya sebagai manusia yang mengalami menstruasi. Menerima dan mencintai darah itu selayaknya mencintai diri sendiri daripada menolaknya. Isu menstruasi sudah sering dibahas pada karya-karya sastra feminis. Salah satu contoh konkritnya adalah Vagina Monologue karya Eve Ensler. Dari temanya, dapat dilihat bahwa cerpen “Darah” memiliki tema dan pandangan yang hampir sama tentang menstruasi dan perempuan seperti beberapa bagian dalam Vagina Monologue. Walau begitu, Intan Paramaditha telah berhasil menggambarkan wanita feminis seperti Mara, sebagai wanita independen yang sudah bisa dibilang ‘bebas’ tetapi terperangkap dalam doktrinasi sosial yang didapatnya semenjak kecil. Secara keseluruhan dapat disimpulkan cerpen “Darah” adalah suatu persuasi terhadap kaum perempuan untuk dapat berdiri dan mencintai dirinya apa adanya: untuk berani menjadi kritis melawan segala sesuatu yang menekan dan menyiksanya baik itu sistem sosial atau agama. Mengajak perempuan untuk mencintai hidup. Mencintai darah. |
| Leave a Comment: |